:strip_icc()/kly-media-production/medias/5481679/original/085790000_1769142030-Tim_SAR_Basarnas_Banyuwangi.jpg)
Warga Dusun Pasasaran, Desa Guluk-Guluk, Kecamatan Guluk-Guluk, Sumenep, Madura, bernama Mat Tasan (55) dilaporkan hilang terseret arus Sungai Pasasaran pada Selasa pagi, 21 Januari 2025, saat hendak menyeberang menuju sawahnya. Peristiwa tragis ini menambah daftar panjang insiden kecelakaan di sungai yang kerap terjadi di wilayah pedesaan Jawa Timur, khususnya saat musim hujan tiba, menyoroti kerentanan masyarakat agraris terhadap ancaman alam yang minim mitigasi.
Mat Tasan, seorang petani, diduga terseret arus deras sungai sekitar pukul 06.00 WIB setelah debit air meningkat signifikan akibat hujan lebat yang mengguyur wilayah hulu sejak malam sebelumnya. Hingga saat ini, tim pencarian dan pertolongan gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep, TNI, Polri, dan relawan masih terus melakukan penyisiran di sepanjang aliran Sungai Pasasaran. Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Sumenep, Budi Cahyono, menyatakan bahwa operasi pencarian menghadapi kendala serius akibat kondisi arus sungai yang masih deras dan minimnya jarak pandang di beberapa titik. “Kami mengerahkan perahu karet dan personel untuk menyisir, namun debit air yang tinggi dan kondisi cuaca tidak menentu menjadi tantangan utama,” ujar Budi Cahyono dalam keterangan resminya.
Insiden serupa bukan kali pertama terjadi di Sumenep. Data dari BPBD Jawa Timur menunjukkan bahwa kecelakaan air, termasuk insiden orang terseret arus sungai, cenderung meningkat selama musim penghujan, terutama di daerah-daerah dengan topografi sungai yang curam dan infrastruktur penyeberangan yang terbatas. Pada tahun 2023 saja, tercatat puluhan kasus orang hanyut di berbagai sungai di Jawa Timur, dengan sebagian besar korban adalah warga yang beraktivitas di sekitar sungai atau menyeberang tanpa sarana yang memadai. Kondisi ini seringkali diperparah oleh kurangnya edukasi mengenai bahaya sungai saat debit air tinggi dan minimnya peringatan dini kepada masyarakat.
Ketergantungan petani pada akses langsung ke lahan pertanian mereka, seringkali melintasi sungai tanpa jembatan permanen atau penyeberangan yang aman, menjadi faktor risiko dominan. Dalam konteks Sumenep, yang sebagian besar wilayahnya merupakan lahan pertanian, banyak petani harus menyeberangi sungai kecil atau saluran irigasi dengan berjalan kaki atau menggunakan rakit sederhana. Praktik ini telah berlangsung turun-temurun, namun dengan perubahan iklim yang menyebabkan curah hujan ekstrem dan peningkatan intensitas banjir bandang, risiko keselamatan petani semakin meningkat. Pembangunan infrastruktur penyeberangan yang aman dan layak menjadi mendesak, bukan hanya sebagai respons pasca-kejadian, melainkan sebagai upaya preventif jangka panjang. Selain itu, program sosialisasi mitigasi bencana yang lebih masif dan terstruktur bagi masyarakat pedesaan, khususnya yang tinggal di dekat bantaran sungai, perlu diintensifkan. Ini termasuk edukasi mengenai tanda-tanda bahaya banjir, pentingnya tidak menyeberang saat arus deras, serta penyediaan jalur alternatif yang lebih aman. Tanpa intervensi komprehensif, kasus hilangnya nyawa Mat Tasan kemungkinan besar bukan yang terakhir di wilayah agraris Jawa Timur.