
Hujan deras yang mengguyur Kota Sibolga, Sumatera Utara, pada Jumat, 2 Januari 2026, memicu kembali luapan Sungai Aek Doras di Kelurahan Sibolga Julu dan Kelurahan Huta Tonga-Tonga, Kecamatan Sibolga Utara, mengakibatkan genangan setinggi sekitar 15 cm di beberapa permukiman warga. Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat, mengingat Sibolga telah berulang kali dilanda banjir dan longsor serius dalam beberapa bulan terakhir, termasuk pada akhir November dan awal Desember 2025.
Luapan Sungai Aek Doras ini bukan peristiwa tunggal. Sejak hujan mulai turun sekitar pukul 11.00 WIB hingga 15.50 WIB pada 2 Januari 2026, debit air sungai terus meningkat secara signifikan. Meskipun air baru sebatas mata kaki dan belum merendam rumah warga secara luas, genangan telah mencapai beberapa area seperti asrama polisi di Kelurahan Kota Beringin yang berada di dataran lebih rendah. Kasi Humas Polres Sibolga, AKP Suyatno, mengimbau warga untuk tetap waspada dan siap melakukan evakuasi jika kondisi memburuk.
Secara historis, Kota Sibolga memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana hidrometeorologi. Pada akhir November 2025, banjir dan longsor parah melanda Sibolga serta beberapa wilayah Tapanuli lainnya, dipicu oleh cuaca ekstrem yang dipengaruhi Siklon Tropis KOTO dan Bibit Siklon 95B, menurut laporan BMKG. Bencana tersebut merendam ribuan rumah, menyebabkan 55 korban meninggal dunia, dan 231 unit rumah rusak berat. Peristiwa pada Desember 2025 juga menunjukkan luapan Aek Doras mencapai ketinggian satu meter di beberapa lokasi, mengganggu aktivitas masyarakat dan menutup akses jalan.
Pendangkalan Sungai Aek Doras menjadi faktor krusial yang memperparah kondisi. Warga seperti Ipul dari Sibolga Julu mendesak agar normalisasi sungai segera dilakukan, menyoroti pendangkalan sebagai penyebab utama luapan air saat hujan deras. Pernyataan ini diamini oleh Wali Kota Sibolga Ahmad Syukri Nazry Penarik yang pada Desember 2025 meninjau lokasi dan menegaskan pengerukan sedimentasi harus terus dipercepat, bahkan meminta tambahan alat berat dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara untuk normalisasi. Hingga 28 Desember 2025, kegiatan normalisasi dengan enam unit ekskavator dan satu beko loader terus berlangsung di beberapa titik sepanjang Aek Doras untuk memperlancar aliran sungai menuju Pantai Ujung Sibolga.
Ancaman cuaca ekstrem masih berlanjut. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Abdul Muhari, pada Jumat, 2 Januari 2026, menjelaskan bahwa curah hujan tinggi di awal tahun ini masih berpotensi memicu banjir dan longsor susulan, terutama karena kondisi tanah yang sudah jenuh. BMKG juga memprediksi curah hujan tinggi di beberapa daerah Sumatera, termasuk Sibolga, di awal Januari. Prakiraan cuaca menunjukkan potensi hujan ringan hingga sedang di Sibolga dalam beberapa hari ke depan, dengan kemungkinan hujan petir pada 9 dan 10 Januari 2026.
Pemerintah Kota Sibolga telah memperpanjang masa tanggap darurat banjir dan longsor hingga 23 Desember 2025 pascabencana sebelumnya. Koordinasi lintas pihak, termasuk pengerahan alat berat untuk pengerukan sedimen, menjadi langkah mitigasi yang terus dilakukan. Selain itu, Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution melaporkan percepatan realisasi hunian tetap (huntap) bagi warga terdampak, dengan 648 unit huntap telah melakukan groundbreaking, termasuk 200 unit di Sibolga.
Dampak jangka panjang dari perubahan iklim juga semakin menjadi perhatian. Kepala Pusat Pengembangan Ilmu Lingkungan (PPLH) IPB University, Dr. Yudi Setiawan, menyoroti hilangnya tutupan lahan sebagai variabel krusial yang meningkatkan limpasan permukaan dan memicu banjir, berbeda dengan curah hujan atau karakteristik tanah yang sulit dikendalikan. Habitat for Humanity Indonesia juga telah menjabarkan rencana pemulihan jangka panjang, menargetkan bantuan perbaikan hunian dan peningkatan sanitasi bagi 1.000 keluarga, serta memastikan kelompok rentan mendapatkan akses bantuan yang aman dan inklusif. Ini menunjukkan kebutuhan akan pendekatan komprehensif, tidak hanya responsif terhadap kejadian, tetapi juga proaktif dalam mitigasi dan adaptasi terhadap risiko bencana hidrometeorologi yang semakin meningkat.