Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Perjuangan Maut Siswa Cisolok Sukabumi: Lintasi Jembatan Rusak Demi Pendidikan

2026-01-15 | 09:34 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-15T02:34:39Z
Ruang Iklan

Perjuangan Maut Siswa Cisolok Sukabumi: Lintasi Jembatan Rusak Demi Pendidikan

Puluhan siswa di Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, harus mempertaruhkan keselamatan mereka setiap hari dengan melintasi sisa-sisa jembatan gantung yang putus demi mencapai sekolah. Insiden yang terjadi pada Selasa dini hari, 13 Januari 2026, sekitar pukul 04.30 WIB ini diakibatkan oleh longsoran tanah setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Jembatan gantung sepanjang 25 meter dengan lebar 1,5 meter yang menghubungkan Desa Karangpapak dan Desa Cikelat, khususnya Kampung Padangenyang-Sukabakti, kini tidak lagi memiliki fondasi yang utuh, menyebabkan strukturnya miring drastis dan membahayakan setiap penyeberang.

Kondisi jembatan yang rusak parah ini menjadi dilema akut bagi sekitar 40 kepala keluarga di Kampung Sukabakti yang sangat bergantung pada akses tersebut. Jembatan ini bukan hanya jalur vital bagi aktivitas ekonomi dan pertanian warga, tetapi juga merupakan satu-satunya akses tercepat bagi anak-anak tingkat SD dan SMP untuk menuntut ilmu. Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Cisolok, Andri Firmansyah, menegaskan bahwa jembatan tersebut merupakan akses utama penghubung antar desa dan sangat krusial bagi pendidikan serta ekonomi warga.

Putusnya jembatan ini memaksa para pelajar untuk mencari jalur alternatif yang lebih jauh dan berisiko, atau menunda kehadiran di sekolah, menimbulkan kekhawatiran mendalam di kalangan orang tua dan masyarakat. Sebuah video yang viral memperlihatkan sejumlah pelajar berseragam berjalan perlahan sambil berpegangan erat pada kabel baja yang sudah kendur, dengan suara gemuruh air sungai di bawahnya menambah mencekam suasana penyeberangan. Andri Firmansyah mengimbau agar warga tidak memaksakan diri melintasi lokasi jembatan yang putus demi keselamatan, serta meminta orang tua mengawasi anak-anak mereka.

Insiden ini bukan kali pertama terjadi di Kabupaten Sukabumi. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi menunjukkan bahwa pada tahun 2016, sebanyak 69 unit jembatan mengalami kerusakan akibat bencana alam, dengan 62 unit rusak berat. Pada Desember 2024, sepuluh jembatan juga dilaporkan putus akibat banjir dan tanah longsor di berbagai wilayah Sukabumi, menyebabkan beberapa titik terisolasi. Bahkan, pada Maret 2025, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat enam jembatan rusak parah di Sukabumi, dengan tiga unit rusak sedang dan tiga unit rusak berat, serta 16 titik jembatan antardesa lainnya terdampak. Jembatan gantung Bangkewong di Surade juga terputus pada awal Desember 2024, memaksa 20 pelajar SMPN 8 Surade dan siswa SD menyeberangi sungai.

Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Sukabumi, meskipun telah melakukan upaya perbaikan infrastruktur di Cisolok dan daerah lain pascabanjir, termasuk jaringan irigasi, belum secara spesifik merinci penanganan jembatan gantung di Karangpapak-Cikelat. Pada Oktober 2025, Jembatan Panel Garuda di Cisolok yang menghubungkan empat desa, termasuk Cikelat, telah diresmikan sebagai akses vital ekonomi dan pendidikan, merupakan inisiatif Kementerian Pertahanan RI dan dibangun melalui gotong royong TNI serta warga. Namun, insiden terbaru di Padangenyang-Sukabakti menunjukkan bahwa tantangan infrastruktur jembatan yang aman masih menjadi isu krusial di Cisolok.

Keterbatasan anggaran menjadi salah satu faktor minimnya perbaikan jembatan secara permanen. Kepala Dinas PU Kabupaten Sukabumi Lukman Sudrajat pernah menyatakan bahwa pemkab pada tahun tertentu hanya dapat memperbaiki empat unit jembatan dari puluhan yang rusak karena keterbatasan dana. Kondisi ini menggarisbawahi perlunya prioritas kebijakan dan alokasi anggaran yang lebih signifikan untuk infrastruktur dasar, terutama yang menunjang akses pendidikan, guna mencegah terulangnya insiden yang membahayakan nyawa siswa. Perjuangan anak-anak Cisolok dalam mengejar pendidikan bukan sekadar narasi lokal, melainkan cerminan dari kerentanan infrastruktur di daerah terpencil yang menuntut respons terpadu dari pemerintah pusat dan daerah untuk menjamin keselamatan dan hak pendidikan warganya.