
Tim SAR gabungan, termasuk Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), memperpanjang operasi pencarian Fernando Martín Carreras, pelatih tim putri Valencia CF Femenino B, dan dua anak laki-lakinya yang belum ditemukan setelah kapal pinisi KM Putri Sakinah tenggelam di perairan Selat Pulau Padar, Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, pada Jumat malam, 26 Desember 2025. Perpanjangan operasi SAR selama tiga hari ke depan, efektif mulai 2 hingga 4 Januari 2026, diambil berdasarkan hasil evaluasi bersama seluruh unsur Tim SAR gabungan dan permintaan resmi dari Duta Besar Spanyol serta Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo.
Istri Fernando, Mar Martinez Ortuno, dan putri bungsu mereka, Ortuna Andrea (7), berhasil selamat dalam insiden nahas tersebut. Namun, Fernando Martín bersama tiga anaknya, Elia (12), Kike (10), dan Mateo (9), dilaporkan tidak dapat menyelamatkan diri setelah kapal dihantam gelombang tinggi. Satu jenazah anak Fernando Martín telah ditemukan pada 29 Desember 2025. Keluarga korban dari Spanyol, termasuk kakak dan paman istri korban, turut bergabung dengan Tim SAR gabungan di Labuan Bajo dan diajak melihat langsung titik tenggelamnya kapal untuk memahami kondisi arus dan gelombang yang berubah-ubah.
Kecelakaan kapal KM Putri Sakinah yang mengangkut total 11 orang, terdiri dari enam wisatawan asing (keluarga Fernando Martin), empat anak buah kapal (ABK), dan satu pemandu wisata, terjadi sekitar pukul 20.30 WITA. Kapal tersebut dilaporkan mengalami mati mesin di tengah laut dan dihantam gelombang tinggi lebih dari dua meter, menyebabkan kapal terbalik dan tenggelam. Kondisi malam hari, gelombang tinggi, arus kuat, dan hujan lebat menjadi hambatan utama dalam operasi pencarian.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Maumere, Fathur Rahman, selaku SAR Mission Coordinator (SMC), menyatakan bahwa meskipun menghadapi tantangan cuaca yang tidak bersahabat seperti arus bawah laut yang kuat, hujan lebat, dan gelombang tinggi yang membatasi jarak pandang penyelam, tim SAR gabungan tetap mengedepankan prosedur keselamatan yang ketat. Sebanyak 123 personel dari 15 unsur SAR, termasuk Basarnas, TNI Angkatan Laut, Polairud, KSOP Labuan Bajo, instansi pemerintah terkait, hingga komunitas penyelam profesional, dikerahkan dalam operasi ini. Peralatan canggih seperti sonar dan hidronav milik Polairud Polda NTT, serta drone bawah laut dan drone thermal, juga digunakan untuk membantu pencarian.
Menurut Peraturan Kepala Badan SAR Nasional, operasi SAR diselenggarakan paling lama tujuh hari, namun dapat diperpanjang berdasarkan evaluasi SMC atau bila ada permintaan dari pihak keluarga. Perpanjangan ini menunjukkan komitmen untuk menemukan korban, sejalan dengan permintaan istri Fernando Martín yang secara emosional memohon agar pencarian terus dilanjutkan. Tragedi ini bukan hanya menyoroti risiko perjalanan wisata bahari di wilayah dengan kondisi alam yang dinamis seperti Taman Nasional Komodo, tetapi juga menggarisbawahi pentingnya protokol keselamatan yang ketat dan respons SAR yang adaptif. Kehadiran dan keterlibatan langsung keluarga dalam proses pencarian juga menjadi faktor krusial, memberikan dimensi kemanusiaan yang mendalam pada upaya pencarian dan pertolongan. Tragedi ini berpotensi memicu evaluasi lebih lanjut terhadap standar keamanan kapal wisata dan kapasitas respons darurat di destinasi pariwisata super prioritas.