:strip_icc()/kly-media-production/medias/5469328/original/055210400_1768109815-210635.jpg)
Longsor kembali melanda ruas jalan provinsi vital yang menghubungkan Sukabumi dan Sagaranten, Jawa Barat, pada Minggu, 11 Januari 2026, ketika Tembok Penahan Tanah (TPT) "Jabar Istimewa" di Kampung Langkob, Desa Nyalindung, Kecamatan Nyalindung, ambrol setelah diguyur hujan deras berkepanjangan. Kejadian yang diperkirakan terjadi sekitar pukul 04.00 WIB atau 10.00 WIB ini menyebabkan gangguan serius pada akses transportasi dan memaksa penerapan sistem buka-tutup lalu lintas, memicu kekhawatiran mendalam di kalangan pengguna jalan serta menyoroti ketahanan infrastruktur di wilayah rawan bencana ini.
Ini bukan kali pertama TPT yang baru rampung dibangun pada pertengahan 2025 ini ambruk. Insiden serupa dilaporkan terjadi pada Desember 2025 di lokasi yang sama, menunjukkan adanya kerentanan struktural yang berulang dalam kurun waktu kurang dari enam bulan. Seorang warga setempat, Desi Atrya Sudrajat (22), mengungkapkan bahwa tanda-tanda longsor sudah terlihat beberapa hari sebelumnya akibat curah hujan yang tinggi. "Hujan dari kemarin Sabtu pagi, cuma pas Sabtu malam itu hujannya besar, sampai sekarang hujannya belum berhenti," ujarnya pada Minggu (11/1/2026). Kepala Desa Nyalindung, Asep Supriadi, menegaskan bahwa kondisi tanah di Langkob memang labil, dan beban air hujan tidak tertahan hingga menyebabkan TPT setinggi 30 meter dan sepanjang 10 meter itu ambruk. Material longsoran, yang diperkirakan sepanjang empat meter, menutup sebagian badan jalan, meski sebagian jalan coran yang tersisa masih memungkinkan kendaraan melintas secara bergantian.
Jalur Nyalindung-Sagaranten merupakan arteri utama yang menghubungkan wilayah utara dengan selatan Kabupaten Sukabumi, menjadikannya krusial bagi mobilitas masyarakat dan distribusi logistik. Terganggunya akses ini secara berulang tidak hanya memperlambat pergerakan ekonomi lokal tetapi juga menimbulkan risiko keselamatan yang signifikan bagi pengguna jalan. Lemi, seorang pengemudi roda empat, mengaku sangat khawatir saat melewati jalur tersebut. "Iya memang bisa dilalui tapi was-was juga, takutnya semakin melebar," ungkapnya. Kekhawatiran serupa disampaikan oleh Irsyad Jaelani, pengguna jalan lain, yang menilai potensi longsor susulan masih tinggi mengingat kondisi tanah yang labil dan curah hujan yang belum mereda.
Insiden berulang ambruknya TPT "Jabar Istimewa" ini memunculkan pertanyaan kritis mengenai kualitas konstruksi dan akurasi analisis geologis sebelum dan selama pembangunan. Meskipun TPT dibangun di bawah pengawasan UPTD Pengelolaan Jalan dan Jembatan Wilayah II Sukabumi, Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (BMPR) Jawa Barat, kejadian berulang ini mengindikasikan bahwa solusi yang diterapkan mungkin belum mengatasi akar permasalahan ketidakstabilan geologis di area tersebut. Pihak berwenang, termasuk Camat Nyalindung Antono, telah melakukan pengecekan di lokasi. Sementara itu, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) secara umum telah mengambil langkah tanggap darurat untuk bencana banjir dan longsor di Sukabumi, termasuk pengerahan alat berat dan pemasangan geobag di tebing kritis. Wakil Menteri PUPR Diana Kusumastuti sebelumnya pada Desember 2024 menekankan pentingnya pengerukan dan pemasangan geobag untuk mitigasi risiko.
Dalam jangka panjang, tanpa evaluasi komprehensif terhadap metode konstruksi dan analisis geologi yang lebih mendalam, siklus kerusakan dan perbaikan darurat di jalur Nyalindung-Sagaranten berpotensi terus terulang. Masyarakat setempat dan Kepala Desa Nyalindung, Asep Supriadi, berharap adanya solusi permanen dari Dinas BMPR Jawa Barat, bukan sekadar perbaikan darurat, untuk mengamankan "urat nadi ekonomi" wilayah Sukabumi Selatan ini. Peningkatan kewaspadaan bagi pengendara, terutama saat malam hari dan hujan deras, menjadi imbauan mendesak dari berbagai pihak terkait, mengingat lokasi longsor yang berada di atas jurang dalam dan potensi bahaya susulan.