:strip_icc()/kly-media-production/medias/5472154/original/034229000_1768323799-banjir_ntb.jpg)
Hujan berintensitas tinggi disertai angin kencang menerjang empat kabupaten di Nusa Tenggara Barat pada Selasa, 13 Januari 2026, menyebabkan satu orang meninggal dunia dan ratusan rumah warga porak-poranda. Bencana hidrometeorologi ini melanda Kabupaten Lombok Tengah, Lombok Barat, Dompu, dan Bima, menimbulkan kerugian material signifikan serta gangguan pada aktivitas masyarakat.
Kepala Pelaksana BPBD NTB, Sadimin, mengkonfirmasi bahwa banjir melanda Desa Montong Ajang dan Desa Kabul di Kecamatan Praya Barat Daya, Lombok Tengah, sekitar pukul 19.30 WITA akibat curah hujan yang berkepanjangan. Di Kabupaten Lombok Barat, banjir yang terjadi antara pukul 15.00 hingga 19.00 WITA merendam Desa Persiapan Pengantap dan Desa Persiapan Blongas di Kecamatan Sekotong. Sebanyak 570 kepala keluarga atau 1.711 jiwa di Desa Persiapan Pengantap terdampak, sementara seorang warga berusia 69 tahun bernama Nurinah di Desa Persiapan Blongas dilaporkan meninggal dunia akibat bencana ini. Video yang beredar menunjukkan derasnya arus banjir di Sekotong bahkan menyeret sapi dan bangunan rumah kayu milik warga.
Selain banjir, angin kencang turut memperparah dampak di beberapa wilayah. Di Kabupaten Dompu, angin kencang pada pukul 10.30 WITA di Desa Lasi, Kecamatan Kilo, merusak satu unit rumah milik Anggraini, satu lapak milik Fitri Mairos rusak berat, dua ekor kambing milik Suhardin Musa mati, dan satu sepeda motor milik Kamiruddin mengalami kerusakan parah. Kabupaten Bima juga dihantam angin kencang antara pukul 10.00 hingga 11.20 WITA di delapan desa yang tersebar di Kecamatan Wera, Ambalawi, dan Tambora. Enam kepala keluarga di Desa Tawali mengalami kerusakan pada enam unit rumah, dengan tiga di antaranya rusak berat. Satu unit rumah di Desa Sangiang juga rusak berat. Angin kencang juga menumbangkan pohon yang menimpa mobil di Desa Ntoke dan merusak garasi di Desa Oi Tui. Pohon tumbang di Desa Wora dan Desa Mawu sempat menghambat arus lalu lintas Bima-Wera, meskipun sudah dibersihkan oleh aparat TNI, Polri, dan warga. Di Kecamatan Tambora, dua rumah di Desa Rasabou dan Desa Kawinda Na'e rusak, serta atap gedung SDN Labuan Kananga turut terdampak.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah berulang kali mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem di NTB. Kondisi ini dipicu oleh gangguan atmosfer seperti aktifnya fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, sirkulasi siklonik di Samudra Hindia, serta gelombang ekuatorial Rossby dan Monsun Asia yang mendukung peningkatan awan konvektif dan kecepatan angin. BMKG memprediksi cuaca ekstrem ini dapat berlangsung hingga pertengahan Januari 2026, dengan potensi hujan lebat dan angin kencang di seluruh wilayah NTB. NTB sendiri saat ini berada pada puncak musim hujan, yang meningkatkan kerentanan terhadap bencana hidrometeorologi.
Menanggapi bencana ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB bersama BPBD kabupaten/kota terkait segera berkoordinasi, melakukan kaji cepat, dan menyalurkan bantuan darurat. Kepala Pelaksana BPBD NTB, Sadimin, menyatakan kebutuhan mendesak bagi warga terdampak meliputi terpal untuk menutupi atap sementara, matras, makanan siap saji, dan perlengkapan bayi. Tim reaksi cepat penanggulangan bencana dari BPBD setempat, TNI, Polri, aparatur desa, dan masyarakat bahu-membahu dalam penanganan di lapangan, termasuk membersihkan pohon tumbang dan membantu evakuasi. Pemerintah Provinsi NTB bahkan tengah mempertimbangkan status tanggap darurat yang berkepanjangan mengingat intensitas bencana hidrometeorologi yang terus meningkat.
Dampak jangka panjang dari bencana serupa memerlukan perhatian serius terhadap infrastruktur dan sistem tata kelola air. Curah hujan ekstrem yang sering terjadi menyoroti perlunya penguatan sistem drainase, normalisasi sungai, serta edukasi berkelanjutan kepada masyarakat mengenai mitigasi bencana. Tanpa strategi adaptasi dan mitigasi yang komprehensif, wilayah NTB akan terus menghadapi ancaman serius dari bencana hidrometeorologi yang semakin intensif di tengah perubahan iklim global.