:strip_icc()/kly-media-production/medias/5461248/original/038580100_1767350625-Warga_Gang_Tuyul_Manggarai_terlibat_tawuran.jpg)
Dua kelompok warga di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan, kembali terlibat bentrokan terbuka pada Jumat, 2 Januari 2026, sekitar pukul 15.00 WIB, di terowongan Manggarai, Jalan Dr. Soepomo. Insiden tersebut, yang diawali oleh suara petasan dan berujung pada aksi saling lempar batu dan petasan, merupakan kali kedua dalam dua hari berturut-turut di awal tahun ini. Sebelumnya, pada Kamis, 1 Januari 2026, sekitar pukul 18.10 WIB, bentrokan serupa juga pecah di lokasi yang sama.
Kapolsek Tebet, Komisaris Iwan Gunawan, membenarkan insiden terbaru yang melibatkan warga Gang Tuyul RW 04 dan Gang Magasen RW 012 Kelurahan Manggarai. Menurut Iwan, sekitar 20 orang dari masing-masing kelompok terlibat saling serang setelah suara petasan terdengar. Rekaman video yang beredar di media sosial menunjukkan kedua belah pihak saling melemparkan kembang api dan batu, menyebabkan jalanan dipenuhi serpihan kaca yang dilaporkan membuat sejumlah pengendara sepeda motor mengalami ban bocor. Kepolisian dari Polsek Tebet bersama tim Presisi Polres Metro Jakarta Selatan segera turun tangan, berhasil membubarkan tawuran dan mengendalikan situasi dalam waktu sekitar 10 hingga 15 menit. Tidak ada laporan korban luka maupun jiwa dalam dua insiden ini.
Fenomena tawuran di Manggarai bukanlah hal baru, melainkan masalah kronis yang telah berlangsung puluhan tahun. Polisi bahkan mencatat sejarah tawuran di Manggarai ada sejak tahun 1970-an. Akar masalahnya sering kali disebut bersifat sosial dan kultural. Camat Tebet pada tahun 2019, Dyan Airlangga, menjelaskan bahwa masalah utama adalah isu sosial, di mana banyak pemuda putus sekolah dan tidak memiliki keahlian atau kesempatan, sehingga terlibat dalam aktivitas negatif. Sebuah studi tahun 2019 dari Universitas Negeri Jakarta juga mengidentifikasi dendam lama berkepanjangan antar kelompok masyarakat dan kurangnya pendidikan keluarga sebagai faktor pemicu konflik. Kasi Humas Polres Metro Jakarta Selatan, Kompol Murodih, yang pernah menjabat Kapolsek Tebet, menyebut konflik ini timbul dari ego warga yang ingin kelompoknya lebih unggul, dan telah berlangsung secara turun-temurun tanpa penyelesaian tuntas.
Dalam beberapa tahun terakhir, muncul dugaan baru terkait motivasi di balik tawuran. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pada Agustus 2025 menyatakan kecurigaannya bahwa beberapa aksi tawuran sengaja dibuat untuk diviralkan dan dijadikan konten media sosial. Selain itu, psikolog dan ahli forensik Reza Indragiri pada 2019 pernah mengungkapkan adanya kemungkinan sindikat peredaran narkoba yang merancang tawuran sebagai pengalih perhatian.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan kepolisian telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi masalah ini. Patroli rutin terus digencarkan oleh personel Polsek Tebet dari gang ke gang di wilayah RW 04 dan RW 012 untuk mencegah bentrokan susulan. Kepolisian juga memberikan ultimatum keras kepada warga yang "hobi" tawuran, dengan ancaman penindakan tegas menggunakan pasal berlapis, terutama bagi mereka yang tertangkap tangan membawa senjata tajam atau benda tumpul. Pada November 2025, Gubernur Pramono Anung bahkan mengumumkan program "Manggarai Berselawat" sebagai pendekatan kultural dan keagamaan untuk mencari akar permasalahan secara substantif. Upaya lain termasuk pembentukan tim antitawuran yang merangkul para pelaku serta pelatihan kerja gratis bekerja sama dengan Suku Dinas Tenaga Kerja untuk menyediakan keahlian bagi pemuda Manggarai.
Secara lebih luas, insiden di Manggarai mencerminkan tren konflik serupa di Jakarta. Data Polda Metro Jaya menunjukkan peningkatan kasus tawuran. Pada April 2025, tercatat ada 45 kasus tawuran di wilayah hukum Polda Metro Jaya. Sementara itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencatat 93 kasus tawuran di seluruh Jakarta sepanjang Januari hingga Juli 2025, yang mengakibatkan 3 orang tewas dan 25 luka-luka, dengan 100 terduga pelaku diamankan. Untuk mengatasi ini, Pemprov DKI berencana merancang Satgas Jaga Jakarta sebagai langkah lanjutan pencegahan konflik di titik rawan. Namun, dengan sifat tawuran di Manggarai yang kerap dipicu oleh hal-hal sepele dan berakar pada konflik sosial yang mendalam, tantangan untuk menciptakan stabilitas jangka panjang tetap besar.