Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Macat Total di Jalur Selatan Cianjur Setelah Dua Tiang Listrik Tumbang

2026-01-11 | 21:14 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-11T14:14:24Z
Ruang Iklan

Macat Total di Jalur Selatan Cianjur Setelah Dua Tiang Listrik Tumbang

Dua tiang listrik tegangan menengah milik PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) ambruk total di ruas Jalan Raya Cianjur-Sindangbarang, tepatnya di Kampung Cileueur, Desa Sukajembar, Kecamatan Sukanagara, Cianjur, pada Kamis malam, 9 Januari 2025, menyebabkan putusnya akses vital dan pemadaman listrik di sebagian wilayah selatan Cianjur. Insiden yang diduga kuat dipicu oleh longsor dan pergerakan tanah akibat curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sepanjang sore hingga malam hari, ini praktis melumpuhkan jalur transportasi utama yang menghubungkan Cianjur kota dengan sejumlah kecamatan di selatan, termasuk Sukanagara, Pagelaran, Tanggeung, Kadupandak, dan Sindangbarang, selama lebih dari 12 jam. Selain itu, pasokan listrik ke ribuan pelanggan di beberapa desa juga terputus, mengganggu aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat setempat.

Longsor yang menyebabkan dua tiang listrik bertegangan 20 kilovolt (kV) itu tumbang dilaporkan terjadi sekitar pukul 20.00 WIB, memutus total jalur yang tidak hanya krusial untuk mobilitas warga, tetapi juga distribusi logistik dan hasil pertanian dari wilayah selatan Cianjur. Petugas dari PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Cianjur bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur dan kepolisian langsung dikerahkan ke lokasi untuk penanganan darurat. Proses evakuasi dan perbaikan berlangsung intensif, dengan prioritas pembukaan akses jalan dan pemulihan pasokan listrik. Kepala BPBD Kabupaten Cianjur, Asep Suherman, menyebutkan bahwa medan yang sulit dan kondisi cuaca yang masih tidak menentu menjadi tantangan utama dalam upaya perbaikan.

Gangguan infrastruktur kelistrikan dan transportasi di jalur selatan Cianjur bukan kali ini terjadi. Wilayah ini secara geografis memang rentan terhadap bencana hidrometeorologi, terutama longsor dan banjir, mengingat kontur tanah perbukitan dan curah hujan yang tinggi, khususnya pada musim penghujan. Data dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Cianjur menunjukkan bahwa setidaknya lima titik di sepanjang jalur selatan Cianjur telah mengalami longsor signifikan dalam tiga tahun terakhir, menyebabkan kerugian materi dan menghambat konektivitas. Kejadian ini menggarisbawahi urgensi mitigasi bencana yang lebih komprehensif dan evaluasi berkala terhadap ketahanan infrastruktur di wilayah rawan.

Implikasi dari lumpuhnya jalur dan pemadaman listrik ini menjalar ke berbagai sektor. Selain kerugian waktu dan potensi ekonomi akibat terhambatnya distribusi barang dan jasa, masyarakat di wilayah yang terisolasi menghadapi kesulitan dalam akses terhadap layanan dasar, termasuk kesehatan. Pedagang dan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang bergantung pada pasokan listrik dan kelancaran transportasi untuk operasional harian mereka juga terpukul. Menurut Ir. Budi Santoso, pakar tata kota dari Universitas Pasundan, kejadian berulang ini menuntut adanya investasi yang lebih serius dalam infrastruktur yang resilien terhadap bencana, termasuk sistem kelistrikan bawah tanah di area rawan atau penggunaan tiang listrik dengan spesifikasi tahan longsor. "Pemerintah daerah dan PLN perlu berkolaborasi lebih erat dalam memetakan zona merah dan merencanakan relokasi atau penguatan infrastruktur vital. Pemulihan saja tidak cukup, pencegahan adalah kunci," ujarnya. Proyek jangka panjang perlu mempertimbangkan relokasi jaringan listrik yang berada di lereng rawan atau memperkuat fondasi tiang di titik-titik krusial guna menjamin keberlanjutan pasokan energi dan mobilitas di masa depan.