Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Longsor Maut Jatinangor Sumedang: 3 Pekerja Tewas, Korban Hilang dalam Pencarian

2026-01-02 | 20:17 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-02T13:17:17Z
Ruang Iklan

Longsor Maut Jatinangor Sumedang: 3 Pekerja Tewas, Korban Hilang dalam Pencarian

Empat pekerja konstruksi tewas dan dua lainnya berhasil diselamatkan setelah tanah longsor menerjang lokasi pembangunan di Desa Cisempur, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, pada Jumat, 2 Januari 2026, sekitar pukul 14.00 WIB. Insiden tragis ini terjadi saat para pekerja tengah melakukan penggalian untuk fondasi Tembok Penahan Tanah (TPT) atau proyek perumahan di Dusun Wates RT 01 RW 01, yang mengakibatkan material tanah dari ketinggian sekitar enam meter runtuh dan menimbun mereka.

Kepala Seksi Operasi dan Siaga Basarnas Bandung, Muhammad Adip, mengkonfirmasi bahwa total enam pekerja tertimbun dalam peristiwa ini. Dua korban yang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat adalah Dian (41) dan Ahmid (71), keduanya warga Desa Cisempur, yang kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Universitas Padjadjaran (RS Unpad) Jatinangor untuk mendapatkan penanganan medis. Sementara itu, empat pekerja yang ditemukan meninggal dunia diidentifikasi sebagai Ivan dan Ujang dari Rancaekek, Ade Hilir dari Babakan Harja, Cileunyi Wetan, serta Hery dari Karasak, Sumedang.

Kapolres Sumedang AKBP Sandityo Mahardika menjelaskan, longsor terjadi ketika para pekerja sedang mengerjakan pondasi, dan tanah di bagian atas tiba-tiba bergerak serta ambles menimpa mereka. Meskipun beberapa laporan awal menyebutkan longsor terjadi tanpa hujan lebat, laporan lain mencatat kondisi tanah yang labil pasca-hujan atau guyuran hujan sebagai faktor pemicu. Kapolsek Jatinangor Kompol Rogers Thomas menambahkan, salah satu pekerja sempat merasakan adanya pergeseran tanah sebelum longsor terjadi secara tiba-tiba, sehingga para pekerja di bawah tidak sempat menyelamatkan diri.

Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas Bandung, Polri, TNI, BPBD, dan para relawan segera diterjunkan ke lokasi untuk melakukan operasi pencarian dan evakuasi. Proses evakuasi terkendala medan perbukitan yang sempit dan terjal, sehingga alat berat tidak dapat masuk ke titik utama longsoran, memaksa tim bekerja secara manual. Kondisi cuaca yang sempat mendung dan diguyur hujan juga menambah tantangan bagi petugas di lapangan, dengan kewaspadaan terhadap potensi longsor susulan.

Insiden ini menggarisbawahi kerentanan Jawa Barat terhadap bencana tanah longsor. Data menunjukkan bahwa Provinsi Jawa Barat, dengan topografi yang beragam, sangat rentan terhadap bencana alam. Pada tahun 2025, misalnya, Kabupaten Bogor saja mencatat 536 kejadian tanah longsor dari Januari hingga November, menunjukkan frekuensi tinggi bencana serupa di wilayah tersebut. Sumedang, termasuk Jatinangor, juga merupakan salah satu daerah yang sering dilanda longsor.

Tragedi ini memunculkan pertanyaan serius mengenai standar keselamatan kerja dalam proyek konstruksi, terutama di daerah-daerah yang rawan longsor. Kapolres Sumedang AKBP Sandityo Mahardika menegaskan bahwa pihak kepolisian akan melakukan pendalaman terkait penyebab longsor serta mengevaluasi aspek keselamatan kerja di lokasi proyek. Pentingnya survei geologi yang komprehensif sebelum memulai proyek konstruksi di lahan yang tidak stabil, serta penegakan regulasi keselamatan kerja yang ketat, menjadi isu krusial untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang. Pemerintah daerah dan pengembang proyek diharapkan untuk meningkatkan upaya mitigasi bencana dan memastikan keselamatan para pekerja, terutama di area dengan risiko geologis tinggi.