Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Lima Kali Banjir Bandang Gempur Maninjau Agam dalam Sehari, Ratusan Warga Mengungsi Darurat

2026-01-02 | 04:44 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-01T21:44:36Z
Ruang Iklan

Lima Kali Banjir Bandang Gempur Maninjau Agam dalam Sehari, Ratusan Warga Mengungsi Darurat

Pada Kamis, 1 Januari 2026, kawasan Pasar Maninjau, Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, dilanda banjir bandang sebanyak lima kali dalam kurun waktu satu hari, memaksa ratusan warga mengungsi. Bencana yang terjadi sejak dini hari hingga sore hari tersebut dipicu oleh longsor susulan di Kelok 28 dan Kelok 42, menyebabkan material lumpur, bebatuan, dan kayu menutupi badan jalan provinsi penghubung Lubuk Basung-Bukittinggi serta merusak puluhan rumah.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Agam, Abdul Ghafur, mengungkapkan bahwa gemuruh terdengar beberapa kali dari hulu Sungai Muaro Pisang, mendorong masyarakat di sepanjang sungai untuk segera mengungsi ke sekolah, rumah warga, dan lokasi aman lainnya. Bupati Agam, Benni Warlis, menyatakan sedikitnya 40 rumah terdampak langsung dan 200 warga mengungsi akibat luapan Sungai Muaro Pisang yang membawa material ke permukiman. Meskipun terjadi kerusakan signifikan, tidak ada laporan korban jiwa berkat kesigapan warga yang telah waspada setelah aliran Sungai Batang Muaro Pisang mendadak mengering pada malam sebelumnya, menandakan adanya sumbatan di hulu.

Banjir bandang di Maninjau ini bukan insiden tunggal; wilayah tersebut telah mengalami serangkaian bencana serupa sejak akhir November 2025. Camat Tanjung Raya, Al Hafid, sebelumnya pada 25 Desember 2025, menjelaskan bahwa banjir bandang saat itu terjadi akibat longsor di hulu sungai dekat Kelok 28 yang membuat sungai menjadi dangkal, bahkan tanpa didahului hujan deras. Kondisi geografis Danau Maninjau yang berada di cekungan kaldera raksasa dikelilingi perbukitan curam menjadikannya sangat rawan longsor, terutama saat curah hujan tinggi.

Analisis lingkungan menunjukkan degradasi hutan di sekitar Cagar Alam Maninjau akibat praktik pembalakan liar memperburuk kerentanan wilayah ini terhadap bencana. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat Resort Agam, pada 2019, telah melaporkan temuan banyak kasus penebangan liar di area cagar alam seluas 21.789,81 hektare tersebut, yang menyebabkan perubahan vegetasi hutan dan berkontribusi pada dampak bencana. Selain itu, kondisi Danau Maninjau sendiri telah mengalami eutrofikasi berat karena aktivitas manusia, seperti sisa pakan ikan dan limbah rumah tangga yang memperkaya danau dengan nitrogen dan fosfor, mengganggu ekosistem danau.

Pemerintah Kabupaten Agam telah mengerahkan alat berat untuk membersihkan material banjir bandang dan membuka kembali akses jalan provinsi. Namun, pengerjaan dilakukan secara tentatif, menghentikan operasi saat banjir susulan datang demi keselamatan petugas. BPBD Agam dan pihak terkait terus memantau intensif aliran Batang Aia Muaro Pisang dan mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan serta menghindari aktivitas di dekat sungai mengingat kondisi masih labil dan potensi galodo susulan. Insiden berulang ini menyoroti urgensi penanganan komprehensif, tidak hanya respons darurat, tetapi juga mitigasi jangka panjang yang mencakup restorasi lingkungan di hulu dan pengelolaan tata ruang yang berkelanjutan di sekitar Danau Maninjau.