Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Lahar Dingin Lewotobi Lumpuhkan Jalur Vital Trans Flores

2026-01-19 | 12:24 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-19T05:24:47Z
Ruang Iklan

Lahar Dingin Lewotobi Lumpuhkan Jalur Vital Trans Flores

Aliran lahar dingin dari Gunung Lewotobi Laki-laki menutup total akses Jalan Trans Flores Maumere-Larantuka di Desa Dulipali, Kecamatan Ile Bura, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, sejak Minggu, 18 Januari 2026. Bencana ini, yang dipicu oleh hujan deras di puncak gunung, menimbun ruas jalan vital dengan material vulkanik berupa pasir, kerikil, dan batu, memutus jalur logistik dan transportasi utama di wilayah tersebut. Sejumlah kendaraan dari kedua arah terpaksa berhenti dan tidak dapat melintas, menciptakan antrean panjang dan mengganggu aktivitas warga.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sebelumnya telah menaikkan status Gunung Lewotobi Laki-laki dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas) pada 1 Januari 2026, menyusul peningkatan signifikan aktivitas vulkanik sejak akhir Desember 2025. Erupsi terakhir tercatat pada 18 Oktober 2025 pukul 00.44 Wita, namun aktivitas kegempaan internal gunung tetap tinggi, menunjukkan suplai magma baru yang terus bergerak menuju permukaan. Meski kemudian statusnya diturunkan kembali ke Level III (Siaga) pada 9 Januari 2026 setelah evaluasi visual dan seismik menunjukkan tren penurunan aktivitas, PVMBG tetap mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi banjir lahar hujan, terutama di daerah aliran sungai yang berhulu di Lewotobi Laki-laki. Kepala Pos Pengamat Gunung Api (PGA) Lewotobi Laki-laki, Herman Yosef Mboro, pada 18 Januari 2026, membenarkan bahwa alat seismogram merekam getaran banjir lahar pada pukul 12.13 Wita, menegaskan hubungan antara curah hujan tinggi dan luncuran material vulkanik.

Banjir lahar dingin bukan fenomena baru di lereng Lewotobi Laki-laki. Pada 3 Desember 2025, Badan Geologi melaporkan bahwa jalan lintas Maumere-Larantuka juga sempat terhambat karena tertutup lumpur dan material lahar sedalam hingga 40 sentimeter di beberapa lokasi, serta merusak tiga rumah di Desa Dulipali dan memutus jaringan listrik. Insiden serupa juga dilaporkan pada 29 Juli 2025, di mana lumpur pekat dan bebatuan menutupi badan jalan di Hokeng dan Dulipali, mengganggu arus lalu lintas dan membahayakan pengendara. Daerah aliran sungai seperti Nawokote, Dulipali, Nobo, Hokeng Jaya, dan Nurabelen, yang berhulu di puncak gunung, telah diidentifikasi sebagai zona rawan banjir lahar.

Dampak berulang dari banjir lahar dingin ini meluas dari sekadar gangguan transportasi. Ribuan warga di Kecamatan Wulanggitang dan Ile Bura telah mengungsi secara masif sejak erupsi awal pada 1 Januari 2024, dengan jumlah pengungsi mencapai 7.959 jiwa hingga 10 Desember 2025. Mereka berasal dari desa-desa terdampak seperti Klantalo, Hokeng Jaya, Nawokote, Dulipali, Nobo, dan Boru. Kerugian ekonomi juga sangat besar; data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Flores Timur menunjukkan bahwa sekitar 2.462 hektar tanaman pangan di Wulanggitang dan 1.425 hektar di Ile Bura rusak akibat erupsi dan lahar dingin. Kerugian material untuk padi dan jagung saja diperkirakan mencapai Rp3,8 miliar di Wulanggitang dan sekitar Rp2,8 miliar di Ile Bura, menyebabkan petani gagal panen dan gagal tanam selama dua tahun.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Flores Timur telah melakukan upaya penanganan darurat, termasuk monitoring, kaji cepat, pendirian tenda pengungsi, serta distribusi logistik dan masker. Tim gabungan dari TNI, Polri, pemerintah desa, dan relawan juga diterjunkan untuk membersihkan material lahar dan membuka akses jalan. Wakil Bupati Flores Timur, Ignasius Boli Uran, pada 3 Desember 2025, menyatakan bahwa upaya pembersihan di jalur Nobo-Wulanggitang, Nobo-Nurabelen, dan Hewa-Nawokote sedang berjalan, dengan pengerahan alat berat untuk mempercepat prosesnya. Namun, kondisi geografis yang menantang dan potensi lahar susulan masih menjadi kendala utama.

Mitigasi bencana di wilayah ini memerlukan pendekatan jangka panjang dan terpadu. Selain respons darurat, pembangunan infrastruktur yang lebih tangguh, seperti sabo dam untuk mengendalikan aliran lahar, serta sistem peringatan dini yang efektif, menjadi krusial. Edukasi dan kesiapsiagaan masyarakat di daerah rawan bencana juga harus terus ditingkatkan untuk mengurangi risiko dan dampak dari ancaman lahar dingin Gunung Lewotobi Laki-laki yang berkelanjutan. Masyarakat diimbau untuk tidak beraktivitas dalam radius enam kilometer dari pusat erupsi dan mewaspadai informasi yang tidak jelas.