:strip_icc()/kly-media-production/medias/5481410/original/006319700_1769102843-220389.jpg)
Sebuah narasi viral yang beredar di grup aplikasi perpesanan WhatsApp pada Kamis, 22 Januari 2026, mengklaim Jembatan Pamuyuran di Sukabumi amblas, menyebabkan kemacetan parah di jalur penghubung Cibadak-Cicurug. Namun, hasil penelusuran menunjukkan bahwa informasi tersebut adalah hoaks dan merupakan berita lama yang kembali disebarkan.
Faktanya, peristiwa amblasnya Jembatan Pamuyuran memang pernah terjadi pada akhir tahun 2022. Namun, kerusakan tersebut telah lama ditangani dan diperbaiki oleh pihak terkait, sehingga kondisi jembatan saat ini dinyatakan aman, normal, dan fungsional. Pengawas Lapangan PPK 2.1 Jawa Barat Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Agus Warso, menegaskan bahwa konten video yang tersebar luas tersebut tidak sesuai dengan kondisi terkini dan merupakan berita lama yang diunggah kembali.
Kemacetan panjang sempat melanda ruas Jalan Raya Nasional Sukabumi-Bogor, tepatnya di Kampung Pamuyuran, Desa Pamuyuran, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, pada pagi hari yang sama, Kamis (22/1/2026). Kepadatan lalu lintas ini disebabkan oleh sebuah truk kontainer yang mogok di tanjakan Cipamuyuran, dekat arah MAN Cibadak. Insiden tersebut bertepatan dengan jam sibuk aktivitas masyarakat, terutama jam masuk kerja dan sekolah, sehingga volume kendaraan dari dua arah meningkat drastis dan sempat menyebabkan arus lalu lintas lumpuh. Agus Warso menjelaskan bahwa truk kontainer yang mogok mengunci pergerakan kendaraan dari arah Sukabumi menuju Bogor maupun sebaliknya. Situasi semakin tidak terkendali ketika sejumlah pengendara sepeda motor saling berebut jalur dan nekat melawan arah, memperparah kepadatan. Arus lalu lintas mulai berangsur mengurai sekitar pukul 06.30 WIB dan kembali normal sekitar pukul 07.30 WIB.
Secara historis, Jembatan Pamuyuran telah menjadi jalur vital di Sukabumi-Bogor sejak era kolonial. Jembatan ini, yang dahulu pernah beratap ijuk dan memungut tarif, selalu menyisakan catatan kecelakaan akibat kontur jalan yang curam dan tikungan berbahaya. Proyek pembangunan jembatan baru, yang digadang-gadang akan menjadi solusi kemacetan di Pamuyuran, justru mangkrak sejak empat tahun lalu, tepatnya setelah kontraknya berakhir pada 2022. Proyek penggantian Jembatan Cipamuyuran senilai Rp 18,4 miliar dari APBN ini terhenti tanpa kejelasan, bahkan sempat dilaporkan ke Kejaksaan Tinggi Jawa Barat terkait dugaan kejanggalan pada tahun 2024. PT Karuniaguna Intisemesta, kontraktor pelaksana proyek tersebut, diketahui memiliki rekam jejak bermasalah.
Meskipun proyek jembatan baru mangkrak, pemerintah pusat tetap mengalokasikan anggaran untuk memperkuat struktur Jembatan Pamuyuran lama. Pada akhir November 2025, pekerja terlihat melakukan pengecoran lantai jembatan dan perbaikan pilar guna memastikan keamanan dan kelancaran arus lalu lintas. Major Operasional PT Bhineka Mega Utama (BMU), Iman Firmansyah, menjelaskan bahwa pekerjaan yang dilakukan adalah murni perbaikan struktur lama, bukan pembangunan jembatan baru, dengan fokus memperkuat pilar di bawah permukaan air. Pekerjaan ini ditargetkan rampung pada Desember 2025, sebelum pergantian tahun.
Kasus penyebaran informasi palsu mengenai Jembatan Pamuyuran ini menyoroti pentingnya verifikasi informasi di tengah derasnya arus digital. Kementerian PU melalui Agus Warso mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap berita yang belum terverifikasi kebenarannya di lapangan, terutama jika itu adalah berita lama yang diangkat kembali. Sementara itu, kemacetan akibat insiden truk mogok dan infrastruktur jalan yang masih rentan di beberapa titik Sukabumi, seperti Jalan Nasional Kidang Kencana yang amblas hingga lima meter pada Desember 2025 dan kerap memakan korban, menunjukkan tantangan berkelanjutan dalam pengelolaan dan pemeliharaan jalan nasional di Jawa Barat. Infrastruktur yang belum memadai dan proyek mangkrak seperti Jembatan Pamuyuran Baru, tetap menjadi perhatian serius yang membutuhkan penyelesaian segera untuk memastikan kelancaran konektivitas dan keselamatan publik di masa mendatang.