:strip_icc()/kly-media-production/medias/5481028/original/092346000_1769073903-Screenshot_20260122_150115_Gallery.jpg)
Kebakaran hebat melalap sebuah gudang genteng dan mess pekerja di Cisalak Pasar, Kecamatan Cimanggis, Depok, pada Kamis, 22 Januari 2026, menghanguskan tujuh unit sepeda motor dan memicu kepanikan warga sekitar. Insiden tersebut, yang juga merembet ke sebuah toko kelontong di dekatnya, diduga kuat bermula dari korsleting listrik di dalam bangunan. Asap hitam pekat membumbung tinggi ke udara, terlihat dari berbagai penjuru, sementara kobaran api dengan cepat melahap material di dalamnya.
Seorang saksi mata, Annisa (43), yang tinggal berdekatan dengan lokasi kejadian, mengungkapkan bahwa ia sempat mendengar suara ledakan keras sebelum api membesar dan melalap bangunan. Ledakan tersebut menandakan intensitas awal kebakaran yang memicu penyebaran api secara cepat. Petugas Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Depok segera mengerahkan personel dan armada untuk memadamkan api yang sulit dikendalikan.
Kejadian ini menyoroti kerentanan fasilitas penyimpanan material bangunan terhadap risiko kebakaran, terutama di area urban padat seperti Depok. Gudang genteng, meskipun menyimpan material non-mudah terbakar seperti keramik atau genteng itu sendiri, seringkali juga menampung material pendukung lain seperti palet kayu, kemasan plastik, dan perkabelan listrik yang rentan menjadi pemicu atau bahan bakar api. Integrasi mess pekerja di dalam atau berdekatan dengan gudang juga menambah kompleksitas risiko, mengingat potensi penggunaan peralatan listrik dan aktivitas manusia yang beragam.
Depok, sebagai salah satu kota satelit yang berkembang pesat di Metropolitan Jakarta, mengalami peningkatan pembangunan infrastruktur dan komersial. Hal ini seringkali diikuti dengan pendirian fasilitas penyimpanan dan distribusi yang berdekatan dengan permukiman penduduk, menciptakan tantangan dalam penegakan standar keamanan dan pencegahan kebakaran. Korsleting listrik, yang menjadi dugaan awal penyebab kebakaran ini, merupakan salah satu pemicu kebakaran paling umum di Indonesia, seringkali diakibatkan oleh instalasi listrik yang tidak memenuhi standar, kelebihan beban, atau pemeliharaan yang kurang.
Dampak dari kebakaran ini tidak hanya terbatas pada kerugian material bangunan gudang dan toko kelontong, tetapi juga kehilangan tujuh unit sepeda motor yang menjadi aset berharga bagi pemiliknya, kemungkinan besar adalah pekerja di gudang atau warga sekitar. Insiden semacam ini berpotensi memicu penyelidikan lebih lanjut oleh pihak berwenang mengenai kepatuhan standar keselamatan bangunan dan sistem kelistrikan di fasilitas komersial dan industri, khususnya yang berada di tengah atau berdekatan dengan area residensial. Pentingnya inspeksi rutin dan audit keamanan secara menyeluruh oleh pihak berwenang menjadi krusial untuk mencegah terulangnya kejadian serupa dan memastikan perlindungan aset serta keselamatan jiwa di tengah pesatnya urbanisasi.