Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Kakek Pemburu Tikus Hilang Misterius 4 Hari di Perkebunan Tomohon

2026-01-04 | 10:16 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-04T03:16:51Z
Ruang Iklan

Kakek Pemburu Tikus Hilang Misterius 4 Hari di Perkebunan Tomohon

Yes Lefrand Mamanua, seorang kakek berusia 60 tahun dari Kelurahan Kayawu, Kecamatan Tomohon Utara, Kota Tomohon, Sulawesi Utara, dilaporkan hilang selama empat hari setelah meninggalkan rumahnya pada Selasa, 30 Desember 2025, malam untuk berburu tikus di area Perkebunan Kayawu atau Kebun Irang. Operasi pencarian besar-besaran oleh Tim SAR Gabungan, yang melibatkan Basarnas Sulawesi Utara, Polres Tomohon, dan berbagai unsur masyarakat, telah memasuki hari kedua sejak laporan resmi diterima, namun hingga Jumat, 2 Januari 2026, keberadaan Mamanua masih belum diketahui.

Mamanua, yang saat itu mengenakan sepatu lars kuning, topi coklat, dan membawa tas gendong abu-abu beserta senapan, meninggalkan kediamannya sekitar pukul 22.00 WITA. Kepergiannya untuk berburu tikus di perkebunan yang kerap menjadi tempat aktivitas warga setempat memicu kekhawatiran serius, terutama setelah laporan hilangnya tidak kunjung membuahkan hasil. Humas Basarnas Sulawesi Utara, Nuriadin Gumeleng, mengungkapkan bahwa pihak keluarga juga menyampaikan Mamanua sempat mengeluhkan sakit di bagian dada pada November 2025, sebuah fakta yang semakin menambah urgensi operasi pencarian.

Kondisi geografis Kota Tomohon yang didominasi wilayah pegunungan dengan ketinggian antara 400 hingga 1500 meter di atas permukaan laut, serta dikelilingi oleh dua gunung berapi aktif seperti Gunung Lokon dan Mahawu, menghadirkan tantangan signifikan bagi tim penyelamat. Perkebunan di Kayawu dikenal memiliki medan yang luas dan minim penerangan, terutama pada malam hari, sehingga menyulitkan upaya pencarian manual. Untuk mengintensifkan pencarian, Basarnas Sulawesi Utara mengerahkan satu Tim Rescue lengkap dengan peralatan canggih, termasuk drone thermal, yang diharapkan mampu menyisir area yang sulit dijangkau dan mengidentifikasi keberadaan korban, mengingat Mamanua telah hilang lebih dari 72 jam.

Insiden hilangnya Mamanua bukanlah kasus terisolasi di Sulawesi Utara. Wilayah ini secara periodik menghadapi tantangan serupa terkait lansia yang hilang di perkebunan atau hutan. Pada Oktober 2022, Daniel Tiwow (68) juga dilaporkan hilang di Perkebunan Mandengan, Tomohon, namun pencarian dihentikan setelah tujuh hari tanpa hasil. Sebelumnya, pada November 2025, Yulius Tulus alias Om Buang (69) ditemukan selamat setelah tiga hari hilang di perkebunan Rampuun, Tomohon, di mana ia diketahui telah hidup menyendiri selama sekitar 25 tahun. Kasus lain di Sulawesi Selatan pada Desember 2025 menunjukkan seorang lansia berusia 80 tahun, Subaeda, ditemukan lemas setelah tiga hari tersesat di hutan, namun meninggal sehari kemudian. Bahkan, pada Januari 2025, seorang lansia berusia 75 tahun di Pangkep, Sulawesi Selatan, ditemukan meninggal setelah 13 hari hilang di kebun.

Fenomena ini menyoroti kerentanan kelompok lansia yang masih aktif di lingkungan pedesaan dan perkebunan, terutama bagi mereka dengan riwayat kesehatan atau yang tinggal sendiri. Mamanua, yang istrinya telah meninggal, tinggal bersama keluarga adik kandungnya. Keterlibatan masyarakat setempat, Bhabinkamtibmas, dan pemerintah kelurahan dalam pencarian awal sebelum Basarnas turun tangan menunjukkan pentingnya respons cepat komunitas. Namun, medan yang menantang dan potensi kondisi kesehatan yang memburuk memerlukan koordinasi SAR yang lebih terstruktur dan berteknologi.

Peristiwa ini menggarisbawahi urgensi peningkatan kesadaran akan risiko bagi lansia yang beraktivitas di daerah terpencil dan berbahaya, serta perlunya langkah-langkah pencegahan yang lebih proaktif. Upaya mitigasi dapat mencakup edukasi kepada keluarga dan masyarakat tentang pentingnya pengawasan, terutama bagi lansia dengan riwayat kesehatan, serta pemanfaatan teknologi pelacak atau sistem komunikasi darurat sederhana. Peningkatan kemampuan dan jangkauan Basarnas dengan peralatan modern, seperti drone thermal, menjadi krusial dalam menghadapi pola insiden orang hilang yang terus berulang di wilayah perkebunan dan hutan Sulawesi.