Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Jejak Yasid Ahmad: Pencarian Pendaki Hilang di Mongkrang Kini Menyasar Magetan

2026-01-23 | 02:04 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-22T19:04:05Z
Ruang Iklan

Jejak Yasid Ahmad: Pencarian Pendaki Hilang di Mongkrang Kini Menyasar Magetan

Operasi pencarian Yasid Ahmad Firdaus, pendaki berusia 26 tahun asal Colomadu, Karanganyar, yang dilaporkan hilang di jalur Bukit Mongkrang, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, telah memasuki hari keempat pada Kamis, 22 Januari 2026, dengan perluasan area penyisiran hingga ke wilayah Magetan, Jawa Timur. Tim gabungan memperlebar radius pencarian mencakup daerah Geni Langit, Sendang, dan Pandowo setelah penyisiran intensif di titik-titik terdekat posko awal tidak membuahkan hasil. Yasid Ahmad Firdaus terakhir kali terlihat terpisah dari ketiga rekannya pada Minggu, 18 Januari 2026, saat mereka turun dari puncak Bukit Mongkrang sekitar pukul 08.00 WIB, dengan posisi terakhirnya tercatat di Pos 3 jalur pendakian.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karanganyar, Hendro Prayitno, menyatakan bahwa operasi SAR ini melibatkan lima Search and Rescue Unit (SRU) gabungan, dengan masing-masing SRU terdiri dari 10 hingga 12 personel, termasuk relawan yang memiliki keahlian vertikal untuk medan sulit. Koordinator SAR Operasi Pencarian Bukit Mongkrang, Yohan Tri Anggoro, menjelaskan bahwa tim juga mengerahkan anjing pelacak (K9) dan drone untuk membantu pencarian dari udara. Namun, upaya pencarian terkendala cuaca ekstrem seperti badai, angin kencang hingga 45 knot, hujan lebat, dan kabut tebal yang membatasi jarak pandang, bahkan menghambat pengoperasian drone secara optimal. Selain itu, vegetasi ilalang yang tinggi dan medan terjal serta jurang di sekitar Bukit Mongkrang menambah kompleksitas operasi.

Yasid, yang menurut orang tuanya, Sapto Mulyono, adalah pendaki berpengalaman dan telah lima kali mendaki Bukit Mongkrang, berangkat bersama tiga rekannya, Cahya, Salman, dan Riyan, pada Minggu pagi. Mereka terpisah di Pos 3 saat perjalanan turun, dengan Salman dan Cahya yang tiba lebih dahulu di basecamp hanya menemukan Riyan yang menyusul kemudian, sehingga laporan hilangnya Yasid disampaikan. Penemuan bungkus makanan jenis Soyjoy, yang diduga milik korban, di lokasi yang cukup jauh dari jalur umum, memperumit penentuan fokus area pencarian tim. Pihak keluarga, yang terus memberikan dukungan di posko, juga terbuka terhadap informasi irasional, meskipun prioritas utama tetap pada pencarian logis di lapangan. Sebagai langkah mitigasi, jalur pendakian Bukit Mongkrang telah ditutup sementara hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Insiden hilangnya pendaki seperti Yasid Ahmad Firdaus menyoroti tantangan inheren dalam aktivitas pendakian di Jawa Tengah, khususnya di kawasan Gunung Lawu yang meliputi Bukit Mongkrang. Meskipun dikenal sebagai destinasi populer bagi pendaki pemula dengan waktu tempuh puncak sekitar dua jam, Bukit Mongkrang dan Gunung Lawu secara keseluruhan memiliki catatan insiden kecelakaan yang signifikan. Data menunjukkan bahwa Gunung Lawu mencatat 18 insiden kecelakaan pendaki antara tahun 2013 hingga Mei 2024, menempatkannya sebagai gunung dengan jumlah insiden tertinggi kedua di Indonesia setelah Gunung Marapi. Angka ini mencerminkan peningkatan kasus kecelakaan pendakian di seluruh Indonesia, yang sering kali disebabkan oleh kurangnya persiapan dan kondisi alam yang tidak menentu.

Kawasan Jawa Tengah sendiri menarik sekitar 800.000 pendaki setiap tahunnya di 15 gunung aktif, menunjukkan tingginya minat masyarakat namun juga potensi risiko yang besar. Perluasan operasi pencarian hingga ke Magetan juga menggambarkan medan geografis yang menyatukan perbatasan provinsi, memerlukan koordinasi lintas wilayah yang kompleks. Operasi SAR memasuki fase krusial dengan tenggat waktu pencarian intensif selama tujuh hari, sebagaimana standar operasional prosedur yang berlaku. Implikasi dari insiden ini bukan hanya pada alokasi sumber daya darurat yang masif, tetapi juga menuntut evaluasi kembali terhadap standar keselamatan pendakian, baik dari sisi pengelola jalur maupun kesiapan individu pendaki. Edukasi mengenai pentingnya memahami etika pendakian, persiapan memadai, dan kesadaran terhadap perubahan cuaca ekstrem menjadi sangat relevan untuk meminimalisir kejadian serupa di masa mendatang.