Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Gunung Ibu Maluku Utara Mengamuk Lagi, Muntahkan Abu Vulkanik 800 Meter

2026-01-02 | 01:18 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-01T18:18:57Z
Ruang Iklan

Gunung Ibu Maluku Utara Mengamuk Lagi, Muntahkan Abu Vulkanik 800 Meter

Gunung Ibu di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya pada Kamis, 1 Januari 2026, pukul 14.28 WIT, dengan melontarkan kolom abu vulkanik setinggi 800 meter di atas puncak kawahnya. Erupsi ini, yang teramati jelas dari pos pemantauan, mengindikasikan dinamika internal gunung api yang terus berlanjut di awal tahun.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Ibu, Darsono H Muhammad Nur, menjelaskan bahwa kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal bergerak condong ke arah barat daya. Secara instrumental, erupsi tersebut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 28 milimeter dan berlangsung selama satu menit empat detik. Meskipun menunjukkan letusan yang signifikan, status Gunung Ibu, dengan ketinggian 1.325 meter di atas permukaan laut, masih berada pada Level II (Waspada).

Peningkatan aktivitas vulkanik seperti ini bukan merupakan fenomena baru bagi Gunung Ibu. Gunung berapi bertipe stratovulkano ini memiliki riwayat erupsi yang panjang sejak tahun 1911. Setelah jeda puluhan tahun, letusan kembali terjadi pada Desember 1998, memicu pembentukan sumbat lava yang kemudian berkembang menjadi kubah lava. Pada periode 2020 hingga 2023, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat penurunan frekuensi erupsi harian, namun disertai peningkatan ketinggian kolom letusan, kondisi yang dikaitkan dengan peningkatan gempa vulkanik dalam dan dangkal. Kubah lava yang saat ini telah melampaui dinding kawah, seringkali menyebabkan guguran lava ke arah utara dan barat laut, menambah kompleksitas ancaman.

Kawasan sekitar Gunung Ibu secara rutin mengalami hujan abu vulkanik, yang berdampak pada kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Pada tahun 2025, Gunung Ibu mengalami total 2.739 erupsi, menjadikannya salah satu gunung api paling aktif di Indonesia setelah Gunung Semeru. Peningkatan drastis terjadi pada Mei 2024, ketika statusnya sempat dinaikkan menjadi Level III (Siaga) dan bahkan Level IV (Awas), dengan kolom abu mencapai 5.000 hingga 6.000 meter dan lontaran lava pijar hingga 1,5 kilometer dari bibir kawah. Saat itu, zona bahaya diperluas hingga radius 4 kilometer dan perluasan sektoral 7 kilometer, memicu evakuasi ribuan warga dari desa-desa terdampak. Meskipun status saat ini lebih rendah, kejadian di masa lalu menegaskan potensi ancaman serius.

Merespons erupsi terbaru, Darsono H Muhammad Nur mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Ibu serta pengunjung atau wisatawan untuk tidak beraktivitas dalam radius dua kilometer dari kawah aktif. Selain itu, perluasan sektoral sejauh 3,5 kilometer ke arah bukaan kawah di bagian utara juga harus dihindari. Warga diminta menggunakan masker dan kacamata pelindung jika terjadi hujan abu, untuk mencegah gangguan pernapasan dan iritasi mata. Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat terus didorong untuk berkoordinasi erat dengan PVMBG dan Pos Pengamatan Gunung Ibu di Desa Gam Ici guna memastikan informasi akurat dan respons mitigasi yang cepat.

Implikasi jangka panjang dari aktivitas vulkanik yang terus-menerus ini mencakup potensi perubahan bentang alam, gangguan ekosistem lokal, dan dampak berkelanjutan terhadap mata pencarian masyarakat yang bergantung pada pertanian. Kesiapsiagaan bencana yang adaptif, termasuk sistem peringatan dini yang robust, perencanaan evakuasi yang efektif, dan edukasi publik yang berkelanjutan, menjadi krusial untuk meminimalkan risiko di tengah ancaman erupsi Gunung Ibu yang persisten.