:strip_icc()/kly-media-production/medias/1102975/original/093386800_1452074417-2016-01-06-ilustrasi_gempa.jpg)
Getaran gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 4,8 mengguncang Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, pada Jumat, 23 Januari 2026, pukul 14.27.56 WIB, memicu kerusakan ringan pada sejumlah rumah dan pergeseran jembatan di Sintang, serta menimbulkan keprihatinan terhadap kesiapsiagaan mitigasi bencana di wilayah yang kerap dianggap aman dari aktivitas seismik signifikan ini. Pusat gempa yang berada di darat, sekitar 89 kilometer timur Sekadau pada kedalaman 10 kilometer, dirasakan kuat oleh warga di Sekadau, Sintang, dan Melawi dengan intensitas III-IV Modified Mercalli Intensity (MMI), di mana banyak orang di dalam rumah merasakan getaran nyata, benda ringan bergoyang, dan sensasi serupa truk besar melintas.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa gempa dangkal ini dipicu oleh pergerakan Sesar Adang, sebuah sesar lokal yang aktivitasnya kembali terdeteksi. Kepala Stasiun Geofisika Balikpapan, Rasmid, M.Si, menjelaskan bahwa meskipun magnitudonya moderat, kedalaman hiposenter yang dangkal berkontribusi pada intensitas getaran yang dirasakan di permukaan. Gempa ini tidak berpotensi tsunami, namun laporan kerusakan mulai bermunculan. Anggota DPRD Kalimantan Barat, Suyanto Tanjung, melaporkan kerusakan berat pada bagian depan dan retakan di dalam rumahnya di Desa Mekar Mandiri, Kayan Hilir, Sintang. Selain itu, beberapa rumah warga di Nanga Mau, Kayan Hilir, juga terdampak, dan Jembatan Nanga Tikan yang menghubungkan Kabupaten Sintang dan Melawi dilaporkan bergeser akibat guncangan tersebut.
Kesaksian warga menggambarkan betapa mendadaknya peristiwa tersebut. Yudinus, seorang pengendara sepeda motor, merasakan getaran kuat hingga harus berhenti mendadak saat melaju di jalan. “Saya berhenti. Setelah saya lihat, ternyata lumayan getaran ini,” ungkap Yudinus, menggambarkan kegelisahan sesaat yang dialaminya. Ia kemudian mengecek ponselnya dan menemukan media sosial ramai dengan informasi mengenai gempa di Sekadau. Hingga pukul 15.15 WIB, BMKG belum mencatat adanya aktivitas gempa susulan, dan pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan hanya merujuk pada informasi resmi.
Secara historis, Pulau Kalimantan sering dianggap sebagai zona yang relatif stabil secara geologis dibandingkan dengan wilayah Indonesia lainnya yang berada di pertemuan lempeng tektonik utama. Namun, data BMKG menunjukkan bahwa Kalimantan bukanlah wilayah yang sepenuhnya bebas gempa. Antara tahun 2011 hingga 2025, tercatat 31 kejadian gempa bumi tersebar di berbagai kabupaten/kota di Kalimantan Barat, termasuk Sintang dan Sekadau. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menegaskan bahwa aktivitas seismik di Kalimantan memang lebih rendah, tetapi potensi gempa merusak tetap ada. Sejarah mencatat gempa signifikan seperti Gempa Sangkulirang pada tahun 1921 yang diikuti tsunami, serta serangkaian gempa di Tarakan pada awal abad ke-20. Pergerakan sesar lokal seperti Sesar Adang menunjukkan bahwa tekanan tektonik dapat terakumulasi dan dilepaskan, meskipun jarang menyebabkan gempa berkekuatan sangat besar.
Implikasi dari gempa ini menekankan pentingnya kesiapsiagaan bencana yang lebih serius di Kalimantan Barat. Meskipun sebagian besar gempa yang terjadi di wilayah ini berkedalaman dangkal dan umumnya tidak menimbulkan kerusakan besar, insiden di Sintang menunjukkan bahwa infrastruktur dan bangunan tetap rentan terhadap guncangan bahkan dari gempa berkekuatan moderat. Kepala BMKG Sintang, Dharmawan Wahyu Adhi, menekankan pentingnya masyarakat memeriksa kondisi bangunan tempat tinggal masing-masing dan memastikan tidak ada kerusakan yang dapat membahayakan keselamatan sebelum kembali beraktivitas di dalam rumah.
Pemerintah daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Sekadau, Sintang, dan Melawi telah memulai pemantauan dan koordinasi untuk memastikan keamanan fasilitas umum dan rumah warga, serta menyiagakan unit reaksi cepat. Kejadian ini menjadi pengingat kritis bahwa konsep "pulau bebas gempa" di Kalimantan perlu direvisi dengan pemahaman yang lebih nuansa tentang aktivitas sesar lokal dan kerentanan struktural. Edukasi publik mengenai tindakan penyelamatan diri saat gempa, seperti berlindung di bawah meja kokoh dan menjauhi jendela, menjadi krusial untuk meminimalkan risiko cedera dan korban jiwa di masa depan.