:strip_icc()/kly-media-production/medias/5477443/original/026633900_1768823228-gempa_jambi_ok.jpg)
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,1 mengguncang wilayah daratan Kabupaten Merangin, Jambi, pada Senin, 19 Januari 2026, pukul 18.02.49 WIB, menyebabkan getaran yang terasa hingga ke Bengkulu. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa pusat gempa terletak di daratan, 165 kilometer tenggara Kabupaten Merangin, pada kedalaman 165 kilometer. Guncangan dirasakan nyata di Merangin dan Bengkulu Utara dengan intensitas III MMI, yang berarti getaran dapat dirasakan di dalam rumah seakan-akan ada truk berlalu. Hingga laporan ini diterbitkan, belum ada informasi resmi mengenai kerusakan bangunan atau korban jiwa. BMKG menegaskan bahwa gempa ini tidak berpotensi tsunami karena episenternya berada di daratan dan memiliki kedalaman menengah.
Aktivitas seismik ini tergolong gempa bumi menengah yang dipicu oleh deformasi batuan dalam Lempeng Indo-Australia (intermediate-intra-slab) dengan mekanisme pergerakan sesar geser atau strike-slip. Lokasi gempa di Sumatra yang sangat aktif secara tektonik, tepatnya di antara sesar aktif Sumatera dan zona subduksi lempeng Indo-Australia di bawah lempeng Eurasia, menjadikan wilayah ini rentan terhadap gempa bumi. BMKG selalu mengingatkan bahwa informasi gempa yang disampaikan segera setelah kejadian mengutamakan kecepatan dan dapat mengalami pembaruan seiring masuknya data yang lebih lengkap. BMKG juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan waspada terhadap potensi terjadinya gempa susulan.
Sejarah geologi Sumatera mencatat frekuensi tinggi kejadian gempa bumi akibat interaksi kompleks lempeng tektonik. Gempa bumi dengan kedalaman menengah seperti yang terjadi di Merangin ini kerap kali menjadi pengingat akan risiko seismik yang melekat di sepanjang Patahan Sumatera. Kejadian ini menggarisbawahi urgensi berkelanjutan dalam penerapan standar bangunan tahan gempa dan peningkatan kesadaran serta kapasitas mitigasi bencana di masyarakat, khususnya di daerah-daerah yang kerap merasakan guncangan. Kesiapsiagaan infrastruktur dan komunitas adalah kunci untuk meminimalkan dampak dari peristiwa geologi serupa di masa mendatang.