Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Gempa M 7,1 Landa Talaud: Getaran Hebat Terasa Luas di Penjuru Sulawesi Utara

2026-01-11 | 06:28 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-10T23:28:36Z
Ruang Iklan

Gempa M 7,1 Landa Talaud: Getaran Hebat Terasa Luas di Penjuru Sulawesi Utara

Sebuah gempa bumi berkekuatan awal magnitudo 7,1 mengguncang wilayah pesisir timur Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, pada Sabtu malam, 10 Januari 2026, pukul 21.58 WIB, memicu kepanikan dan getaran kuat yang terasa hampir di seluruh wilayah Sulawesi Utara hingga sebagian Maluku Utara. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kemudian memperbarui parameter gempa menjadi magnitudo 6,4. Episenter gempa yang berpusat di laut ini terletak pada koordinat 3,76 derajat Lintang Utara dan 126,95 derajat Bujur Timur, sekitar 40 kilometer arah tenggara Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud, pada kedalaman dangkal 31 kilometer.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa gempa tersebut merupakan jenis gempa dangkal yang dipicu oleh aktivitas deformasi batuan di dalam Lempeng Maluku, dengan mekanisme pergerakan mendatar turun atau oblique normal. Meskipun memiliki magnitudo signifikan, BMKG memastikan gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Hingga pukul 22.20 WIB, BMKG mencatat satu kali gempa susulan berkekuatan magnitudo 4,6.

Getaran gempa dirasakan dengan intensitas bervariasi di berbagai daerah. Di Tobelo dan Kepulauan Sitaro, guncangan mencapai skala intensitas III-IV Modified Mercalli Intensity (MMI), di mana banyak orang di dalam rumah merasakan getaran. Morotai merasakan intensitas III MMI, sementara Ternate, Minahasa Utara, dan Bitung mencatat intensitas II-III MMI, dengan getaran dirasakan nyata seperti truk berlalu. Warga Manado, Amanda, melaporkan guncangan terasa kuat, demikian pula Pithein dari Kecamatan Kalongan, Kabupaten Talaud. Sejauh ini, belum ada laporan resmi mengenai dampak kerusakan material atau korban jiwa akibat gempa ini. Daryono mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, serta hanya mengacu pada informasi resmi BMKG.

Pulau Sulawesi, dengan bentuknya yang unik menyerupai huruf 'K', dikenal sebagai salah satu wilayah dengan aktivitas seismik paling kompleks di Indonesia, terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama: Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Interaksi lempeng-lempeng ini menciptakan zona subduksi dan sesar aktif yang menjadi pemicu seringnya gempa bumi. Wilayah Sulawesi Utara secara khusus memiliki tingkat kegempaan tinggi, dengan rata-rata 700-800 kejadian gempa setiap tahunnya. Sesar Utara Sulawesi, misalnya, merupakan batas subduksi antara Lempeng Filipina dan Eurasia.

Secara historis, Sulawesi Utara telah berulang kali dilanda gempa bumi merusak, beberapa di antaranya bahkan memicu tsunami. Catatan menunjukkan adanya 13 kejadian gempa merusak di wilayah tersebut, dengan empat di antaranya menimbulkan tsunami yang bersumber dari penunjaman Sulawesi Utara bagian utara dan penunjaman Punggungan Mayu. Gempa merusak di Kepulauan Talaud sendiri pernah terjadi pada 1914 dengan magnitudo 7,4. Peristiwa lain yang patut dicatat termasuk gempa Sangir pada 1 April 1936 yang merupakan salah satu yang paling dahsyat di zona ini, serta serangkaian gempa di Manado pada 1980 (M5,5), 1988 (M5,4), dan 2007 (M7,3), yang kesemuanya menyebabkan kerusakan signifikan. Pemahaman terhadap struktur geologi kompleks dan riwayat kegempaan di kawasan ini krusial untuk mitigasi bencana di masa depan.

Implikasi jangka panjang dari aktivitas seismik yang persisten di Sulawesi, termasuk gempa baru-baru ini di Talaud, menuntut peningkatan kesiapsiagaan masyarakat dan penguatan infrastruktur. Daerah yang tersusun oleh endapan Kuarter seperti aluvial dan endapan gunung api tua cenderung merasakan guncangan lebih kuat karena sifatnya yang urai dan belum terkonsolidasi, memperkuat efek gempa. Oleh karena itu, pembangunan berkelanjutan harus mempertimbangkan standar tahan gempa yang ketat, terutama di wilayah pesisir dan kepulauan. Edukasi publik mengenai prosedur evakuasi mandiri, terutama bagi komunitas yang dekat dengan titik gempa, menjadi sangat penting mengingat kemampuan teknologi BMKG dalam memberikan peringatan mungkin memiliki jeda waktu. Kesiapsiagaan yang terkoordinasi antara pemerintah daerah, lembaga mitigasi, dan masyarakat sipil akan menjadi kunci dalam mengurangi risiko dan dampak bencana di salah satu wilayah paling rawan gempa di Indonesia ini.