:strip_icc()/kly-media-production/medias/5477159/original/072739300_1768810443-Lukisan_karya_seniman_di_Banyuwangi.jpg)
Pelukis Susiyo, seniman kelahiran Semarang yang kini menetap di Banyuwangi, Jawa Timur, berhasil menembus pasar seni global dengan gaya "Pop Surealis" khasnya, dijadwalkan akan menggelar pameran tunggal di California, Amerika Serikat, pada November 2025, dan serangkaian pameran di Hong Kong pada Mei, Juni, dan Juli 2026, menandai pengakuan internasional terhadap kekayaan artistik dari daerah ujung timur Pulau Jawa. Perjalanan Susiyo ini menggarisbawahi potensi seniman dari luar pusat metropolitan dalam merengkuh panggung dunia melalui eksplorasi estetika personal yang jujur dan relevan.
Sejak memutuskan tinggal di Banyuwangi pada tahun 2023 setelah menikah, Susiyo menemukan momentum krusial dalam karier seninya, mengukuhkan gaya Pop Surealisnya. Aliran ini memadukan visual pop dengan dunia imajinatif yang bebas, seringkali menampilkan hewan dan tumbuhan dengan gestur manusia yang jenaka, ganjil, sekaligus provokatif. Susiyo menjelaskan bahwa karyanya merupakan refleksi cara pandang anak kecil terhadap dunia, jujur, polos, dan tidak terbebani logika dewasa. Karakter "Mojo", yang terinspirasi dari buah maja, menjadi identitas visual yang hampir selalu hadir dalam lukisannya. Mojo digambarkan sebagai bocah polos bertubuh berlubang, menyatu dengan elemen alam lain, di mana lubang-lubang tersebut melambangkan masa kecil sebagai ruang kosong yang menyerap kepolosan, pengetahuan, dan pengalaman hidup yang terus berganti. Latar belakang pendidikannya di Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Seni Yogyakarta dan kecintaannya pada animasi, termasuk inspirasi dari film "Alice in Wonderland", turut membentuk karakteristik visual karyanya yang kuat. Sebelumnya, Susiyo telah menampilkan karyanya di ArtVordable Singapura dan Hong Kong, serta pameran di Bangkok.
Perkembangan seni rupa di Banyuwangi tidak lepas dari dinamika identitas budaya lokal yang kuat, yaitu budaya Using/Osing, yang secara historis dibentuk oleh akulturasi Jawa, Bali, dan Madura. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi telah secara konsisten mengintegrasikan seni dan budaya lokal sebagai pilar utama pariwisata dan ekonomi kreatif sejak lama, terlihat dari keberhasilan Banyuwangi Festival dan gelaran Gandrung Sewu. Upaya ini telah mendorong sub-sektor ekonomi kreatif, termasuk seni rupa, fesyen, seni pertunjukan, dan DKV, sebagai kontributor signifikan terhadap PDB daerah. Namun, pergeseran budaya akibat globalisasi juga mendorong seniman muda Banyuwangi pasca-Reformasi untuk menciptakan karya yang lebih reflektif dan kritis, tidak semata-mata berorientasi pada pariwisata. Penetapan Hari Seni Rupa Banyuwangi setiap 10 Desember dan inisiatif seperti pameran "Lereme Roso" yang berkolaborasi dengan komunitas perupa lokal, menunjukkan komitmen terhadap regenerasi dan eksplorasi artistik. Selain Susiyo, seniman Banyuwangi lainnya seperti Tonymidi Artworks juga telah menembus pasar internasional dengan ilustrasi bergaya Victorian dan dark art untuk klien global seperti Universal Studio dan Star Wars.
Keberhasilan Susiyo menembus pameran seni dunia bukan hanya pencapaian individu, melainkan juga menempatkan Banyuwangi dalam peta seni rupa kontemporer internasional. Fenomena ini berpotensi memberikan dampak jangka panjang terhadap ekosistem seni lokal, menginspirasi lebih banyak seniman muda untuk mengembangkan gaya unik mereka dan mencari pengakuan global, serta memperkuat posisi Banyuwangi sebagai hub kreatif yang mampu memadukan kearifan lokal dengan ekspresi modern. Hal ini juga dapat meningkatkan daya tarik budaya Banyuwangi di mata wisatawan mancanegara, sejalan dengan visi pemerintah daerah untuk memperkuat ekonomi kreatif berbasis pariwisata. Kesuksesan seperti yang diraih Susiyo membuktikan bahwa kejujuran dalam berkarya dan kekayaan pengalaman personal yang berakar pada identitas lokal dapat menjadi fondasi kuat untuk diterima dan diapresiasi di pasar seni global, menepis anggapan bahwa seniman harus berdomisili di kota besar untuk meraih pengakuan internasional.