Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Duka Air Bah Bali: Balita 1,5 Tahun Ditemukan Tewas di Pantai Batu Beliq

2026-01-23 | 05:59 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-22T22:59:55Z
Ruang Iklan

Duka Air Bah Bali: Balita 1,5 Tahun Ditemukan Tewas di Pantai Batu Beliq

Jasad seorang balita berusia 1,5 tahun, Audrey Natania Banafanu, ditemukan tewas di bibir Pantai Batu Belig, Kuta Utara, Badung, pada Kamis pagi, 22 Januari 2026, setelah hanyut terseret air bah dari lokasi rumahnya di Banjar Kuwum Ancak, Desa Kuwum, Kecamatan Marga, Tabanan. Penemuan tragis ini menyusul insiden pada Rabu dini hari, 21 Januari 2026, ketika rumah kontrakan keluarga tersebut ambruk diterjang luapan air dari saluran irigasi Subak Jemanik yang meluap. Ibu korban, Yuliana Dacosta Makun (29), juga ditemukan meninggal dunia di Sungai Yeh Ge, Tabanan, pada Kamis sore, menggenapi duka keluarga yang kehilangan dua anggota akibat bencana alam ini.

Operasi pencarian dan pertolongan gabungan yang melibatkan Basarnas, TNI, Polri, BPBD, PMI, dan relawan berhasil menemukan jenazah Audrey pada pukul 07.00 WITA oleh seorang pengunjung pantai. Jarak penemuan jasad balita tersebut cukup jauh, diperkirakan antara 6,7 hingga 9 kilometer ke arah tenggara dari muara sungai tempat korban dilaporkan hilang. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar (Basarnas Bali), I Nyoman Sidakarya, menyatakan bahwa kondisi korban saat ditemukan cukup memprihatinkan, terlentang dan terhimpit di antara bebatuan pantai. Pihak keluarga, yang diwakili oleh Ketua Flobamora Tabanan, Paskalia Boli, telah mengonfirmasi identitas jenazah Audrey. Sementara itu, jasad Yuliana ditemukan sekitar pukul 14.00 WITA di tepi aliran Sungai Yeh Ge, Banjar Koripan Kaja, Desa Abian Tuwung, setelah hanyut sejauh 6,9 kilometer dari lokasi kejadian. Suami sekaligus ayah korban, Semi Christian Banafanu (31), selamat dari kejadian nahas tersebut namun mengalami patah kaki, sedangkan anak pertama mereka, Nhatalia DeQuenza Banafanu (7), berhasil diselamatkan.

Tragedi ini menyoroti kerentanan Bali terhadap bencana hidrometeorologi, terutama di musim penghujan. Data bencana menunjukkan bahwa banjir dan longsor sering melanda pulau ini. Pada September 2025, misalnya, banjir di Bali menelan 14 korban jiwa dan menyebabkan 562 warga mengungsi di berbagai kabupaten seperti Jembrana dan Denpasar. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali mencatat 120 titik banjir di tujuh kabupaten/kota pada periode tersebut.

Faktor-faktor penyebab banjir di Bali tidak hanya terbatas pada curah hujan ekstrem, seperti yang terjadi pada 9 September 2025 dengan intensitas 245,75 mm dalam sehari. Minimnya tutupan hutan di Daerah Aliran Sungai (DAS) yang hanya sekitar 3 persen, alih fungsi lahan dari hutan menjadi non-hutan seluas 459 hektare antara tahun 2015 hingga 2024, serta penumpukan sampah di aliran sungai turut memperparah daya serap air dan mempercepat terjadinya luapan. Kondisi ini diperparah oleh infrastruktur irigasi dan penahan tanah yang mungkin tidak lagi memadai menghadapi volume air yang masif. Di Kabupaten Buleleng sendiri, dalam dua pekan awal Januari 2026, telah tercatat 53 kejadian bencana, didominasi oleh tanah longsor dan pohon tumbang, termasuk satu insiden orang hanyut.

Ke depan, insiden tragis ini menggarisbawahi urgensi mitigasi bencana yang komprehensif di Bali. Pemerintah Provinsi Bali perlu mempertimbangkan moratorium konversi lahan untuk pembangunan baru guna melindungi kawasan resapan air yang tersisa. Optimalisasi pengelolaan sampah di hulu dan hilir sungai, serta peningkatan kapasitas infrastruktur pengendali banjir, menjadi krusial untuk mencegah terulangnya kejadian serupa. Selain itu, edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat mengenai risiko bencana, khususnya di daerah aliran sungai dan pesisir, menjadi investasi penting dalam melindungi nyawa, terutama anak-anak yang paling rentan. Peringatan dini bencana dan sistem evakuasi yang efektif harus terus ditingkatkan. Kementerian Sosial (Kemensos) telah menyalurkan santunan dan bantuan logistik kepada korban banjir sebelumnya, namun upaya preventif jangka panjang harus menjadi prioritas utama.