Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Dekomposisi Ekstrem Persulit Identifikasi Jenazah Pria Korban ATR 42-500 oleh DVI

2026-01-21 | 21:30 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-21T14:30:10Z
Ruang Iklan

Dekomposisi Ekstrem Persulit Identifikasi Jenazah Pria Korban ATR 42-500 oleh DVI

Tim Disaster Victim Identification (DVI) Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan menghadapi kendala signifikan dalam mengidentifikasi jenazah pria korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, menyusul kondisi jenazah yang ditemukan dalam keadaan bengkak dan sulit dikenali secara visual. Insiden yang terjadi pada 17 Januari 2026 itu telah menewaskan 10 orang, terdiri dari tujuh awak dan tiga penumpang dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Hingga Rabu, 21 Januari 2026, identifikasi terhadap jenazah pria tersebut masih berlanjut, sementara satu jenazah perempuan telah berhasil diidentifikasi sebagai Florencia Lolita Wibisono.

Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Kabiddokkes) Polda Sulawesi Selatan, Komisaris Besar dr. Muh Haris, menjelaskan bahwa pembengkakan pada jenazah dan perubahan kondisi fisik akibat faktor waktu serta lokasi penemuan menjadi tantangan utama. Jenazah pria tersebut ditemukan di kedalaman sekitar 200 meter di jurang Gunung Bulusaraung. Haris menambahkan, perbandingan dengan foto korban saat masih muda yang diberikan keluarga juga menyulitkan karena kondisi tubuh korban yang sudah berubah drastis pasca-kematian dan dampak cuaca ekstrem di lokasi kejadian.

Proses identifikasi korban bencana massal seperti ini mengacu pada standar internasional yang ditetapkan oleh INTERPOL, yang dikenal sebagai Disaster Victim Identification (DVI). Prosedur ini melibatkan empat fase utama: pemeriksaan di tempat kejadian, pemeriksaan post-mortem (data dari jenazah), pengumpulan informasi ante-mortem (data dari keluarga atau sebelum kematian), dan rekonsiliasi atau pencocokan data. Metode identifikasi dibagi menjadi primer dan sekunder. Metode primer, yang memiliki akurasi tertinggi, mencakup pemeriksaan sidik jari, profil gigi (odontologi), dan tes DNA. Jika sidik jari sulit diperoleh akibat kondisi jenazah, tim akan beralih ke profil gigi. Apabila keduanya masih belum membuahkan hasil, pemeriksaan DNA akan dilakukan, meskipun memerlukan waktu lebih lama.

Dalam kasus korban pesawat ATR 42-500 ini, tim DVI berupaya maksimal dengan metode alternatif. Kepala Pusat Identifikasi (Kapusident) Bareskrim Polri, Brigjen Pol Mashudi, mengungkapkan bahwa jenazah perempuan, Florencia Lolita Wibisono, dapat diidentifikasi melalui sidik jari karena kondisinya yang relatif baik. Namun, untuk jenazah pria, kondisi fisik yang bengkak dan kerusakan jaringan akibat perbedaan kedalaman penemuan (salah satu jenazah ditemukan di kedalaman 400 meter sementara yang lain di 200 meter) menyebabkan pemeriksaan sidik jari tidak selalu memungkinkan. Kondisi ini memaksa tim untuk lebih mengandalkan profil gigi atau bahkan DNA, sebuah proses yang lebih rumit dan memakan waktu.

Pentolan tim DVI menekankan bahwa ketelitian adalah prioritas utama daripada kecepatan. "Kami tidak membutuhkan kecepatan, tetapi ketepatan. Identitas korban harus dipastikan dengan benar," tegas Kombes dr. Muh Haris. Pernyataan ini menggarisbawahi komitmen untuk memverifikasi identitas korban secara ilmiah sebelum menyerahkan jenazah kepada keluarga, guna menghindari kesalahan fatal yang dapat menimbulkan penderitaan lebih lanjut bagi pihak keluarga.

Implikasi dari proses identifikasi yang berlarut-larut ini tidak hanya terbatas pada aspek forensik dan investigasi, tetapi juga memiliki dampak psikologis yang mendalam bagi keluarga korban yang menanti kepastian. Selain itu, identifikasi yang akurat sangat penting untuk penyelesaian administrasi hukum, asuransi, dan warisan. Pengalaman dari kecelakaan pesawat sebelumnya, seperti insiden AirAsia pada tahun 2014, menunjukkan bahwa kondisi jenazah yang rusak atau terendam air dapat sangat menghambat identifikasi, dengan pembusukan lanjut biasanya dimulai setelah lima hari dalam air. Para ahli forensik dari Universitas Gadjah Mada juga menyoroti bahwa pengumpulan data antemortem, seperti rekam medis atau gigi, seringkali menjadi bagian tersulit karena tidak semua data lengkap tersimpan atau mudah diakses.

Upaya tanpa henti tim DVI dalam menghadapi tantangan ekstrem ini merupakan tulang punggung dalam memberikan jawaban dan penutupan bagi keluarga yang berduka. Ke depan, kecanggihan teknologi dan peningkatan koordinasi dalam pengumpulan data antemortem akan menjadi kunci untuk mempercepat proses identifikasi dalam insiden massal serupa.