:strip_icc()/kly-media-production/medias/5446325/original/025310000_1765878759-_SUC__The_Founder5_II_-_Unfinished_Business_-_14122025_-_6D_-_1128.jpeg)
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi pada Minggu, 4 Januari 2026, secara terbuka menantang komika Pandji Pragiwaksono untuk meninjau langsung wilayah Jawa Barat menyusul kritik Pandji mengenai kecenderungan masyarakat Jawa Barat memilih pemimpin berlatar belakang artis dan label "gubernur konten" yang dilekatkan pada Dedi Mulyadi. Tantangan ini dilontarkan Dedi Mulyadi melalui media sosialnya sebagai respons terhadap potongan materi stand-up comedy Pandji yang mengemuka dalam pertunjukan spesial "Mens Rea" di Netflix, di mana Pandji menyentil bahwa "orang Sunda senang banget milih artis" dengan menyebut Deddy Mizwar, Dede Yusuf, dan Dedi Mulyadi sendiri sebagai "artis YouTube".
Dedi Mulyadi, yang memenangkan Pemilihan Gubernur Jawa Barat (Pilgub Jabar) 2024 bersama Erwan Setiawan dengan perolehan 14.130.192 suara atau 62,22 persen dari total suara sah untuk periode 2025-2030, mengundang Pandji untuk berkeliling dan melihat langsung pembangunan serta kinerja pemerintah provinsi. "Bang Pandji datang ke Jabar, keliling lewatin tuh jalan-jalan provinsi, kemudian keliling ke berbagai daerah di seluruh provinsi Jawa Barat, saya ngebangunnya bener apa enggak. Apakah saya ini hanya gubernur konten atau gubernur kenyataan?" ujar Dedi Mulyadi. Ia menyatakan apresiasinya terhadap kritik Pandji sebagai bagian dari demokrasi, namun menegaskan bahwa aktivitasnya di media sosial bukan sekadar pencitraan, melainkan dokumentasi integritas dan kinerja nyata.
Popularitas Dedi Mulyadi di Jawa Barat telah tercatat tinggi, bahkan sebelum kemenangannya di Pilgub 2024. Survei Litbang Kompas pada Agustus 2025 menunjukkan 97,1 persen responden menyukai sosok Dedi Mulyadi, dengan 98,9 persen menilai citranya baik. Sebuah survei Indikator Politik Indonesia pada Mei 2025 juga menempatkan kepuasan publik terhadap Dedi Mulyadi sebagai gubernur tertinggi di Pulau Jawa, mencapai 94,7 persen. Analis politik seperti Gun Gun Heryanto dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta sebelumnya mencatat popularitas Dedi Mulyadi dalam survei Indikator Politik Indonesia pada September 2024 disebabkan oleh dukungan partai politik dan investasinya yang panjang di Jawa Barat. Pendekatan komunikasinya yang populis, sering menampilkan budaya Sunda dan berinteraksi langsung dengan masyarakat melalui media sosial, dianggap efektif dalam membangun kedekatan dan citra otentik sebagai "pemimpin yang hadir langsung".
Fenomena "gubernur konten" yang disematkan kepada Dedi Mulyadi merupakan hasil dari konsistensinya mendokumentasikan kegiatan birokrasinya di lapangan dan membagikannya melalui platform digital. Dedi Mulyadi berargumen bahwa dokumentasi ini justru menjadi bukti otentik dari pekerjaannya dan mampu mengurangi biaya belanja iklan pemerintah secara signifikan, dari puluhan miliar menjadi sekitar tiga miliar rupiah. Dia juga menekankan bahwa rekaman kegiatan yang utuh di media sosial dapat menangkal fitnah atau pemutarbalikan fakta yang mungkin terjadi jika kegiatan tersebut hanya direkam sepotong-sepotong oleh pihak lain.
Tantangan ini menyoroti pergeseran strategi komunikasi politik di era digital, di mana figur publik memanfaatkan media sosial untuk membangun citra dan berinteraksi dengan konstituen. Bagi Dedi Mulyadi, penggunaan platform digital adalah cara untuk menunjukkan transparansi dan akuntabilitas. Bagi Pandji Pragiwaksono, kritiknya adalah upaya untuk memprovokasi pemikiran kritis publik terhadap pilihan pemimpin. Dinamika antara politisi yang merangkul media sosial dan kritikus yang mempertanyakan substansi di balik "konten" menjadi cerminan perdebatan yang lebih luas tentang esensi kepemimpinan di tengah banjir informasi dan ekspektasi publik akan otentisitas. Implikasinya, tantangan ini tidak hanya menjadi duel retorika, tetapi juga ajang pembuktian model kepemimpinan yang efektif di Jawa Barat, daerah dengan demografi pemilih yang kompleks dan dinamis.