Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Dampak Hujan Ekstrem Gunungkidul: Pohon Tumbang Rusak Parah Rumah dan Kandang Ternak Warga

2026-01-02 | 08:28 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-02T01:28:27Z
Ruang Iklan

Dampak Hujan Ekstrem Gunungkidul: Pohon Tumbang Rusak Parah Rumah dan Kandang Ternak Warga

Hujan deras disertai angin kencang yang melanda Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, sejak Kamis, 1 Januari 2026, memicu serangkaian insiden pohon tumbang yang merusak sejumlah rumah warga dan kandang hewan ternak. Peristiwa cuaca ekstrem ini telah menyebabkan puluhan pohon ambruk di berbagai kapanewon, mengganggu akses jalan dan jaringan listrik, serta menimbulkan kerugian material signifikan bagi masyarakat.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, Purwono, mengonfirmasi bahwa dominasi kejadian adalah pohon tumbang yang menimpa rumah warga, kandang ternak, pagar, hingga jaringan listrik. Beberapa akses jalan sempat tertutup total, memerlukan penanganan darurat dari tim gabungan. Di Padukuhan Kemorosari I, Kalurahan Piyaman, sebuah pohon jati dilaporkan tumbang menimpa kandang ternak milik warga pada Kamis siang. Kerusakan rumah juga tercatat di Gondangrejo Gari, sementara di wilayah Paliyan, beberapa rumah warga di Jetis, Pampang, Kedungdowo, Jamburejo, hingga Muntuk Mulusan, mengalami kerusakan akibat tertimpa pohon jati, randu, atau diterpa angin kencang yang menerbangkan atap.

Di Wonosari, pohon asem londo patah dan menutup akses Jalan Kesatrian Jeruk, sementara pohon asem raksasa ambruk di kawasan Sewokoprojo. Insiden serupa juga terjadi di Playen, di mana pohon jati menutupi akses jalan kampung di Logandeng, serta pohon tumbang menutup ruas jalan Siono Tengah dan jalur wisata Klampeyan di Tanjungsari. Kepala Bidang Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana BPBD Gunungkidul, Nanang Irwanto, menjelaskan bahwa rata-rata kerusakan diakibatkan oleh angin kencang yang menyebabkan pohon tumbang dan atap rumah warga berterbangan. Total sebelas rumah, dua kantor, tiga ruas jalan, dan tiga titik kabel listrik putus dilaporkan rusak pada Kamis (1/1/2026). Pada Rabu, 31 Desember 2025, angin puting beliung disertai hujan deras juga menerjang Dusun Saban, Kalurahan Karangwuni, Kapanewon Rongkop, menyebabkan 28 unit rumah mengalami kerusakan ringan hingga sedang dan beberapa pohon tumbang menutup akses jalan setempat. Edy Winarto, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul, mencatat 29 bangunan rumah, talud, serta fasilitas umum rusak dengan perkiraan kerugian mencapai belasan juta rupiah akibat hujan deras dan angin kencang pada 31 Desember 2025. Hingga saat ini, tidak ada laporan korban jiwa dalam serangkaian peristiwa tersebut.

Kondisi ini bukan kali pertama terjadi di Gunungkidul. Wilayah ini secara geografis memang rentan terhadap bencana hidrometeorologi, terutama saat musim hujan. Agustinus Ruruh Haryata, Kepala Pelaksana BPBD DIY, pada akhir Desember 2025 melaporkan cuaca ekstrem telah memicu pohon tumbang dan kerusakan rumah warga di sejumlah wilayah DIY, termasuk tujuh titik kejadian di Gunungkidul yang meliputi tiga pohon tumbang, dua rumah rusak, dan dampak pada 28 kios di Tanjungsari, Wonosari, dan Playen. Bahkan, pada Februari 2023, BPBD Gunungkidul juga mencatat longsor di Patuk yang menimpa rumah dan kandang ternak.

Ancaman pohon tumbang merupakan siklus tahunan yang kerap membayangi masyarakat Gunungkidul. BMKG telah memprediksi peningkatan curah hujan di DIY, termasuk Gunungkidul, yang akan berlangsung mulai Januari hingga awal Maret 2026, meningkatkan potensi cuaca ekstrem di masa mendatang. Kondisi pohon yang lapuk atau rimbun menjadi faktor pemicu kerentanan ini.

Menyikapi risiko berulang ini, BPBD Gunungkidul telah melakukan upaya mitigasi berupa pemangkasan pohon-pohon besar yang berpotensi tumbang sebagai bagian dari langkah antisipasi cuaca ekstrem di musim pancaroba. Purwono dari BPBD Gunungkidul mengimbau warga untuk lebih sering memantau kondisi cuaca melalui aplikasi BMKG dan mengurangi aktivitas di luar rumah jika kondisi cuaca membahayakan. Edy Winarto juga menekankan pentingnya warga memperhatikan informasi cuaca, memangkas pohon lapuk dan cabang berlebih, serta menghindari pohon besar, tiang listrik, reklame, dan daerah rawan longsor saat hujan deras disertai angin kencang.

Dampak terhadap kandang ternak memiliki implikasi serius bagi perekonomian lokal. Masyarakat Gunungkidul sangat bergantung pada sektor peternakan, di mana sapi dan kambing seringkali dijadikan investasi atau tabungan. Kerusakan pada kandang atau kematian ternak dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan, sebagaimana pernah terjadi saat kekeringan yang memaksa warga menjual ternak demi membeli air bersih. Peristiwa ini menyoroti kerentanan ekonomi masyarakat pedesaan terhadap dampak bencana alam.

Penanganan darurat atas insiden 1 Januari 2026 melibatkan berbagai unsur, termasuk BPBD, Pemadam Kebakaran, SAR, Tagana, MDMC, Polres, Gardasigab, hingga masyarakat setempat melalui kerja bakti. Keterlibatan aktif pemerintah kalurahan dan kepolisian juga terlihat dalam membantu evakuasi material dan perbaikan darurat. Respons cepat ini vital untuk meminimalkan risiko sekunder dan membantu warga segera pulih. Namun, kewaspadaan kolektif dan langkah mitigasi proaktif akan tetap menjadi kunci untuk menghadapi tantangan cuaca ekstrem yang diperkirakan masih akan berlanjut di Jawa Tengah dan Yogyakarta.