:strip_icc()/kly-media-production/medias/5479010/original/023467800_1768964673-056157000_1678851940-pelabuhan_jangkar_2.jpeg)
Petugas Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya mengumumkan penundaan operasional seluruh jadwal kapal feri tujuan Madura hingga Jumat, 24 Januari 2026, menyusul kondisi cuaca ekstrem di Selat Madura yang dinilai membahayakan pelayaran. Keputusan ini diambil setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Perak mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi dan angin kencang di perairan Jawa Timur, termasuk Selat Madura, yang diperkirakan berlangsung hingga akhir pekan ini. Penundaan ini berdampak langsung pada ribuan penumpang dan ratusan kendaraan yang biasa melintas setiap hari, memaksa mereka mencari jalur alternatif atau menunda perjalanan esensial.
Penundaan layanan penyeberangan ini bukanlah kejadian yang terisolasi. Selat Madura, sebagai salah satu jalur maritim tersibuk di Indonesia, secara periodik menghadapi tantangan cuaca ekstrem, terutama selama musim hujan puncak pada bulan Januari dan Februari. Pola cuaca yang tidak menentu ini seringkali dipengaruhi oleh monsun barat, yang membawa curah hujan tinggi dan angin kencang dari Samudra Hindia, menyebabkan gelombang laut mencapai ketinggian signifikan. Pada Januari 2025, misalnya, penundaan serupa juga terjadi selama tiga hari akibat gelombang setinggi 2,5 meter yang menghantam wilayah tersebut. Pihak otoritas pelabuhan, termasuk PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), secara konsisten memprioritaskan keselamatan pelayaran di atas segala pertimbangan operasional, sejalan dengan standar keselamatan maritim internasional.
Implikasi penundaan ini meluas melampaui kenyamanan penumpang. Sektor ekonomi lokal di Madura dan Jawa Timur sangat bergantung pada kelancaran distribusi barang melalui jalur laut ini. Kendaraan logistik, yang mengangkut komoditas pertanian, hasil laut, dan kebutuhan pokok, kini terhambat. Data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur menunjukkan bahwa sekitar 30% pasokan bahan pokok ke Madura disalurkan melalui jalur laut dari Surabaya setiap harinya. Setiap hari penundaan berpotensi mengakibatkan kerugian jutaan rupiah bagi para pedagang dan pelaku usaha kecil menengah. Selain itu, tenaga kerja harian yang bergantung pada perjalanan komuter lintas selat juga mengalami kerugian pendapatan.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Perhubungan telah mengimbau masyarakat untuk memantau informasi terkini dari otoritas pelabuhan dan BMKG. Alternatif jembatan Suramadu tetap terbuka, namun tidak semua jenis kendaraan dan volume lalu lintas dapat terakomodasi secara efisien, terutama untuk angkutan barang berat yang biasanya memilih jalur feri karena kapasitas angkut yang lebih besar dan biaya operasional tertentu. Penundaan ini kembali menyoroti urgensi mitigasi dampak cuaca ekstrem terhadap konektivitas regional, termasuk potensi peningkatan kapasitas dan frekuensi jembatan Suramadu atau pengembangan infrastruktur alternatif yang lebih tahan terhadap kondisi cuaca. Ke depan, sinkronisasi data prakiraan cuaca maritim dengan jadwal operasional transportasi laut menjadi krusial untuk meminimalkan disrupsi dan kerugian ekonomi yang berulang.