Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Buaya Lisa Kembali Resahkan SMAN 5 Depok, Pemkot Depok Gandeng Komunitas Reptil untuk Penangkapan

2026-01-20 | 15:45 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-20T08:45:42Z
Ruang Iklan

Buaya Lisa Kembali Resahkan SMAN 5 Depok, Pemkot Depok Gandeng Komunitas Reptil untuk Penangkapan

Seekor buaya muara yang oleh warga dijuluki "Lisa" kembali menampakkan diri di aliran sungai yang berbatasan langsung dengan SMAN 5 Depok, Kelurahan Bedahan, Kecamatan Sawangan, pada Senin, 19 Januari 2026. Kemunculan reptil sepanjang sekitar 1,5 meter ini terekam dalam video yang dibuat oleh seorang guru dan dengan cepat menyebar di media sosial, memicu kembali kekhawatiran di kalangan siswa, staf sekolah, dan masyarakat sekitar. Pemerintah Kota Depok mengakui kesulitan dalam penanganan buaya ini dan kini menggandeng komunitas pencinta reptil untuk membantu upaya penangkapan.

Kemunculan "Lisa" bukanlah kali pertama. Buaya ini telah menjadi "penunggu" sungai di belakang SMAN 5 Depok selama hampir satu tahun terakhir. Guru SMAN 5 Depok, Nurbaiti Fadillah, menjelaskan bahwa awalnya terdapat dua ekor buaya berukuran kecil yang menyerupai kadal. Satu di antaranya berhasil ditangkap oleh sekuriti sekolah dan kemudian diserahkan kepada pecinta reptil. Namun, satu ekor lainnya, yang kini dikenal sebagai "Lisa", berhasil lolos dan terus membesar hingga ukuran saat ini. Humas SMAN 5 Depok, Yasin, menyebutkan bahwa penamaan "Lisa" adalah spontanitas dari guru dan siswa yang kerap melihat buaya tersebut berjemur di area sungai saat jam istirahat. Ia memperkirakan, buaya ini sudah rutin terlihat sejak sekitar Agustus 2025, dengan ukuran awal 25-30 sentimeter.

Pihak sekolah telah berulang kali melaporkan kemunculan buaya ini kepada Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Depok. Namun, upaya evakuasi oleh Damkar belum membuahkan hasil, terkendala keterbatasan alat dan sifat buaya yang sering muncul dan menghilang dengan cepat. Kepala Bidang Operasi Pengendalian Kebakaran dan Penyelamatan Kota Depok, Tessy Haryati, sebelumnya menegaskan bahwa penanganan satwa liar dilindungi seperti buaya adalah kewenangan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan mengimbau warga untuk melapor ke instansi tersebut.

Merespons situasi ini, Lurah Bedahan, Sukron Mamun, mengakui bahwa kemunculan "Lisa" telah menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai bagi pemerintah setempat. "Kemunculan buaya yang sempat viral di media sosial itu diharapkan dapat diselesaikan dengan bantuan pencinta reptil atau pawang buaya," kata Sukron pada Selasa, 20 Januari 2026. Pernyataan ini mengindikasikan langkah koordinasi baru dari Pemkot Depok untuk melibatkan keahlian komunitas di luar lembaga resmi yang ada. Kekhawatiran meningkat mengingat batas antara sungai dan bangunan sekolah hanya dipisahkan oleh turap beton. Nurbaiti Fadillah menambahkan bahwa buaya itu kerap menampakkan diri di atas pukul 11.00 WIB, menimbulkan kecemasan bagi para murid dan guru. Bahkan, rapat wali murid sempat diadakan untuk membahas penampakan buaya ini.

Fenomena kemunculan buaya di lingkungan urban seperti Depok menyoroti konflik antara pembangunan perkotaan yang pesat dan habitat alami satwa liar. Pemkot Depok menduga buaya ini terbawa arus aliran Kali Caringin, yang berbatasan dengan SMAN 5 Depok, dan memastikan tidak ada penangkaran buaya di Kelurahan Bedahan. Para ahli konservasi seringkali mengaitkan kemunculan satwa liar di pemukiman dengan hilangnya habitat dan sumber makanan alami mereka. Keterlibatan komunitas reptil atau pawang buaya diharapkan dapat memberikan pendekatan yang lebih adaptif dalam upaya penangkapan, mengingat mereka memiliki keahlian khusus dan pemahaman terhadap perilaku reptil. Namun, tantangan terbesar tetap pada keberlanjutan solusi, yang tidak hanya berfokus pada penangkapan individu buaya, tetapi juga pada pengelolaan ekosistem sungai dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang koeksistensi dengan satwa liar yang terancam habitatnya.