Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

BMKG Ubah Langit: Modifikasi Cuaca Dikerahkan untuk Evakuasi Korban ATR 42-500

2026-01-20 | 01:25 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-19T18:25:34Z
Ruang Iklan

BMKG Ubah Langit: Modifikasi Cuaca Dikerahkan untuk Evakuasi Korban ATR 42-500

Makassar, Sulawesi Selatan – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar bergerak cepat menyiapkan operasi modifikasi cuaca (OMC) demi memperlancar evakuasi korban dan puing pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang jatuh di kawasan pegunungan Bulusaraung, Maros, Sulawesi Selatan, sejak Sabtu, 17 Januari 2026. Keputusan ini diambil setelah operasi pencarian dan pertolongan (SAR) selama dua hari terakhir terkendala cuaca ekstrem dan medan terjal.

Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, secara resmi bersurat kepada BMKG pada Senin, 19 Januari 2026, memohon dilakukannya modifikasi cuaca. "Cuaca buruk dan medan ekstrem menjadi kendala dalam proses pencarian. Makanya, modifikasi cuaca ini sangat penting," ujar Sudirman, berharap langkah ini dapat melancarkan evakuasi, terutama dari udara. Menanggapi permohonan tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BMKG Wilayah IV Makassar, Nasrol Adil, menegaskan pihaknya segera melaksanakan modifikasi cuaca. Satu unit pesawat khusus telah disiapkan dari Semarang untuk menaburkan bahan tertentu seperti Kalsium Oksida (CaO) atau zat kapur guna mengendalikan intensitas curah hujan dan mengurangi potensi pembentukan awan di area operasi.

Pesawat ATR 42-500 dengan nomor registrasi PK-THT, yang dioperasikan oleh Indonesia Air Transport (IAT) dan digunakan oleh Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (Ditjen PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), hilang kontak pada Sabtu, 17 Januari 2026, setelah lepas landas dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Pesawat yang membawa 10 orang, terdiri dari 7 awak dan 3 penumpang, diduga menabrak lereng Gunung Bulusaraung. Tiga penumpangnya adalah pegawai KKP yang tengah menjalankan misi pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan melalui udara. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengategorikan insiden ini sebagai Controlled Flight Into Terrain (CFIT), di mana pesawat dalam kendali awak namun menabrak medan.

Kondisi cuaca di sekitar lokasi kejadian, meskipun jarak pandang awal dilaporkan sekitar 8 kilometer dengan sedikit berawan, dengan cepat memburuk di kawasan pegunungan Bulusaraung menjadi berkabut tebal dan berubah-ubah, sangat menghambat operasi SAR. Tim SAR gabungan telah menemukan satu jenazah korban di jurang dekat lokasi serpihan pesawat pada Minggu, 18 Januari 2026, yang kini dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Makassar untuk identifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI). Selain itu, beberapa serpihan pesawat, termasuk bagian dinding dan buku pilot, telah ditemukan di lereng Gunung Bulusaraung, yang kini diamankan di Mapolres Pangkep. Proses pencarian kotak hitam (black box) menjadi prioritas utama KNKT untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan.

Operasi modifikasi cuaca ini bukan kali pertama diterapkan di Indonesia untuk mendukung misi kemanusiaan. Pengalaman sebelumnya menunjukkan efektivitasnya dalam menekan intensitas hujan di area tertentu, meskipun penerapannya di medan pegunungan yang kompleks seperti Bulusaraung, dengan topografi karst yang terjal dan hutan lebat, menimbulkan tantangan tersendiri. Namun, dengan koordinasi yang solid antara BMKG, Basarnas, TNI Angkatan Udara, dan pemerintah daerah, diharapkan OMC dapat menciptakan jendela cuaca yang lebih baik, memungkinkan tim SAR udara dan darat untuk bekerja lebih maksimal dalam menemukan sembilan korban yang masih hilang serta mengumpulkan bukti-bukti krusial untuk investigasi. Langkah ini mencerminkan adaptasi teknologi dalam menghadapi kondisi alam yang menantang demi kelancaran operasi penyelamatan jiwa dan investigasi keselamatan penerbangan.