Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Banjir Kudus Lumpuhkan Puluhan Sekolah, Pembelajaran Beralih Daring

2026-01-15 | 22:09 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-15T15:09:23Z
Ruang Iklan

Banjir Kudus Lumpuhkan Puluhan Sekolah, Pembelajaran Beralih Daring

Puluhan lembaga pendidikan dasar dan menengah di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, terpaksa menghentikan kegiatan belajar mengajar tatap muka dan beralih ke sistem pembelajaran daring sejak awal Januari 2026 akibat banjir yang merendam area sekolah dan akses jalan. Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus mencatat setidaknya 40 sekolah, termasuk sekolah dasar dan menengah pertama, di lima kecamatan terdampak langsung oleh genangan air dengan ketinggian bervariasi antara 30 sentimeter hingga lebih dari satu meter. Langkah ini diambil untuk memastikan keselamatan siswa dan guru serta menjaga keberlangsungan proses pendidikan di tengah bencana.

Banjir yang melanda wilayah Kudus, khususnya di kecamatan Mejobo, Jati, Undaan, Kaliwungu, dan Jekulo, dipicu oleh intensitas hujan tinggi yang berlangsung selama beberapa hari serta luapan sejumlah sungai, termasuk Sungai Wulan dan Sungai Juana. Kondisi geografis Kudus yang sebagian besar merupakan dataran rendah dan dikelilingi oleh pegunungan, ditambah dengan sistem drainase yang belum optimal, menjadikan wilayah ini rentan terhadap banjir musiman. Data historis menunjukkan bahwa Kudus seringkali menghadapi banjir signifikan, terutama pada musim penghujan. Misalnya, pada awal 2023, puluhan sekolah juga terdampak, memaksa ratusan siswa belajar dari rumah. Pola ini menimbulkan kekhawatiran jangka panjang terhadap kualitas pendidikan dan infrastruktur sekolah di daerah tersebut.

Kepala Disdikpora Kabupaten Kudus, Bapak Harjuna Widodo, menyatakan bahwa penutupan sekolah bersifat sementara dan akan dievaluasi secara berkala sesuai dengan kondisi genangan air. "Prioritas utama kami adalah keselamatan anak-anak dan tenaga pengajar. Kami telah menginstruksikan seluruh sekolah terdampak untuk beralih ke pembelajaran daring melalui platform yang tersedia," ujarnya. Harjuna menambahkan bahwa pihaknya juga berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus untuk memantau situasi dan mempersiapkan langkah-langkah pemulihan pasca-banjir. Namun, tantangan pembelajaran daring di daerah terdampak, khususnya ketersediaan akses internet dan perangkat bagi siswa dari keluarga kurang mampu, tetap menjadi perhatian serius.

Implikasi jangka panjang dari frekuensi banjir ini terhadap sektor pendidikan di Kudus cukup mendalam. Selain potensi penurunan kualitas pembelajaran akibat gangguan tatap muka, kerusakan fasilitas sekolah seperti meja, kursi, buku, dan perangkat elektronik juga berulang kali terjadi. Kerugian material akibat banjir 2023 di Kudus diperkirakan mencapai miliaran rupiah, dan kerugian serupa kemungkinan terulang tahun ini. Hal ini membebani anggaran daerah untuk rehabilitasi dan pemulihan, yang seharusnya dapat dialokasikan untuk peningkatan mutu pendidikan. Para pengamat pendidikan dan ahli tata kota menyarankan perlunya solusi komprehensif, bukan hanya respons reaktif. Pakar hidrologi dari Universitas Diponegoro, Dr. Budi Santoso, menekankan pentingnya revitalisasi daerah aliran sungai, pembangunan tanggul yang memadai, serta perbaikan sistem drainase perkotaan secara berkelanjutan. "Tanpa intervensi struktural yang signifikan, masalah banjir yang berimbas pada sektor vital seperti pendidikan ini akan terus berulang setiap tahun," kata Budi.

Peralihan ke sistem daring, meskipun menjadi solusi darurat, juga memperlebar kesenjangan pendidikan. Siswa yang tinggal di daerah dengan akses internet terbatas atau tidak memiliki perangkat pendukung mengalami kesulitan signifikan untuk mengikuti pelajaran. Guru-guru dihadapkan pada tantangan adaptasi metodologi pengajaran daring dan keterbatasan dalam memantau kemajuan belajar siswa secara efektif. Pemerintah daerah diharapkan tidak hanya fokus pada penanganan banjir pasca-kejadian, tetapi juga pada program mitigasi jangka panjang yang melibatkan berbagai sektor untuk melindungi aset pendidikan dan memastikan hak anak atas pendidikan tidak terganggu secara sistematis oleh bencana alam yang berulang.