:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475766/original/092562300_1768648159-KAI_Semarang_Tawang3.jpeg)
Puluhan ribu penumpang kereta api di Indonesia mengalami pembatalan perjalanan dan mengajukan pengembalian dana tiket senilai miliaran rupiah akibat banjir parah yang melanda sejumlah wilayah di Jakarta dan Semarang sejak pertengahan Januari 2026. Sebanyak 38.000 penumpang telah membatalkan tiket mereka hingga Senin, 19 Januari 2026, dengan total nilai pengembalian dana mencapai Rp3,5 miliar, mencerminkan dampak signifikan bencana alam terhadap sektor transportasi darat nasional.
Banjir yang dipicu curah hujan tinggi dan cuaca ekstrem ini menyebabkan genangan air di lintasan rel kereta api di Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta dan Daop 4 Semarang, khususnya di wilayah Pekalongan, Jawa Tengah, di mana tanggul dilaporkan jebol. Kondisi ini memaksa PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI untuk melakukan rekayasa pola operasi, termasuk pengalihan rute, pembatasan kecepatan, hingga pembatalan puluhan perjalanan kereta api. Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyatakan bahwa keselamatan perjalanan kereta api dan pelanggan menjadi prioritas utama.
Manajer Humas KAI Daop 1 Jakarta Franoto Wibowo menjelaskan bahwa banjir di Pekalongan berdampak langsung terhadap pola operasi perjalanan kereta api jarak jauh, mengharuskan penyesuaian rute atau pembatalan. Secara kumulatif, Anne Purba menyebutkan bahwa 38.000 pelanggan telah berhasil melakukan pembatalan tiket. EVP of Sales PT KAI Ririn Widi Astutik menambahkan bahwa nilai Rp3,5 miliar tersebut dihitung untuk periode 15 hingga 18 Januari 2026, dan masih dalam proses penghitungan total kerugian secara menyeluruh.
Dampak banjir ini juga merembet ke wilayah Jawa Barat. PT KAI Daerah Operasi 2 Bandung, misalnya, resmi membatalkan empat perjalanan kereta api pada Minggu, 18 Januari 2026, termasuk rute padat penumpang tujuan Jakarta (Gambir) dan Semarang. Manajer Humas KAI Daop 2 Bandung Kuswardojo merinci perjalanan yang dibatalkan meliputi KA Papandayan, KA Ciremai, serta dua jadwal perjalanan KA Argo Parahyangan, yang penting bagi mobilitas warga Jawa Barat menuju ibu kota dan kota-kota di Jawa Tengah.
Pembatalan perjalanan tidak hanya berdampak pada individu yang terpaksa menunda atau membatalkan rencana perjalanan, tetapi juga pada roda perekonomian. Jalur kereta api merupakan tulang punggung logistik bagi banyak daerah, dan gangguan operasional dapat menghambat distribusi barang serta mobilitas tenaga kerja. KAI berkomitmen memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan, termasuk pengembalian dana tiket penuh 100 persen bagi yang terdampak, maksimal tujuh hari sejak tanggal keberangkatan pada tiket.
Kejadian ini bukan kali pertama transportasi kereta api terganggu akibat banjir, terutama di wilayah rawan seperti jalur utara Jawa. Data historis menunjukkan bahwa infrastruktur perkeretaapian sering menjadi korban genangan air, memerlukan investasi berkelanjutan dalam mitigasi bencana. Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menekankan bahwa cuaca ekstrem menjadi pemicu utama. Perusahaan mengerahkan petugas prasarana dan sarana untuk normalisasi lintasan, penguatan badan jalan rel, serta berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait untuk penanganan dampak banjir.
Melihat pola berulang bencana banjir yang mengganggu layanan transportasi, urgensi untuk membangun infrastruktur yang lebih tangguh dan adaptif terhadap perubahan iklim menjadi semakin mendesak. Implikasi jangka panjang meliputi kebutuhan akan sistem peringatan dini yang lebih canggih, peningkatan kapasitas drainase di sekitar jalur rel, serta pembangunan tanggul dan elevasi rel di titik-titik rawan banjir. Tanpa intervensi komprehensif, gangguan operasional serupa diperkirakan akan terus terjadi, mengikis kepercayaan publik dan menimbulkan kerugian ekonomi yang substansial.