:strip_icc()/kly-media-production/medias/3176861/original/059460500_1594460731-080457900_1594372867-20200710-Kereta-Jarak-Jauh-1.jpg)
Curah hujan ekstrem pada Minggu, 18 Januari 2026, melumpuhkan sejumlah jalur kereta api di Jakarta dan Semarang, memaksa PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI membatalkan 38 perjalanan secara nasional, termasuk empat rangkaian kereta api dari Bandung tujuan Jakarta dan Semarang. Pembatalan ini berdampak langsung pada ratusan penumpang dari Stasiun Bandung yang terpaksa menunda perjalanan atau mencari alternatif transportasi, memicu antrean panjang di loket pengembalian tiket.
Manajer Humas KAI Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung, Kuswardojo, menjelaskan bahwa keputusan pembatalan ini merupakan langkah preventif yang tidak terhindarkan demi menjamin keselamatan perjalanan dan penumpang di tengah kondisi cuaca ekstrem. Jalur rel yang terendam genangan air di wilayah Daop 1 Jakarta dan Daop 4 Semarang membuat lintasan tidak aman untuk dilalui, menyebabkan keterlambatan tinggi dan potensi risiko operasional. Empat perjalanan dari Daop 2 Bandung yang dibatalkan meliputi dua jadwal KA Argo Parahyangan relasi Bandung-Gambir (keberangkatan pukul 11.05 WIB dan 13.05 WIB), KA Papandayan relasi Garut-Gambir (berangkat dari Bandung pukul 14.54 WIB), serta KA Ciremai relasi Bandung-Cikampek-Semarang Tawang (keberangkatan pukul 16.55 WIB).
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menegaskan bahwa keselamatan perjalanan kereta api dan pelanggan menjadi prioritas utama. KAI telah melakukan rekayasa pola operasi, termasuk pengalihan rute dan pembatasan kecepatan, di samping pembatalan perjalanan. Bagi penumpang yang terdampak, KAI menawarkan pengembalian bea tiket sebesar 100 persen di luar biaya pemesanan, sebuah kebijakan yang berlaku untuk keberangkatan tanggal 17-18 Januari 2026. Banyak penumpang, seperti Lidia dari Bekasi dan Sharen dari Jakarta, mengaku baru mengetahui pembatalan setibanya di stasiun dan harus segera mencari moda transportasi lain.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah memprakirakan potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Jawa Tengah (termasuk Semarang) dan hujan di Jakarta serta Bandung pada periode awal Januari 2026, yang didukung oleh gangguan dinamika atmosfer. Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Ahmad Yani Semarang, Yoga Sambodo, pada awal Januari 2026 menjelaskan bahwa suhu permukaan laut yang relatif hangat di Laut Jawa, bibit siklon di Samudra Hindia, serta aktifnya gelombang ekuatorial Rossby dan seruakan udara dingin dari Asia, secara bersama-sama meningkatkan potensi hujan lebat.
Banjir di Jakarta dan Semarang merupakan permasalahan kronis yang berulang setiap musim penghujan, dengan akar masalah yang kompleks. Di Jakarta, faktor geografis sebagai dataran rendah dengan 13 aliran sungai, ditambah dengan curah hujan tinggi, minimnya daerah resapan air akibat pembangunan masif, penurunan muka tanah, serta masalah pengelolaan sampah, menjadi penyebab utama. Pada Januari 2020, curah hujan di Jakarta mencapai 377 mm/hari, melebihi kapasitas drainase kota yang dirancang untuk 120 mm/hari. Sementara itu, Semarang menghadapi tantangan ganda dari hujan deras dan banjir rob akibat pasangnya air laut, diperparah oleh pendangkalan sungai dan keterbatasan saluran drainase. Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti pada November 2025 menyebut kerugian ekonomi akibat banjir bisa mencapai ratusan miliar rupiah karena lumpuhnya aktivitas warga dan distribusi barang. Kerugian akibat banjir di Semarang bahkan pernah ditaksir mencapai Rp850 miliar hingga Rp1,5 triliun.
KAI telah mengerahkan petugas prasarana dan sarana untuk normalisasi lintasan dan penguatan badan jalan rel, serta berkoordinasi intensif dengan pemerintah daerah dan instansi terkait untuk penanganan dampak banjir. Namun, insiden pembatalan perjalanan kereta api ini menggarisbawahi kerentanan infrastruktur vital terhadap dampak perubahan iklim dan cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi. Upaya mitigasi jangka panjang, termasuk perbaikan sistem drainase, normalisasi sungai, dan penataan ruang yang berkelanjutan, menjadi krusial untuk meminimalisir gangguan serupa di masa depan dan memastikan mobilitas serta ekonomi tidak terus-menerus terhantam bencana hidrometeorologi.