Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Banjir Bandang Mengamuk di Guci Tegal: Destinasi Air Panas dan Pancuran 13 Porak-poranda

2026-01-01 | 05:04 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-31T22:04:35Z
Ruang Iklan

Banjir Bandang Mengamuk di Guci Tegal: Destinasi Air Panas dan Pancuran 13 Porak-poranda

Banjir bandang menerjang kawasan objek wisata pemandian air panas Guci, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, pada Sabtu, 20 Desember 2025 sore, menyebabkan kerusakan parah pada fasilitas utama, termasuk Pancuran 13 yang dilaporkan lenyap diterjang arus deras. Peristiwa ini dipicu oleh hujan deras berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah hulu Gunung Slamet sejak siang hari, mengakibatkan luapan Sungai Gung yang membawa material lumpur, pasir, batu, dan potongan kayu ke area wisata.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Provinsi Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, menjelaskan bahwa kolam air panas di Pancuran 13 hilang atau tergerus banjir bandang, sementara jembatan kecil di area tersebut juga rusak atau hilang. Material lumpur, pasir, dan batu menutupi sebagian area wisata. Dampak serupa juga dialami Pancuran 5 yang turut tertutup material dan ditutup sementara. Selain itu, pipa distribusi air panas yang vital untuk pasokan hotel dan vila di kawasan tersebut ikut hanyut atau rusak parah. Meski demikian, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan tidak ada laporan korban jiwa dalam insiden ini.

Secara historis, kawasan Guci yang terletak di lereng Gunung Slamet dan dilalui beberapa aliran sungai kecil memang rentan terhadap banjir bandang saat curah hujan tinggi, diperparah oleh kontur perbukitan. Dugaan awal seringkali mengarah pada kerusakan hutan di hulu. Namun, hasil pemantauan lapangan oleh Perum Perhutani KPH Pekalongan Barat pada 25 Desember 2025 menunjukkan bahwa kondisi hutan di bagian hulu Sungai Gung, khususnya di petak 50-A, 50-B1, dan 50-C1 yang berjarak sekitar 300 meter hingga 1,5 kilometer di atas Pancuran 13, masih berdiri kokoh, lebat, dan terjaga, dengan vegetasi pinus yang rapat berfungsi optimal sebagai penahan air hujan dan pengikat tanah. Ini mengindikasikan bahwa intensitas curah hujan yang ekstrem menjadi faktor dominan dalam peristiwa ini.

Menyusul bencana tersebut, area Pancuran 13 segera ditutup total untuk umum, dan aparat kepolisian dari Polres Tegal langsung mengamankan lokasi, memasang garis polisi, serta mengimbau masyarakat untuk menjauhi bibir sungai. Tim gabungan dari BPBD Kabupaten Tegal, TNI, Polri, dan relawan segera diterjunkan untuk melakukan kaji cepat dan penanganan darurat, termasuk pengerahan alat berat untuk membersihkan material sisa banjir.

Bupati Tegal, Ischak Maulana Rohman, setelah meninjau lokasi pada 23 Desember 2025, menargetkan pembersihan Pancuran 13 selesai dalam waktu sekitar tujuh hari dan memastikan objek wisata Guci secara umum tetap aman untuk dikunjungi selama libur Natal dan Tahun Baru. Meskipun Pancuran 13 masih dalam tahap renovasi, Pancuran 5 dilaporkan sudah kembali normal dan beroperasi. Bupati juga menyarankan penambahan alat berat untuk mempercepat proses normalisasi. Namun, ia mengakui adanya kekhawatiran dari sebagian wisatawan, yang terlihat dari penurunan tingkat kunjungan hingga 60 persen pasca banjir.

Implikasi jangka panjang dari peristiwa ini menuntut peningkatan kesiapsiagaan. BPBD Kabupaten Tegal berencana mengintensifkan sistem monitoring dan Early Warning System (EWS) berdasarkan prakiraan cuaca guna menekan risiko bencana susulan. Wisatawan juga diimbau untuk mempertimbangkan faktor cuaca dan memantau informasi dari BMKG sebelum berkunjung. Perbaikan infrastruktur, khususnya pipa saluran air panas, menjadi krusial untuk mengembalikan fungsi penuh kawasan wisata dan mendukung pemulihan ekonomi lokal yang bergantung pada sektor pariwisata.