Hujan deras yang mengguyur Kota Padang sejak Kamis malam, 1 Januari 2026, kembali memicu bencana hidrometeorologi. Akses jalan utama menuju kawasan Batu Busuk, Kelurahan Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, dilaporkan putus total pada Jumat dini hari, 2 Januari 2026, sekitar pukul 01.45 WIB. Peristiwa ini menyebabkan sedikitnya 235 kepala keluarga (KK) di wilayah tersebut kini terisolasi sepenuhnya.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang, Hendri Zulviton, mengonfirmasi bahwa badan jalan amblas secara masif dan tidak dapat dilalui oleh kendaraan maupun pejalan kaki. "Jalan menuju Batu Busuk terputus total. Kondisinya sangat membahayakan dan tidak bisa dilalui lagi," tegas Hendri Zulviton pada Jumat pagi. Lurah Kapalo Koto, Afriwarman, merinci bahwa titik kerusakan terparah berada di Jalan Koto Tuo, tepatnya di depan SMPN 44, RT 03/RW 04. Jalan tersebut merupakan satu-satunya urat nadi utama penghubung warga menuju Jembatan Batu Busuk.
Kondisi jalan yang putus ini bukanlah insiden tunggal, melainkan puncak dari serangkaian bencana banjir bandang berulang yang menerjang Batu Busuk dalam beberapa bulan terakhir. Kawasan ini telah menjadi langganan banjir sejak akhir November 2025, dengan insiden parah terjadi pada 24, 26, 28 November, serta 14 dan 25 Desember 2025. Afriwarman menjelaskan bahwa badan jalan yang kini amblas total tersebut memang sudah dalam kondisi rentan akibat pengikisan parah oleh banjir bandang sebelumnya.
Penyebab mendasar dari banjir berulang ini meliputi tingginya intensitas curah hujan ekstrem yang mengakibatkan meluapnya debit air Sungai Batang Kuranji dan Sungai Batu Busuk. Pendangkalan sungai diyakini menjadi faktor signifikan yang memperparah luapan air ke permukiman warga. Wali Kota Padang, Hendri Septa, pada Januari 2023, pernah menyatakan bahwa pendangkalan Sungai Batu Busuk adalah penyebab utama banjir di wilayah tersebut, di mana sungai tidak mampu menampung volume air yang meningkat. Upaya pengerukan sungai telah dilakukan pada awal 2023, mengerahkan dua alat berat untuk mempertinggi tebing sungai sebagai pencegah luapan. Namun, tampaknya upaya tersebut belum memberikan solusi jangka panjang yang efektif.
Implikasi dari putusnya akses ini sangat mendalam bagi ratusan keluarga yang terisolasi. Mereka menghadapi kesulitan akut dalam memenuhi kebutuhan dasar, mengakses layanan kesehatan, atau bahkan mengevakuasi diri jika terjadi bencana susulan. Pada kejadian banjir bandang sebelumnya, sejumlah warga sakit terpaksa dievakuasi dengan cara digotong melalui jalur perbukitan yang terjal dan licin. Aktivitas ekonomi warga, terutama para petani yang bergantung pada penjualan hasil kebun, juga terhambat parah. David, seorang warga Batu Busuk, sebelumnya pernah mengungkapkan bahwa alat kerja mereka bahkan tidak ada yang tersisa akibat banjir.
Kerugian infrastruktur akibat bencana hidrometeorologi di Kota Padang secara keseluruhan pada akhir November 2025 diperkirakan mencapai Rp202,8 miliar hingga Rp264,3 miliar, termasuk kerusakan pada jalan dan jembatan. Meskipun PT Semen Padang telah mengerahkan alat berat ekskavator sejak awal Desember 2025 untuk memperbaiki drainase dan tanggul sungai di Batu Busuk, perbaikan bersifat sementara ini seringkali kembali rusak akibat terjangan banjir susulan, seperti yang diungkapkan Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, saat meninjau lokasi pada 25 Desember 2025.
Pemerintah Kota Padang dan Provinsi Sumatera Barat telah berupaya menyediakan hunian sementara (huntara) bagi warga yang kehilangan tempat tinggal dan sedang merencanakan pembangunan hunian tetap (huntap) di lokasi yang lebih aman. Wakil Wali Kota Padang, Maigus Nasir, pada 17 Desember 2025, menyatakan bahwa pemerintah daerah terus mengupayakan evakuasi, penyaluran logistik, dan relokasi bagi 367 KK yang terdampak. Mahyeldi menekankan pentingnya huntara yang aman dan layak, memperhatikan aspek kesehatan lingkungan.
Namun, kondisi ini menuntut solusi yang lebih komprehensif dan permanen. Warga Batu Busuk sangat berharap pemerintah daerah segera melakukan penanganan serius, terutama pada penguatan tanggul sungai serta normalisasi aliran air, untuk menghentikan siklus banjir yang terus berulang. Tanpa intervensi jangka panjang yang berkelanjutan, ratusan keluarga di Batu Busuk akan terus hidup dalam bayang-bayang ketakutan dan kerentanan setiap kali hujan deras melanda. Aparat kepolisian telah menutup total akses jalan yang amblas untuk mencegah korban jiwa, mengingat kondisi tanah yang masih labil dan sangat membahayakan.