Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

AKP Bayu: Kengerian Terbangun di Tengah Longsor, Lolos dari Terjangan Batu Raksasa

2026-01-19 | 08:15 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-19T01:15:17Z
Ruang Iklan

AKP Bayu: Kengerian Terbangun di Tengah Longsor, Lolos dari Terjangan Batu Raksasa

Kapolsek Simpenan, AKP Bayu Sunarti Agustina, bersama timnya menghadapi momen mencekam saat longsor susulan menerjang Kampung Cimapag, Desa Loji, Kecamatan Simpenan, Sukabumi, Jawa Barat, pada dini hari Senin, 12 Januari 2026. Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 03.00 WIB, ketika AKP Bayu dan personel kepolisian serta petugas Dinas Pekerjaan Umum tengah beristirahat di sebuah bengkel warga setelah seharian membersihkan material longsor yang memutus total Jalan Nasional Bagbagan-Kiaradua sejak Minggu, 11 Januari 2026 siang.

"Terdengar suara gemuruh dari atas dan batu-batu kecil hingga besar mulai turun. Kami berhamburan keluar dari bengkel mencari barang bawaan, bingung karena saat itu baru mulai istirahat. Kami berlari karena batu dan air semakin deras menuju bengkel yang kami tempati," ungkap AKP Bayu, mengenang detik-detik menegangkan tersebut. Beruntung, meskipun sempat kocar-kacir menyelamatkan diri, seluruh petugas dinyatakan selamat dari terjangan material longsor berupa gundukan batu dan tanah yang menutupi ruas jalan nasional.

Insiden yang dialami AKP Bayu ini menggarisbawahi kerentanan geografis Jawa Barat, khususnya Kabupaten Sukabumi, terhadap bencana hidrometeorologi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah berulang kali mengingatkan bahwa hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem, diperkuat oleh dinamika atmosfer seperti melemahnya pusat tekanan rendah dan aktivitas gelombang Kelvin serta Rossby Wave, menjadi pemicu utama longsor di wilayah ini. Kepala Badan Geologi, M Wafid, menambahkan bahwa sebagian besar wilayah Sukabumi berada dalam zona kerentanan gerakan tanah menengah hingga tinggi, yang berarti longsor berpotensi sering terjadi, terutama jika curah hujan di atas normal.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, antara 1 hingga 17 Januari 2026, terjadi 115 kejadian bencana di Indonesia, dengan delapan di antaranya adalah longsor. Khusus di Sukabumi, Manajer Pusdalops BPBD Kabupaten Sukabumi, Daeng Sutisna, melaporkan bahwa pada Minggu, 11 Januari 2026, dalam waktu kurang dari 12 jam, 15 bencana melanda 11 kecamatan, didominasi oleh tanah longsor. Bencana tersebut juga berdampak pada enam desa di enam kecamatan dan 31 kepala keluarga akibat longsor yang terjadi pada 14 Januari 2026.

Para ahli geologi dan lingkungan menyoroti beberapa faktor penyebab yang saling berkaitan. Dr. Eng. Imam Achmad Sadisun, pakar longsor dari Institut Teknologi Bandung (ITB), mengidentifikasi faktor prakondisi seperti pelapukan, erosi, perubahan topografi dan tata guna lahan, serta kondisi geologis batuan yang mudah menjadi bidang gelincir. Faktor pemicu jangka pendek termasuk curah hujan lebat atau gempa bumi. Senada, ahli geologi Universitas Pakuan, Denny Sukamto Kadarisman, menemukan bahwa lapisan tanah tebal yang mudah menyerap air dan kondisi labil berkontribusi pada gerakan tanah. Sementara itu, Pakar Lingkungan Hidup Universitas Indonesia, Tarsoen Waryono, menyoroti perubahan tata guna lahan, seperti pembukaan hutan untuk lahan persawahan, serta komposisi tanah Jawa Barat yang memiliki kandungan pasir tinggi (40%) menjadikannya lebih rentan terhadap resapan air dan longsor.

Meskipun akses Jalan Nasional Bagbagan-Kiaradua sempat dibuka kembali pada Rabu, 14 Januari 2026, AKP Bayu mengingatkan bahwa permukaan jalan masih licin dan material longsor susulan masih aktif, terutama di Kampung Cimapag. Petugas kepolisian memberlakukan skema buka tutup jalan dan mengimbau masyarakat untuk berhati-hati serta menunda perjalanan jika tidak mendesak, mengingat kondisi cuaca yang masih belum bersahabat.

Implikasi jangka panjang dari frekuensi bencana longsor ini menuntut upaya mitigasi yang lebih komprehensif. Meskipun ada upaya seperti penanaman vegetasi dan koordinasi antarlembaga dalam penanganan darurat, Jawa Barat secara umum masih dinilai minim program mitigasi bencana yang terukur, termasuk sistem peringatan dini dan kelengkapan peralatan keselamatan di tingkat desa. Peningkatan literasi sains kebencanaan di masyarakat menjadi krusial untuk memastikan pemahaman yang tepat dan respons yang cepat guna melindungi warga serta mengurangi dampak bencana di masa depan.