Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Aceh Tamiang Bangkit: Kisah Inspiratif Para Pemulih Daerah

2026-01-18 | 11:39 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-18T04:39:13Z
Ruang Iklan

Aceh Tamiang Bangkit: Kisah Inspiratif Para Pemulih Daerah

Ratusan keluarga di Kabupaten Aceh Tamiang secara bertahap mulai menempati hunian sementara (huntara) yang diserahkan sejak 8 Januari 2026, menjadi penanda kuat bergulirnya fase pemulihan pasca-banjir bandang dahsyat yang melanda wilayah ini pada akhir November 2025. Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah pusat, daerah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), TNI-Polri, dan komunitas lokal mengerahkan segala upaya untuk mengembalikan kehidupan warga yang sempat lumpuh akibat bencana. Lebih dari 600 unit hunian sementara telah diserahkan, dibangun dengan kecepatan terukur untuk menyediakan tempat tinggal yang layak bagi warga terdampak.

Banjir bandang akhir 2025 bukan sekadar peristiwa alam biasa bagi Aceh Tamiang, melainkan puncak dari persoalan struktural yang telah berlangsung selama dua dekade terakhir. Peneliti hidrologi hutan dan konservasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Universitas Gadjah Mada, Hatma Suryatmojo, menyebut curah hujan ekstrem sebagai pemicu awal, namun dampak merusak diperparah oleh rapuhnya benteng alam di kawasan hulu DAS Tamiang. Perubahan tutupan lahan secara signifikan, yang digantikan oleh permukiman dan aktivitas lain, mengurangi fungsi hutan sebagai penyerap dan pengendali aliran air. Kondisi ini mengakibatkan Kabupaten Aceh Tamiang menjadi salah satu wilayah rawan banjir, banjir bandang, abrasi, serta kebakaran hutan dan lahan.

Merespons skala kerusakan yang meluas, Pemerintah Aceh menetapkan status tanggap darurat bencana yang diperpanjang hingga 22 Januari 2026. Pemerintah pusat menunjuk Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian sebagai Ketua Satgas Nasional Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana, sebuah keputusan strategis untuk mengkoordinasikan pemulihan lintas provinsi, mengingat dampak bencana meluas ke Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Kabupaten Aceh Tamiang dipilih sebagai Posko Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi di Pulau Sumatera karena posisi geostrategisnya sebagai simpul penghubung Aceh dan Sumatera Utara serta berada di jalur utama distribusi logistik.

Upaya pemulihan dilakukan secara holistik, meliputi tiga pilar utama: infrastruktur, ekonomi, dan sosial-kesehatan. Pada pilar infrastruktur, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Wilayah Sungai Sumatera I memperkuat penyediaan air bersih dengan mengebor sumur-sumur bor, seperti di Kecamatan Manyak Payed yang memiliki kedalaman sekitar 82 meter dan kini telah berfungsi. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menjanjikan rehabilitasi menyeluruh pasar rakyat, lahan pertanian, dan tambak perikanan pada tahun ini. Sementara itu, PLN Unit Layanan Pelanggan (ULP) Kualasimpang berhasil memulihkan 98 persen kelistrikan pasca-banjir, mengerahkan 158 personel gabungan dan mengimbau masyarakat untuk memastikan instalasi rumah aman sebelum menyalakan listrik. Pembangunan hunian tetap (huntap) juga menjadi prioritas, dengan Kapolda Aceh Irjen Pol. Drs. Marzuki Ali Basyah meresmikan pematangan lahan di perkebunan PTPN I Desa Simpang Kanan, Kecamatan Kejuruan Muda, pada 13 Januari 2026, dan mengusulkan pelibatan tenaga kerja lokal untuk menggerakkan ekonomi. Kementerian PU sendiri menargetkan pembangunan 83 unit rumah instan selesai dalam 20 hari.

Pada pilar ekonomi, Dapur Umum yang dikelola Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) di Aceh Tamiang tidak hanya memenuhi kebutuhan konsumsi ribuan personel satgas, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi warga sekitar dengan memanfaatkan bahan pangan lokal dari Aceh Tamiang, Langsa, Kuala Simpang, Pangkalan Brandan, hingga Medan. Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari memastikan pemulihan aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan belajar mengajar di sekolah dan pergerakan roda ekonomi di pasar tradisional, mulai kembali normal.

Aspek sosial dan kesehatan menjadi perhatian serius. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tamiang Mustakim melaporkan penurunan signifikan titik pengungsian dari 720 menjadi 129 berkat kehadiran relawan kesehatan dari Kementerian Kesehatan, TNI-Polri, LSM, dan organisasi profesi. Tim medis Polri dan Universitas Pertahanan (Unhan) juga aktif menyalurkan donasi obat-obatan, melakukan pemeriksaan kesehatan, dan memberikan vitamin, serta program pembelajaran digital. NU Peduli Jawa Tengah bahkan mengirimkan relawan dengan keahlian pertukangan dan teknisi listrik, serta tim psikososial untuk membantu pemulihan trauma. RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang berupaya memulihkan sistem distribusi obat agar pelayanan farmasi kembali optimal.

Di tengah kerja kolektif ini, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menegaskan target agar roda pemerintahan di seluruh daerah terdampak di Sumatera sudah berjalan normal sebelum bulan puasa dan tertanggulangi sepenuhnya sebelum Lebaran. Perjalanan pemulihan Aceh Tamiang menyoroti ketahanan masyarakatnya, sekaligus menuntut komitmen berkelanjutan dari semua pihak untuk tidak hanya membangun kembali yang rusak, tetapi juga memperkuat mitigasi bencana dan menjaga kelestarian lingkungan hulu demi masa depan yang lebih tangguh.