:strip_icc()/kly-media-production/medias/5197520/original/095088500_1745476635-IMG-20250424-WA0038.jpg)
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mewacanakan pembangunan saluran pembuangan air bawah tanah sebagai solusi permanen untuk mengatasi masalah banjir di kawasan rawan, khususnya di Babakan Ciparay. Rencana ini didasari pada pertimbangan bahwa pembangunan kanal air di bawah tanah dinilai lebih mudah dan murah dibandingkan alternatif lain.
Farhan, yang meninjau langsung lokasi rawan banjir di RW 08 Kelurahan Babakan, Kecamatan Babakan Ciparay pada Senin (1/12/2025) malam, mengungkapkan bahwa akar persoalan banjir di wilayah tersebut membutuhkan solusi teknis yang komprehensif, bukan hanya penanganan sementara. Menurutnya, secara topografis, kawasan tersebut merupakan titik kumpul aliran air dari barat ke timur, sehingga memerlukan saluran pembuangan air di bawah jalan agar air dapat mengalir secara tetap.
Teknologi drum pori yang ada saat ini dianggap tidak cukup untuk mengatasi volume air hujan yang besar di Babakan Ciparay. Oleh karena itu, opsi pembangunan kanal atau saluran besar di bawah tanah dinilai sebagai pilihan yang paling realistis dan efisien. Salah satu alasan utama mengapa Farhan menganggapnya lebih mudah dan murah adalah karena pembangunan saluran bawah tanah tidak memerlukan pembebasan lahan yang luas, yang sering kali menjadi kendala dan dapat menggusur warga jika memilih membangun danau retensi.
Wali Kota Muhammad Farhan, yang resmi menjabat sejak 20 Februari 2025 untuk periode 2025-2030, juga memastikan bahwa Pemerintah Kota Bandung terus berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat terkait rencana ini. Hal ini penting mengingat sebagian infrastruktur, seperti Jalan Soekarno-Hatta, berada di bawah kewenangan pemerintah pusat, dan Pemkot Bandung tengah berupaya agar pemerintah pusat segera menurunkan anggaran untuk proyek ini.
Selain itu, Farhan juga menyoroti adanya bangunan yang berdiri tepat di atas selokan dan mempersempit aliran air di lokasi banjir. Ia menginstruksikan agar penertiban dilakukan secara persuasif namun tegas sesuai prosedur, mengingat sebagian besar bangunan tersebut digunakan untuk usaha dibandingkan rumah tinggal. Pemerintah Kota Bandung juga terus memperkuat mitigasi banjir dengan membenahi drainase, menambah kolam retensi, dan mengaktifkan sistem siaga warga sebagai bagian dari upaya komprehensif menghadapi musim hujan.