:strip_icc()/kly-media-production/medias/5429295/original/004769400_1764580014-CEO_Vidio_Sutanto_Hartono_di_UGM.jpg)
CEO Vidio, Sutanto Hartono, menegaskan pentingnya penguasaan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) dan seni berkomunikasi bagi mahasiswa sebagai bekal utama memasuki dunia kerja di industri kreatif saat ini. Pesan ini disampaikan Sutanto dalam acara Vidio Goes To Campus bertajuk 'Fight Beyond; The Future of Media Industri in OTT and Onside Pertarungan The Series', yang diselenggarakan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada Senin, 1 Desember 2025.
Menurut Sutanto, industri konten kreator kini menawarkan kesempatan yang sangat luas, berbeda dengan masa lalu. Industri ini membutuhkan individu dengan beragam bakat dan passion untuk membangun hubungan langsung antara pengguna dan penyedia platform digital. Salah satu kemampuan terpenting yang harus dikuasai di industri ini adalah penggunaan AI. Ia menjelaskan bahwa banyak perusahaan kini sangat agresif dalam mengadopsi AI, sehingga mahasiswa didorong untuk setidaknya memahami dasar-dasar AI, bahkan dengan mencoba langsung menggunakan alat seperti ChatGPT atau Gemini.
Meskipun demikian, Sutanto Hartono juga menekankan bahwa sentuhan manusia atau "human touch" tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh mesin, terutama dalam proses kreatif. AI dapat menjadi alat yang sangat membantu untuk meningkatkan kapabilitas analisis dan bahkan dalam memproduksi konten generatif, namun kreativitas manusia tetap tidak tergantikan 100 persen. Kombinasi cerdas antara AI dan kreativitas manusia menjadi kunci yang harus terus dijaga untuk menghadapi gempuran teknologi ini.
Sutanto, yang merupakan lulusan kimia, berbagi kisah inspiratif tentang perjalanan kariernya hingga kini memimpin perusahaan di industri kreatif. Ia menyarankan agar individu fokus pada kekuatan unggul yang dimiliki, namun dari semua itu, kemampuan berkomunikasi yang baik, terutama melalui storytelling, adalah hal terpenting untuk menjelaskan logika yang dijalankan.
Dalam konteks industri media, Sutanto juga menyoroti potensi produsen media siar Indonesia untuk terus berkembang. Ia mengungkapkan bahwa konten lokal berbahasa Indonesia masih sangat diminati oleh penonton. Sebagai bukti, sepanjang tahun 2025, penjualan tiket film Indonesia di bioskop telah menembus angka 80 juta lembar, mencakup 60 persen dari total tiket yang terjual, menunjukkan antusiasme tinggi terhadap film nasional.
Perkembangan AI dalam industri kreatif memang membawa peluang besar untuk peningkatan efisiensi dan produktivitas, seperti otomatisasi tugas repetitif dalam produksi film, desain grafis, hingga penulisan naskah. AI juga memungkinkan personalisasi konten yang lebih baik, di mana platform streaming dapat merekomendasikan tontonan atau lagu sesuai selera individu. Namun, kehadiran AI juga menimbulkan tantangan, termasuk potensi penggantian pekerjaan kreatif, masalah keaslian karya, etika, dan risiko penyalahgunaan seperti deepfake. Oleh karena itu, diperlukan adaptasi, pembelajaran berkelanjutan, dan penggunaan AI secara bijak untuk memastikan teknologi ini memperkaya industri kreatif tanpa mengurangi nilai-nilai fundamental dari kreativitas manusia.