:strip_icc()/kly-media-production/medias/5432093/original/064814600_1764756044-Sertu_Rio_selamat_dari_banjir_bandang_sumatra.jpeg)
Sersan Satu Rio Prasaja, seorang anggota TNI berusia 42 tahun, selamat secara ajaib setelah bertahan 2,5 jam tertimbun lumpur hingga sedagu akibat banjir bandang dan tanah longsor di Desa Sibalanga, Kecamatan Adian Koting, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Namun, musibah pada Rabu dini hari, 26 November 2025, tersebut merenggut nyawa anak laki-lakinya yang berusia 1,5 tahun, istrinya, dan empat kerabat lain yang bersama mereka.
Peristiwa tragis ini bermula saat Sertu Rio Prasaja bersama keluarga dalam perjalanan pulang dari Medan menuju tempat tugasnya di Kodim 0212/Tapanuli Selatan. Mereka terpaksa mengambil jalur Tarutung-Sibolga karena informasi jalan lain tertutup longsor. Pada Selasa malam, 25 November 2025, rombongan tersebut memutuskan singgah di sebuah warung di Desa Sibalanga. Longsor pertama sempat menghantam tiga rumah di atas warung. Namun, pada Rabu dini hari sekitar pukul 02.00 WIB, longsor susulan disertai banjir bandang menerjang langsung tempat mereka berteduh.
Sertu Rio menuturkan, ia terperangkap dalam lumpur dingin dan gelap hingga setinggi dagunya. Dengan sisa tenaga, ia berjuang dan berhasil diselamatkan setelah 2,5 jam. Namun, momen penyelamatan tersebut datang dengan kepedihan yang tak terhingga. Meskipun ia berhasil ditarik dari timbunan maut, keluarganya tak dapat diselamatkan. Anaknya yang baru berusia 1,5 tahun, istrinya, dan empat anggota keluarga lainnya ikut tertimbun lumpur dan belum ditemukan selama beberapa hari pascakejadian.
Kisah Sertu Rio Prasaja dan hilangnya orang-orang tercinta menjadi simbol pilu dari bencana yang melanda Sumatera Utara, mencerminkan pelukan terakhir yang tak terelakkan di tengah ancaman lumpur dan badai. Peristiwa ini menyiratkan betapa tipisnya batas antara hidup dan mati, di mana dalam keputusasaan yang mendalam, rasa "Saya Ikhlas dengan Nyawa Saya" mungkin menjadi satu-satunya bentuk penerimaan atas takdir yang tak terhindarkan. Tim pencarian dan pertolongan gabungan menghadapi medan berat dan akses yang sempat terisolasi selama empat hari pascabencana, memperlambat upaya evakuasi korban. Sementara itu, di berbagai wilayah Sumatera yang terdampak banjir dan longsor, anak-anak di pengungsian mulai terserang penyakit, menambah daftar panjang dampak kemanusiaan dari bencana alam ini.