:strip_icc()/kly-media-production/medias/5438390/original/046635000_1765287121-Rombongan_turis_Jepang_curi_pakaian_di_Ubud_Bali.png)
Ubud, Bali kembali digegerkan oleh insiden pencurian yang melibatkan rombongan wisatawan asing. Kali ini, sekelompok turis asal Jepang diduga kuat menjadi pelaku pencurian puluhan pakaian di dua toko berbeda di kawasan Ubud dengan modus operandi yang terorganisir. Peristiwa ini mencuat setelah rekaman kamera pengawas (CCTV) yang merekam aksi tersebut viral di media sosial, memicu kemarahan publik, termasuk dari warganet Jepang sendiri.
Insiden pencurian ini terjadi pada Rabu, 3 Desember 2025. Aksi pertama dilaporkan terjadi di sebuah toko pakaian di Jalan Kajeng, Ubud. Menurut rekaman CCTV yang beredar luas, belasan pelajar Jepang terlihat memasuki toko dan segera menyebar ke berbagai sudut. Mereka berpura-pura melihat-lihat barang dagangan. Modus yang digunakan adalah dengan beberapa anggota rombongan berpura-pura memilih pakaian dan menutup pandangan, sementara yang lain secara diam-diam memasukkan sejumlah potong pakaian ke dalam tas yang mereka bawa. Para pelaku juga beberapa kali terlihat menoleh ke sekeliling untuk memastikan situasi aman sebelum menyelipkan barang curian. Dalam video tersebut, para pelaku terdengar berbicara dalam bahasa Jepang, yang memudahkan identifikasi asal mereka.
Pemilik toko di Jalan Kajeng, Nyoman Jonathan, awalnya tidak menaruh curiga. Namun, tak lama kemudian ia menyadari satu gantungan pakaian kosong tanpa adanya transaksi. Setelah memeriksa rekaman CCTV, terungkap bahwa lebih dari 20 potong pakaian telah hilang. Sumber lain menyebutkan pemilik toko awalnya melaporkan kehilangan 11 potong pakaian. Tak hanya di Jalan Kajeng, aksi serupa juga dilaporkan terjadi di toko pakaian di Jalan Arjuna, Ubud, dengan puluhan pakaian dilaporkan raib dan diduga digasak oleh kelompok turis yang sama.
Kasus pencurian ini segera dilaporkan ke Polsek Ubud. Kapolsek Ubud Kompol Wayan Putra Antara langsung mengerahkan Tim Resmob Polsek Ubud di bawah pimpinan Kanit Reskrim Iptu Kadek Patra untuk melakukan pengejaran. Namun, para terduga pelaku diketahui sudah kembali ke negara asalnya sebelum petugas tiba di Bandara I Gusti Ngurah Rai.
Video pencurian tersebut menuai kecaman keras dari berbagai pihak. Warganet Jepang secara khusus menyampaikan rasa malu dan kecewa atas insiden ini, bahkan menyebut tindakan tersebut sebagai "aib permanen bagi negara Jepang" dan "insiden langka" yang jarang terjadi mengingat standar etika di Jepang yang tinggi. Pada Senin, 8 Desember 2025, Kepala Sekolah SMP dan SMA Otani, Kyoto, Fumio Inui, tempat keempat turis Jepang itu bersekolah, merilis pernyataan resmi yang mengonfirmasi keterlibatan siswa mereka dan menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada pihak yang dirugikan.
Insiden ini menambah daftar panjang kasus pelanggaran hukum yang melibatkan wisatawan asing di Bali. Data mencatat adanya kenaikan 16 persen kasus kejahatan yang melibatkan WNA, dari 194 kasus pada tahun 2023 menjadi 226 kasus pada tahun 2024. Anggota DPR RI dari Bali, Agung Bagus Pratiksa Linggih, turut menyoroti menurunnya kualitas wisatawan yang datang ke Bali, serta maraknya penginapan ilegal yang disinyalir berkontribusi pada situasi ini. Giostanovlatto, seorang pemerhati pariwisata, menegaskan bahwa pencurian oleh wisatawan bukanlah tindakan sepele dan pelaku harus menghormati hukum setempat.