Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Menguak Representasi Keperempuanan dalam 'Selamat Pagi Donna' di Panggung Sinema.

2025-12-09 | 21:00 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-09T14:00:26Z
Ruang Iklan

Menguak Representasi Keperempuanan dalam 'Selamat Pagi Donna' di Panggung Sinema.

Yogyakarta — Teater Sinema 'Selamat Pagi Donna', sebuah produksi terbaru dari Teater Srikandi Pendapa nDalem, hadir sebagai pementasan yang mendalam mengenai kompleksitas kekerasan, kemiskinan, dan perjuangan martabat perempuan. Pementasan ini dijadwalkan akan digelar pada Rabu, 10 Desember 2025, pukul 19.00 WIB, di Gedung Societet Militer, Taman Budaya Yogyakarta, dengan tiket masuk gratis.

Pentas ini merupakan adaptasi dari naskah reportase karya Ina Sita Nur'aina dan disutradarai oleh Inung Nuramin. 'Selamat Pagi Donna' berupaya menampilkan sebuah renungan untuk memaknai kesia-siaan menjadi sebuah kebahagiaan. Naskah ini menceritakan kisah tragis seorang perempuan bernama Murni, yang kemudian dikenal sebagai Donna, primadona di sebuah rumah bordil terkenal di Yogyakarta.

Pesan keperempuanan yang kuat menjadi inti dari 'Selamat Pagi Donna'. Kisah Murni menggambarkan penderitaan yang berlapis-lapis, bermula dari kemiskinan dan menjadi korban asusila ayah kandungnya sendiri, Muryoto, seorang tukang becak, sejak usia belia. Tragedi ini diperparah dengan kematian ibunya, Surti, seorang buruh gendong, yang tidak sanggup menanggung aib keluarga akibat cemoohan masyarakat. Kekecewaan atas nasib dan duka yang mendalam mendorong Murni terjebak dalam dunia prostitusi, ditampung oleh seorang Mami di rumah bordil ternama di Yogya.

Namun, perjalanan pahit Murni tidak berhenti di sana, bahkan setelah menjadi primadona, sang ayah terus mengganggunya dan memaksanya untuk dilayani. Puncak dari penderitaan ini adalah keputusan Murni untuk menghabisi nyawa ayah kandungnya sendiri, merasa puas telah membalaskan kematian ibunya serta dendam atas masa depannya yang hancur. Ia memilih mendekam di penjara sebagai bentuk pembebasan dari belenggu hidupnya.

Teater Srikandi Pendapa nDalem, sebagai kelompok yang membawakan lakon ini, dikenal aktif dalam kerja budaya dengan puluhan pertunjukan yang telah dilakukan dalam dua tahun terakhir. 'Selamat Pagi Donna' menjadi produksi besar terbaru mereka yang secara lugas menyoroti perjuangan perempuan untuk mendapatkan martabat di tengah tekanan sosial dan penderitaan pribadi. Semangat para perempuan Srikandi kembali hadir, menegaskan bahwa kerja budaya mereka tidak pernah diam, secara konsisten mengangkat isu-isu kemanusiaan dan keperempuanan yang relevan bagi masyarakat. Pementasan ini menjadi ajakan bagi audiens, khususnya di Jawa Tengah dan Yogyakarta, untuk merefleksikan kembali elegi kemanusiaan yang senantiasa berkelindan dalam aras sosial masyarakat.