:strip_icc()/kly-media-production/medias/5429579/original/017601900_1764607239-Lutung_Kutai_2.jpeg)
Lutung Drakula, spesies primata yang sempat diyakini telah menghilang dari alam liar, kini kembali menampakkan jejaknya di kedalaman hutan Kalimantan, membawa secercah harapan bagi dunia konservasi. Spesies ini, yang dikenal juga sebagai Lutung Kutai atau secara ilmiah disebut Presbytis canicrus, mendapatkan julukan "Drakula" karena ciri khas fisik berupa bulu putih atau abu-abu yang dominan di bagian leher hingga dada, menyerupai jubah misterius. Keberadaannya sempat lama tidak terdeteksi, dan populasinya diyakini menurun drastis akibat kebakaran hutan yang masif, serta perusakan habitat yang luas.
Penemuan kembali Lutung Drakula terjadi di Hutan Lindung Wehea, Kutai Timur, Kalimantan Timur, sebuah kawasan yang kaya akan keanekaragaman hayati meskipun berada di luar wilayah konservasi resmi Indonesia. Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) menjadi salah satu lembaga yang memimpin upaya pelacakan terhadap spesies ini. Penelitian yang dilakukan YKAN menggunakan kamera jebak berhasil mendeteksi primata ini di kawasan Sepan, sebuah area bebatuan di tengah hutan dengan aliran air kaya mineral yang menjadi tempat satwa mencari sumber air.
Kisah kembalinya Lutung Drakula menyoroti peran penting kearifan lokal dalam menjaga keanekaragaman hayati. Sejak ditetapkan sebagai hutan lindung pada tahun 2004, masyarakat adat Dayak Wehea telah secara aktif menjaga kelestarian hutan ini, menegakkan hukum adat yang ketat terhadap segala bentuk pelanggaran. Pendekatan konservasi berbasis komunitas ini terbukti efektif menghentikan aktivitas ilegal seperti penebangan dan penambangan di wilayah tersebut. Edy Sudiono menyatakan bahwa masyarakat Dayak Wehea telah menciptakan "model" pengelolaan hutan lokal yang berhasil untuk skala nasional maupun dunia.
Meskipun statusnya rentan dan wilayah penyebarannya sempit, Lutung Kutai ini belum termasuk jenis satwa yang dilindungi secara formal dalam peraturan negara. M. Arif Rifqi, Spesialis Spesies Terancam Punah YKAN, menyampaikan bahwa masih sedikit pengetahuan mengenai ekologi dan perilaku Lutung Drakula karena sifat satwanya yang sensitif dan sulit untuk diikuti oleh peneliti. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran karena keberlangsungan hidup Lutung Drakula saat ini lebih banyak bergantung pada aturan adat ketimbang regulasi negara. Kerusakan hutan dan perburuan tetap menjadi ancaman utama bagi primata endemik Kalimantan ini. Kelestarian Lutung Drakula menjadi simbol penting perlindungan alam di Kalimantan, sekaligus pengingat akan urgensi pengakuan dan penguatan perlindungan hukum bagi spesies langka yang masih terancam ini.