:strip_icc()/kly-media-production/medias/5369787/original/002064500_1759479672-WhatsApp_Image_2025-10-03_at_09.42.22__1_.jpeg)
Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) dilaporkan telah melancarkan serangan brutal yang menewaskan tujuh orang pendulang emas di Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua Pegunungan, pada pertengahan September 2025 lalu. Insiden keji ini telah memicu kecaman keras dari berbagai tokoh dan Dewan Adat Papua, yang menyerukan diakhirinya kekerasan tak beradab terhadap masyarakat sipil.
Korban tewas dalam serangkaian serangan tersebut berjumlah tujuh orang, sementara lima lainnya berhasil selamat. Kepala Operasi Damai Cartenz, Brigjen Faizal Ramadhani, mengonfirmasi bahwa tim gabungan berhasil mengevakuasi seluruh jenazah korban ke RSUD Dekai untuk penanganan lebih lanjut. Identitas para korban termasuk Roberto Agama alias Obet (27), Yunus Agama (29), Marselino Lumare (32), Andika, Fikram, Desen Domungus, dan Maselinus.
Serangan KKB, yang dalam beberapa laporan diidentifikasi sebagai Organisasi Papua Merdeka (OPM) Kodap XVI Yahukimo pimpinan Elkius Kobak, terjadi di dua lokasi berbeda. Awalnya, dua pendulang emas dibunuh di Jalan Poros Kampung Bingki, Distrik Seradala. Kemudian, KKB kembali membantai tiga warga di Kali Kulum dan dua korban lainnya di Camp Ekskavator Kali I, Distrik Seradala, Kabupaten Yahukimo. Para pelaku menggunakan senjata api dan panah dalam aksi penyerangan tersebut.
Menanggapi insiden berdarah ini, Tokoh Adat Papua Musa Heluka menyatakan bahwa aksi pembantaian yang dilakukan OPM Kodap XVI Yahukimo sangat melukai hati Orang Asli Papua (OAP). Ia menekankan bahwa dua dari tujuh korban yang tewas dalam kondisi mengenaskan adalah penduduk asli Yahukimo, membuktikan bahwa aksi OPM kini tidak hanya menyasar masyarakat pendatang tetapi juga warga asli Papua. Heluka juga menyoroti pernyataan Sebby Sambom, juru bicara TPNPB-OPM, yang diduga secara terbuka menghasut OPM untuk tidak segan membunuh masyarakat asli Papua, sebuah tindakan yang ia anggap memalukan dan bertentangan dengan narasi perjuangan OPM.
Senada dengan Musa Heluka, Ketua Dewan Adat Yahukimo, Yonas Wakerwa, mengutuk keras aksi biadab KKB tersebut. Yonas Wakerwa menegaskan bahwa pembantaian di Yahukimo menambah daftar panjang kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh kelompok bersenjata di Tanah Papua. "Ini bukan perjuangan, ini kebrutalan yang tidak beradab," ujar Wakerwa, menambahkan bahwa OPM seharusnya melindungi rakyat, bukan membantai mereka. Pernyataan ini menggarisbawahi kekecewaan dan kemarahan masyarakat adat terhadap tindakan kekerasan yang terus berulang dan merenggut nyawa warga sipil tak bersalah.
Tim gabungan Satgas Operasi Damai Cartenz bersama Brimobda Polda Papua, Polres Yahukimo, dan Kodim 1715 Yahukimo terus berupaya mengusut tuntas insiden ini dan mengejar para pelaku untuk ditegakkan hukum.