Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

LRT Jakarta Perpanjangan: Pemprov DKI Pilih Rute Dukuh Atas atau Utara?

2025-12-31 | 00:52 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-30T17:52:06Z
Ruang Iklan

LRT Jakarta Perpanjangan: Pemprov DKI Pilih Rute Dukuh Atas atau Utara?

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah menimbang dua opsi strategis untuk perpanjangan jaringan Light Rail Transit (LRT) Jakarta pasca rampungnya Fase 1B Velodrome-Manggarai pada pertengahan 2026, yakni melanjutkan rute ke Dukuh Atas atau membuka jalur baru menuju wilayah utara Jakarta yang mencakup Jakarta International Stadium (JIS) hingga Pantai Indah Kapuk (PIK) 2. Keputusan vital ini, yang dijadwalkan akan diambil pada tahun 2026, akan membentuk tulang punggung konektivitas transportasi massal ibu kota di masa depan.

Rencana perpanjangan rute ini mencuat seiring progres pembangunan LRT Jakarta Fase 1B Velodrome-Manggarai yang telah mencapai lebih dari 80,57 persen hingga minggu kedua November 2025 dan ditargetkan rampung Agustus 2026. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung telah berulang kali menekankan pentingnya keputusan yang cepat dan komprehensif untuk mengoptimalkan operasional LRT yang saat ini baru melayani sekitar 6 kilometer dengan enam stasiun pemberhentian. Lintasan pendek tersebut hanya mengangkut rata-rata 3.300 penumpang per hari pada tahun 2024, sedikit di atas target 3.075 penumpang per hari. Dengan penambahan 6,4 kilometer Fase 1B yang akan memiliki lima stasiun baru (Pemuda Barat, Pramuka BPKP, Pasar Pramuka, Matraman, dan Manggarai), total panjang lintasan LRT Jakarta akan mencapai sekitar 12 kilometer.

Opsi pertama, perpanjangan ke Dukuh Atas yang dikenal sebagai Fase 1C, direncanakan sepanjang sekitar 2,4 kilometer dan membutuhkan anggaran sekitar Rp 2 triliun. Kajian kelayakan menunjukkan potensi peningkatan pengguna harian hingga 50.000-70.000 orang, atau bahkan proyeksi Gubernur Pramono Anung mencapai 70.000-100.000 penumpang setiap hari. Kawasan Dukuh Atas dianggap krusial sebagai simpul integrasi antarmoda transportasi di Jakarta, di mana LRT dapat terkoneksi langsung dengan KRL Commuter Line, MRT Jakarta, Transjakarta, dan Kereta Bandara. Ketua Forum Transportasi Jalan dan Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia, Aditya Dwi Laksana, berpendapat bahwa perpanjangan jalur ini akan memberikan keuntungan besar bagi mobilitas warga karena menciptakan jaringan transportasi yang lebih terhubung. Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) pada 29 Desember 2023 juga telah merekomendasikan trase Velodrome-Manggarai-Dukuh Atas kepada Penjabat Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono, dengan mengusulkan Dinas Perhubungan DKI Jakarta memasukkannya dalam Rencana Induk Jaringan Perkeretaapian Jakarta.

Sementara itu, opsi kedua adalah pengembangan jalur baru LRT Jakarta ke wilayah utara, dari Velodrome-Kelapa Gading menuju Tanjung Priok, Jakarta International Stadium (JIS), Ancol, hingga Pantai Indah Kapuk (PIK) 2. Untuk rute JIS (Fase 2A), panjangnya diperkirakan mencapai 8,2 kilometer dengan 6 stasiun, dan investasi yang dibutuhkan sekitar Rp 7 triliun. Direktur Utama PT Jakarta Propertindo (Jakpro), Iwan Takwin, mengonfirmasi bahwa pihaknya sedang menyiapkan kajian teknis dan ekonomi untuk rencana perpanjangan rute ke wilayah utara tersebut. Gubernur Pramono Anung menilai, wilayah utara Jakarta saat ini masih kekurangan akses transportasi publik, terutama menuju JIS yang diproyeksikan sebagai pusat kegiatan masyarakat di masa mendatang. Perpanjangan jalur ini diharapkan tidak hanya memperluas aksesibilitas tetapi juga membuka peluang pengembangan kawasan melalui konsep Transit Oriented Development (TOD) di sekitar stadion. Namun, rencana penyambungan rute hingga PIK masih dalam tahap pendalaman studi karena memerlukan analisis lebih detail mengenai kebutuhan jaringan dan integrasi, menurut Direktur Proyek LRT Jakarta, Ramdani Akbar.

Perdebatan mengenai prioritas antara kedua rute ini terus berlangsung. Integrasi antarmoda menjadi fokus utama dalam pengembangan transportasi publik di Jakarta, dengan tujuan mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi, meminimalisir kemacetan, dan menekan polusi udara. Keputusan akhir Pemprov DKI Jakarta pada tahun 2026 akan mempertimbangkan efektivitas transportasi, nilai ekonomi jangka panjang, serta kemampuan integrasi dengan jaringan transportasi massal lainnya di Jakarta.

Pengambilan keputusan ini bukan hanya sekadar penentuan rute, melainkan juga bagian dari visi jangka panjang Jakarta sebagai kota global yang mengedepankan mobilitas berkelanjutan dan efisiensi urban. Pilihan antara menguatkan hub yang sudah ada di pusat kota atau memperluas jangkauan ke wilayah yang kurang terlayani akan memiliki implikasi signifikan terhadap pola pergerakan masyarakat, distribusi ekonomi, dan pemerataan pembangunan di seluruh wilayah ibu kota. Faktor pendanaan, termasuk potensi skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) dengan pihak swasta, juga menjadi pertimbangan penting dalam realisasi proyek-proyek infrastruktur berskala besar ini.