Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Buaya Depok Jadi Perbincangan: Sering Berjemur di Darat Dekat SMA

2025-12-23 | 17:58 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-23T10:58:27Z
Ruang Iklan

Buaya Depok Jadi Perbincangan: Sering Berjemur di Darat Dekat SMA

Seekor buaya besar kembali terlihat berjemur di batang pohon dekat aliran Kali Caringin, Sawangan, Depok, persis di seberang Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 5 Depok, memicu kekhawatiran yang meningkat di kalangan warga dan komunitas sekolah. Penampakan yang terjadi berulang kali, khususnya sekitar pukul 11.00 WIB saat cuaca panas, telah menjadi fenomena sejak tahun lalu, dengan laporan awal mengenai dua buaya kecil yang kini menyisakan satu ekor berukuran lebih besar.

Nurbaiti Fadillah, salah seorang guru SMAN 5 Depok, mengungkapkan bahwa keberadaan buaya ini telah diamati di aliran Kali Caringin yang berdekatan dengan sekolah, dan sebelumnya satu buaya berhasil ditangkap oleh sekuriti sekolah sebelum diserahkan kepada komunitas pencinta reptil. Namun, satu ekor buaya lainnya, yang kini berukuran besar, masih kerap muncul dari air untuk berjemur, bahkan terlihat di area parkiran guru. Kekhawatiran staf pengajar SMAN 5 Depok tidak hanya tertuju pada buaya, tetapi juga reptil lain seperti biawak dan ular kobra yang sempat ditemukan di lingkungan sekolah, menambah kecemasan wali murid. Laporan mengenai kemunculan buaya telah disampaikan kepada Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Depok, namun upaya evakuasi belum berhasil dilakukan. Pihak Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Depok, melalui Kasi Penyelamatan Tesy Haryanti, menjelaskan bahwa penanganan satwa dilindungi seperti buaya merupakan kewenangan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan bahwa Damkar Depok siap membantu evakuasi jika diperlukan. BKSDA dilaporkan telah merespons laporan dan sedang melakukan koordinasi.

Kemunculan buaya di perairan Depok, termasuk Kali Caringin yang merupakan anak Sungai Ciliwung, bukanlah insiden terisolasi. Dalam beberapa tahun terakhir, penampakan buaya di berbagai titik sepanjang anak sungai Ciliwung dan kali-kali di Depok telah menjadi perhatian. Pada tahun 2021, seekor buaya muara sepanjang 1,5 meter ditemukan mati di saluran air Perumahan Cengkeh, Sukmajaya, yang terhubung ke Sungai Ciliwung. Penemuan serupa juga dilaporkan sekitar 20 tahun sebelumnya di lokasi yang sama, menunjukkan adanya pola kemunculan reptil ini di wilayah urban. Sungai Pesanggrahan di Sawangan juga pernah menjadi lokasi penangkapan buaya liar sepanjang 3 meter dengan berat 60 kilogram pada tahun 2020. Sementara itu, di Anak Kali Ciliwung, Jakarta Utara, buaya jenis muara dan senyulong pernah terlihat, dengan para pekerja kebersihan sungai menyatakan kekagetannya melihat buaya di perairan hitam tersebut.

Penyebab buaya muncul ke daratan sering kali dikaitkan dengan beberapa faktor lingkungan dan perilaku. Buaya adalah satwa semi-akuatik yang secara alami bergerak antara perairan dan daratan, sering muncul ke permukaan air untuk bernapas atau berjemur guna menghemat energi dan mengurangi panas berlebih. Peningkatan suhu air dapat menurunkan konsentrasi oksigen terlarut, memaksa buaya lebih sering muncul ke permukaan. Selain itu, kerusakan ekosistem alami dan berkurangnya ketersediaan pakan akibat alih fungsi lahan menjadi pemukiman, industri, atau pertanian, serta pencemaran air, juga dapat mendorong buaya mencari makan di area yang lebih dekat dengan aktivitas manusia. Ombudsman RI menyoroti bahwa konflik antara manusia dan buaya muara di Indonesia kerap bersifat reaktif, dan 60 persen kasus konflik di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terjadi di area pertambangan, menunjukkan peran aktivitas manusia sebagai pemicu dominan. Buaya muara sendiri merupakan satwa dilindungi berdasarkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1990.

Implikasi dari seringnya kemunculan buaya di dekat area padat penduduk seperti SMAN 5 Depok sangat signifikan. Ancaman terhadap keselamatan siswa dan warga sekitar menjadi nyata, menimbulkan rasa cemas yang terus-menerus. Diperlukan respons yang lebih proaktif dan terkoordinasi dari otoritas terkait, termasuk Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, untuk melakukan penanganan dan edukasi masyarakat. BBKSDA Jawa Barat memiliki layanan pengaduan masyarakat untuk konflik satwa liar dan telah menerima penyerahan satwa liar dilindungi sebelumnya. Namun, tantangan evakuasi buaya, terutama yang berukuran besar, membutuhkan keahlian khusus. Konflik buaya-manusia memerlukan pendekatan preventif, edukatif, dan partisipatif, melibatkan layanan informasi, respons cepat, tata kelola ruang, dan pembentukan satuan tugas kolaboratif untuk menjamin keamanan warga sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan hidup. Masyarakat diimbau untuk berhati-hati dan memasang tanda peringatan di sekitar lokasi kemunculan buaya.