:strip_icc()/kly-media-production/medias/5037697/original/088669300_1733404304-20241205_190620.jpg)
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Kamis, 25 Desember 2025, mengeluarkan peringatan dini akan potensi gelombang tinggi mencapai 2,5 meter di berbagai perairan Lampung, termasuk Selat Sunda bagian selatan, yang berisiko signifikan mengganggu keselamatan pelayaran dan aktivitas masyarakat pesisir hingga 28 Desember 2025. Peringatan ini datang di tengah periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) ketika lalu lintas laut cenderung padat, memperburuk tantangan operasional di salah satu jalur pelayaran tersibuk di Indonesia.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas IV Maritim Lampung, Meldisa, menjelaskan bahwa kondisi gelombang tinggi ini dipicu oleh pola angin signifikan yang bergerak dari barat daya hingga barat laut dengan kecepatan antara 2 hingga 25 knot di wilayah perairan Lampung. Senada, Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Panjang, Amalia Khoirunnisa, menyebut kecepatan angin tertinggi terpantau di Perairan Barat Lampung, Selat Sunda Selatan Lampung, Perairan Teluk Lampung bagian selatan, serta Perairan Timur Lampung. Sejak 23 Desember 2025, BMKG juga memantau pembentukan Siklon Tropis GRANT di Samudra Hindia barat daya Lampung, sekitar 1.000 km dari Tanjung Karang, yang meskipun bergerak menjauhi Indonesia, masih memberikan dampak tidak langsung berupa peningkatan tinggi gelombang laut di pesisir selatan Indonesia, termasuk perairan barat Lampung dan Selat Sunda bagian selatan. Siklon Tropis GRANT saat ini berada pada kategori 1 dengan kecepatan angin maksimum 35 knot (65 km/jam) dan diperkirakan akan menguat menjadi kategori 2 dalam 24 jam ke depan.
Ancaman gelombang tinggi ini membawa dampak serius bagi berbagai jenis kapal. Perahu nelayan sangat berisiko apabila kecepatan angin mencapai 15 knot disertai tinggi gelombang 1,25 meter. Sementara itu, kapal tongkang berpotensi terdampak pada kecepatan angin 16 knot dengan tinggi gelombang 1,5 meter, dan kapal feri memerlukan kewaspadaan ekstra jika angin melebihi 21 knot dengan gelombang di atas 2,5 meter. Kapal kargo dan kapal pesiar bahkan dapat terancam oleh angin lebih dari 27 knot dan gelombang di atas 4 meter.
Lintasan penyeberangan Merak-Bakauheni di Selat Sunda, yang menjadi urat nadi transportasi antara Jawa dan Sumatera, menjadi salah satu area paling rentan terhadap gangguan cuaca ekstrem ini. Direktur Utama ASDP, Heru Widodo, pada 20 Desember 2025, telah mengimbau seluruh pengguna jasa penyeberangan untuk meningkatkan kewaspadaan, mengingat Selat Sunda dipengaruhi angin dari sektor Selatan–Barat dengan kecepatan 10–25 knot dan tinggi gelombang berkisar 1,2–1,5 meter. Kondisi serupa pernah terjadi pada Desember 2024, di mana hujan angin disertai gelombang tinggi mengganggu aktivitas penyeberangan Merak-Bakauheni, menyebabkan kapal-kapal membutuhkan waktu lebih lama untuk bersandar dan bongkar muat.
Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) turut mengambil langkah mitigasi. Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub, Aan Suhanan, pada 21 Desember 2025, menyatakan bahwa cuaca ekstrem menyebabkan kesulitan sandar kapal, sehingga bongkar muat tidak dapat berjalan optimal dan memicu penumpukan kendaraan di Pelabuhan Merak. Dalam mengatasi kepadatan ini, Ditjen Perhubungan Darat bekerja sama dengan Kepolisian, Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Banten, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Banten, serta PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), dengan mengoptimalkan penerapan sistem penundaan (delaying system), zona penyangga (buffer zone), dan penyekatan kendaraan. Penambahan kapal berkapasitas besar di setiap dermaga juga telah dilakukan sejak 18 Desember 2025. BMKG sendiri telah menyiapkan pos pemantauan cuaca Nataru di sejumlah dermaga bersama KSOP Merak untuk meminimalkan risiko operasional, secara real-time memonitor gelombang pasang dan dinamika laut.
Kepala BMKG Maritim Panjang, Tarjono, sebelumnya pada 15 Desember 2025, telah mengimbau masyarakat untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG dan mematuhi arahan mitigasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. Kondisi ini menggarisbawahi urgensi adaptasi berkelanjutan terhadap pola cuaca yang kian dinamis, terutama di wilayah maritim yang vital bagi perekonomian dan mobilitas regional Sumatera.