Balai Taman Nasional Tambora (BTNT) secara resmi menutup seluruh jalur pendakian Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), mulai Sabtu, 28 Desember 2025, hingga batas waktu yang belum ditentukan. Keputusan ini diambil sebagai langkah mitigasi risiko bencana hidrometeorologi dan upaya pemulihan ekosistem alami kawasan.
Kepala Balai Taman Nasional Tambora, Abdul Azis Bakry, menjelaskan bahwa penutupan ini didasarkan pada rekomendasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memprakirakan kondisi cuaca ekstrem di wilayah Kabupaten Dompu dan sekitarnya, khususnya di Taman Nasional Tambora, dengan potensi curah hujan tinggi, angin kencang, dan petir selama periode Desember 2025 hingga Februari 2026. "Penutupan sementara ini kami lakukan demi keselamatan seluruh pihak, baik pengunjung, porter, pemandu wisata, maupun petugas lapangan," tulis Abdul Azis Bakry dalam siaran persnya pada Kamis, 25 Desember 2025. Ia menambahkan bahwa kebijakan ini juga bertujuan memberikan kesempatan bagi ekosistem hayati di kawasan Taman Nasional Tambora untuk melakukan pemulihan secara alami dari tekanan aktivitas wisata.
Penutupan ini mencakup seluruh pintu masuk dan jalur pendakian resmi, namun tidak berlaku untuk objek wisata non-pendakian seperti Air Terjun Oi Marai di Resor Kawinda To'i dan Sanctuary Rusa Timor di Pintu Masuk Doroncanga, yang tetap dibuka untuk pengunjung. Pihak Balai akan terus memantau kondisi lapangan dan akan mengumumkan pembukaan kembali jalur pendakian setelah kondisi jalur dan cuaca dinyatakan benar-benar aman.
Penutupan jalur pendakian gunung di Indonesia, khususnya di NTB, bukan merupakan kejadian baru. Sebelumnya, Balai Taman Nasional Tambora juga pernah menutup jalur pendakian pada awal Januari 2023 karena kondisi cuaca ekstrem, dan penutupan serupa juga terjadi hingga April 2025 karena cuaca yang belum kondusif. Gunung Rinjani di Lombok juga akan ditutup total mulai 1 Januari 2026 hingga 31 Maret 2026, dengan alasan serupa, yaitu mitigasi risiko bencana hidrometeorologi dan pemulihan ekosistem. Pada Juli 2025, jalur pendakian Rinjani juga sempat ditutup total menyusul insiden jatuhnya pendaki asing.
Taman Nasional Gunung Tambora, yang secara administratif terletak di Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu, NTB, diresmikan sebagai Taman Nasional pada 11 April 2015 oleh Presiden Joko Widodo, bertepatan dengan peringatan 200 tahun letusan dahsyat gunung tersebut. Letusan Tambora pada 1815 tercatat sebagai salah satu letusan vulkanik terbesar dalam sejarah modern dengan Indeks Daya Ledak Vulkanik (VEI) 7, yang berdampak pada perubahan iklim global dan puluhan ribu korban jiwa. Kawasan ini juga telah ditetapkan sebagai Geopark Nasional pada 20 November 2017.
Kunjungan wisatawan ke Taman Nasional Tambora menunjukkan tren positif, dengan total 10.611 wisatawan tercatat sepanjang Januari hingga November 2025, dan proyeksi mencapai 11.600-12.000 pengunjung hingga akhir tahun 2025. Jalur Pancasila menjadi pintu masuk favorit dengan 4.543 kunjungan, diikuti Kawinda Toi/Oimarai dengan 4.111 kunjungan. Namun, pihak BTNT juga telah bertindak tegas menutup jalur-jalur pendakian ilegal pada Oktober 2025 yang kerap digunakan tanpa izin, termasuk oleh peneliti asing, demi menjaga kelestarian ekosistem dan menegakkan hukum.
Penutupan ini tentu akan berdampak pada sektor pariwisata lokal, termasuk para pemandu, porter, dan usaha kecil yang bergantung pada kunjungan pendaki. Namun, fokus pada keselamatan pengunjung dan pemulihan ekosistem jangka panjang diharapkan dapat menjaga keberlanjutan daya tarik Gunung Tambora sebagai destinasi wisata alam. Pihak Balai Taman Nasional Tambora berharap masyarakat dan calon pengunjung dapat memaklumi kebijakan ini demi kebaikan dan keselamatan bersama, serta demi kelestarian kawasan.