:strip_icc()/kly-media-production/medias/5427781/original/052169100_1764417918-Menekraf_Teuku_Riefky_Harsya.jpg)
Menteri Ekonomi Kreatif (Menekraf) Teuku Riefky Harsya menyampaikan harapannya agar Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) Content Market dapat terus berkontribusi dalam membawa ekosistem film nasional mendunia. Pernyataan ini disampaikannya dalam pembukaan resmi JAFF Content Market 2025 yang berlangsung di Jogja Expo Center (JEC), Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai 29 November hingga 1 Desember 2025.
Riefky menekankan bahwa JAFF Content Market, yang kini memasuki tahun kedua penyelenggaraannya, merupakan platform strategis untuk menjembatani kekayaan intelektual (IP) lokal dengan industri film, animasi, dan serial yang tengah berkembang pesat di Indonesia. Ia mengapresiasi konsistensi JAFF selama dua dekade dalam menciptakan ruang pertemuan bagi kreator, produser, investor, hingga pelaku industri pendukung. "Kami sangat mengapresiasi apa yang dilakukan oleh JAFF Festival selama 20 tahun dan JAFF Market, ini tahun yang kedua dan ini merupakan platform yang sangat membantu ekosistem film nasional, apakah itu film animasi maupun series," ujar Riefky.
Menurut Riefky, kehadiran platform khusus konten IP seperti JAFF Market selaras dengan tujuan pemerintah dalam memperkuat pertumbuhan industri film nasional yang kini menunjukkan peningkatan signifikan. Kementerian Ekonomi Kreatif memberikan dukungan penuh agar nilai ekonomi kekayaan intelektual dapat terus meningkat. Ia juga menyebut bahwa pertumbuhan industri kreatif, termasuk film, diharapkan dapat membuka lapangan kerja berkualitas, sejalan dengan Asta Cita ke-3 Presiden Prabowo Subianto tentang penciptaan lapangan kerja berkualitas melalui sektor kreatif. Industri kreatif Indonesia dinilai mampu bersaing dengan negara maju lainnya, dan JAFF Content Market menjadi peluang penting untuk memaksimalkan potensi tersebut.
Pada penyelenggaraan JAFF Market 2025 ini, Kementerian Ekonomi Kreatif menghadirkan sepuluh karya kreator Indonesia dalam program Content Market untuk dipertemukan dengan calon mitra internasional. Beberapa di antaranya adalah Amurva, Elang Hitam, dan Journal of Terror. Acara ini juga ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) untuk pengembangan dua IP nasional, yaitu Tikam Samurai dengan BushiBros dan Locust dengan LMN VFX, yang menunjukkan daya saing global IP Indonesia. Tahun sebelumnya, JAFF Market 2024 mencatat capaian signifikan dengan menarik lebih dari 6.723 pengunjung, menghadirkan 151 stan pameran, menyelenggarakan 1.767 pertemuan bisnis, serta menghasilkan 61 penandatanganan MoU, dengan total dampak ekonomi mencapai Rp36 miliar dan nilai kontrak kerja sama Rp18,5 miliar.
Meskipun industri film tumbuh pesat, Riefky mengakui adanya tantangan seperti pendanaan, keterbatasan layar bioskop, dan isu pembajakan. Ia menegaskan komitmen pemerintah dan komunitas untuk terus mencari solusi. Kemenekraf juga hadir dalam Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2025, yang berlangsung hingga 6 Desember di Empire XXI Yogyakarta, untuk memperkuat kapasitas pelaku subsektor film, animasi, dan video, serta mempublikasikan jadwal coaching clinic sebagai bagian dari dukungan ekosistem. Melalui JAFF Content Market, diharapkan terjadi kolaborasi regional dan global yang melahirkan karya-karya baru serta memperkuat ekosistem film, animasi, dan video Indonesia sebagai motor pertumbuhan ekonomi kreatif yang berdaya saing.