:strip_icc()/kly-media-production/medias/5417712/original/030298700_1763543911-gunung_semeru.png)
Gunung Semeru di Jawa Timur kembali menjadi sorotan setelah status aktivitasnya diturunkan dari Level IV (Awas) menjadi Level III (Siaga) pada Sabtu, 29 November 2025, pukul 09.00 WIB. Penurunan status ini dilakukan oleh Badan Geologi setelah evaluasi terpadu menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik cenderung stabil dan tidak ada indikasi suplai magma baru dari kedalaman. Meskipun demikian, ancaman awan panas guguran dan potensi lahar dingin masih menjadi bahaya utama, terutama seiring meningkatnya intensitas hujan.
Sebelumnya, Gunung Semeru mengalami peningkatan aktivitas signifikan pada 19 November 2025, dengan erupsi awan panas yang menyebabkan statusnya dinaikkan menjadi Level III (Siaga) pada pukul 16.00 WIB, kemudian menjadi Level IV (Awas) pada pukul 17.00 WIB di hari yang sama. Sepanjang minggu terakhir ini, Gunung Semeru tercatat telah erupsi sebanyak 51 kali. Bahkan, pada pengamatan 29 November 2025 antara pukul 18.00-23.59 WIB, saat status masih Level IV (Awas), terjadi 37 kali gempa letusan/erupsi.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dengan tegas mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara, di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 20 kilometer dari puncak (pusat erupsi). Di luar jarak tersebut, masyarakat juga dilarang beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar. Selain itu, aktivitas tidak diperbolehkan dalam radius 8 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar.
Polda Jawa Timur juga telah mengimbau warga agar tetap waspada terhadap potensi letusan sekunder dan bahaya lahar dingin, terutama saat melintasi sekitar Jembatan Besuk Koboan (Gladak Perak) di Desa Sumberwuluh, Kecamatan Pronojiwo, Lumajang, mengingat kondisi tanah yang labil dan fluktuasi aktivitas vulkanik. Personel Polri disiagakan di titik rawan untuk memberikan peringatan dini dan mengatur lalu lintas.
Selain ancaman fisik, abu vulkanik pasca-erupsi juga menimbulkan risiko kesehatan. Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Kabupaten Lumajang, dr. Rosyidah, meminta warga untuk rutin menggunakan masker guna mencegah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama pada anak-anak, lansia, dan warga dengan penyakit pernapasan kronis. Pemerintah Kabupaten Lumajang bersama tim medis dan petugas lapangan terus memantau kondisi masyarakat di wilayah terdampak dan memastikan ketersediaan masker serta perlengkapan kesehatan di posko pengungsian.
Meskipun statusnya kini Level III (Siaga), Badan Geologi mengingatkan bahwa ancaman utama dalam waktu dekat masih berupa awan panas guguran dan potensi lahar, terutama saat terjadi hujan deras. Masyarakat diminta untuk terus mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan petugas di lapangan guna menjaga keselamatan diri.