
Militer Israel baru-baru ini mengklaim telah menewaskan beberapa pejabat tinggi kelompok Hizbullah dalam serangkaian serangan yang dilancarkan di wilayah Lebanon selatan dan timur. Klaim ini datang di tengah ketegangan yang terus meningkat, meskipun gencatan senjata telah berlaku antara kedua belah pihak sejak November 2024.
Pada 17 November 2025, serangan pesawat nirawak Israel di wilayah Al-Mansouri, Distrik Tyre, Lebanon selatan, dilaporkan menewaskan dua komandan militer Hizbullah. Kantor Berita Nasional Lebanon mengidentifikasi salah satu korban tewas sebagai Mohammed Shoueikh, seorang kepala sekolah di Al-Mansouri. Namun, militer Israel menyebut Shoueikh sebagai tokoh lokal Hizbullah yang mengurus urusan komunikasi keuangan dan militer, mengklaim bahwa aktivitasnya melanggar kesepahaman antara Israel dan Lebanon.
Sebelumnya, pada 10 November, Samir Ali Fakih, seorang anggota senior Hizbullah yang dituduh Israel sebagai penyelundup senjata, tewas dalam serangan di dekat kota Saida, Lebanon selatan. Militer Israel menyatakan bahwa pihaknya telah menewaskan sedikitnya 15 anggota Hizbullah sejak awal November 2025. Pada 3 November, Muhammad Ali Hadid, anggota senior Pasukan Radwan elit Hizbullah, tewas dalam serangan pesawat nirawak Israel di wilayah Nabatieh, Lebanon selatan. Selain itu, pada 1 November, serangan Israel di distrik Kfar Rumman menewaskan lima anggota Hizbullah, termasuk empat anggota Pasukan Radwan dan seorang teknisi. Ratusan warga dilaporkan menghadiri pemakaman mereka di Nabatiyeh pada 2 November 2025.
Pada 24 Oktober 2025, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan telah menyerang dan menewaskan Abbas Hassan Karky, seorang komandan logistik senior markas besar Front Selatan Hizbullah, di daerah Nabatieh, Lebanon selatan. Menurut pernyataan IDF, Karky memimpin upaya untuk membangun kembali kemampuan tempur Hizbullah dan bertanggung jawab atas pemindahan serta penyimpanan senjata di Lebanon selatan. Kantor berita nasional Lebanon juga melaporkan serangan udara Israel menargetkan sebuah kendaraan di jalanan Lebanon selatan yang menewaskan Karky.
Serangan-serangan ini terjadi meskipun adanya gencatan senjata yang disepakati pada 27 November 2024, yang seharusnya menghentikan sebagian besar bentrokan yang dipicu oleh perang Gaza. Namun, Israel terus melakukan serangan sesekali di Lebanon, dengan alasan operasi melawan "ancaman" Hizbullah dan tetap mempertahankan pasukannya di lima posisi utama di sepanjang perbatasan Lebanon.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa Israel telah melancarkan lebih dari 5.000 serangan di Lebanon sejak awal tahun 2025, mengakibatkan 309 orang tewas dan 598 orang terluka, meskipun ada perjanjian gencatan senjata. Pemerintah Lebanon, didukung oleh tekanan internasional, berupaya melucuti senjata kelompok-kelompok non-negara, termasuk faksi Palestina dan Hizbullah. Situasi ini semakin memperparah kondisi kemanusiaan, dengan ratusan ribu orang di Lebanon terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat serangan yang meluas. Selain itu, pada 20 November 2025, militer Israel juga mengklaim telah menghancurkan sejumlah gudang senjata unit rudal Hizbullah di Lebanon selatan, yang disebut Israel berada di tengah area permukiman warga sipil, menuduh Hizbullah menggunakan penduduk setempat sebagai tameng manusia. Pada 18 November 2025, serangan militer Israel terhadap kamp pengungsi Palestina Ain al-Helweh dilaporkan menewaskan sedikitnya 13 orang, meskipun Israel mengklaim menargetkan "kompleks pelatihan Hamas," yang dibantah keras oleh Hamas.