:strip_icc()/kly-media-production/medias/5346804/original/075804500_1757650240-Kawasan_Padat_Penduduk.jpg)
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui laporan terbaru "World Urbanization Prospects 2025: Summary of Results" telah menobatkan Jakarta sebagai kawasan metropolitan terpadat di dunia, dengan proyeksi populasi mencapai 42 juta jiwa pada tahun 2025, menggeser posisi Tokyo yang sebelumnya memimpin daftar ini. Laporan yang dirilis oleh Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial PBB pada November 2025 ini mencatat bahwa Jakarta kini menjadi pusat urbanisasi global, diikuti oleh Dhaka, Bangladesh, dan Tokyo, Jepang.
Menanggapi laporan tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memberikan klarifikasi. Staf Khusus Gubernur Jakarta Bidang Komunikasi Publik, Chico Hakim, menjelaskan bahwa angka 42 juta jiwa yang disebut PBB tidak merujuk pada jumlah penduduk resmi atau pemilik Kartu Tanda Penduduk (KTP) Jakarta. Menurut Chico Hakim, angka tersebut dihitung berdasarkan konsep "degree of urbanization" atau populasi fungsional (de facto), yakni metode yang mengukur populasi berdasarkan aktivitas harian di suatu kawasan metropolitan.
Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) DKI Jakarta, Denny Wahyu Haryanto, turut mempertegas bahwa jumlah penduduk resmi DKI Jakarta, berdasarkan Data Kependudukan Bersih Semester I Tahun 2025 yang bersumber dari Ditjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri, adalah sekitar 11.010.514 jiwa. Angka ini jauh berbeda dengan proyeksi PBB.
Perbedaan angka yang signifikan ini disebabkan oleh metode penghitungan yang berbeda. Angka 42 juta jiwa dari PBB mencakup jutaan orang yang setiap hari beraktivitas di Jakarta sebagai pusat ekonomi, pendidikan, dan layanan publik. Mereka berasal dari delapan wilayah penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek). Arus keluar-masuk penduduk komuter inilah yang menciptakan kesan kepadatan yang jauh lebih tinggi dari jumlah penduduk resminya.
Chico Hakim menambahkan, jika menggunakan definisi berbasis negara (country-specific) seperti yang berlaku dalam revisi "World Urbanization Prospects (WUP) 2018", jumlah penduduk Jakarta diperkirakan hanya sekitar 12 juta jiwa pada tahun 2025. Dengan angka tersebut, Jakarta justru akan berada di peringkat ke-30 kota terpadat dunia.
Laporan PBB juga menyoroti percepatan urbanisasi global, di mana kawasan perkotaan kini menampung 45 persen dari total populasi global yang mencapai 8,2 miliar jiwa. Jumlah megakota, yaitu kawasan perkotaan dengan 10 juta penduduk atau lebih, telah meningkat empat kali lipat dari delapan pada tahun 1975 menjadi 33 pada tahun 2025, dengan lebih dari setengahnya berada di Asia. Meskipun laporan PBB mencerminkan tantangan urbanisasi dan mobilitas, Pemprov DKI Jakarta menekankan pentingnya memahami perbedaan antara populasi resmi dan populasi fungsional untuk perencanaan kota yang akurat.