:strip_icc()/kly-media-production/medias/5428315/original/080049100_1764492434-potensi_hujan.jpg)
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Tjilik Riwut Palangka Raya kembali mengeluarkan peringatan dini potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) hingga sepekan ke depan. Peringatan ini disampaikan sehubungan dengan dinamika atmosfer yang berpotensi memicu cuaca ekstrem, termasuk hujan lebat disertai petir atau kilat serta angin kencang. Prakirawan BMKG Tjilik Riwut Palangka Raya, Ika Priti, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi.
Sejumlah wilayah yang perlu mewaspadai kondisi ini meliputi seluruh 13 kabupaten dan 1 kota di Kalteng, yaitu Kabupaten Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur, Sukamara, Lamandau, Seruyan, Katingan, Gunung Mas, Murung Raya, Barito Utara, Barito Selatan, Barito Timur, Kapuas, Pulang Pisau, dan Kota Palangka Raya. Secara lebih spesifik, pada hari Minggu, 30 November 2025, pukul 04:30 WIB, peringatan dini juga dikeluarkan untuk Kabupaten Murung Raya, khususnya di wilayah Barito Tuhup Raya, Murung, Tanah Siang, Laung Tuhup, Permata Intan, Sumber Barito, Tanah Siang Selatan, Sungai Babuat, Seribu Riam, dan Uut Murung. Potensi hujan sedang hingga lebat ini juga meluas ke Kabupaten Kapuas, mencakup Kapuas Tengah, Kapuas Hulu, Pasak Talawang, dan Mandau Talawang, serta Kabupaten Barito Utara di Teweh Timur, Teweh Tengah, Lahei, Teweh Baru, Teweh Selatan, dan Lahei Barat. Kondisi ini diperkirakan dapat berlangsung hingga pukul 06:30 WIB.
BMKG menjelaskan bahwa potensi cuaca ekstrem ini dipicu oleh beberapa faktor, antara lain adanya daerah belokan dan perlambatan kecepatan angin (konvergensi) di wilayah Kalteng. Selain itu, anomali suhu muka laut (SST) yang cukup hangat di perairan sekitar Kalimantan meningkatkan potensi penguapan dan penambahan massa uap air di atmosfer. Kondisi ini diperkuat oleh kelembaban udara yang cukup basah dan labilitas lokal yang kuat, mendukung pembentukan awan-awan konvektif seperti Cumulonimbus (CB) yang kerap menandai hujan lebat disertai angin kencang dan sambaran petir.
Dampak yang ditimbulkan dari hujan lebat ini diperkirakan berupa genangan air, banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan pohon tumbang. Masyarakat diimbau untuk menjauhi papan reklame atau baliho, pohon besar, serta tidak berada di lapangan atau tempat terbuka untuk menghindari sambaran petir. Penting juga bagi warga untuk menjaga kebersihan lingkungan guna memastikan saluran drainase tidak tersumbat dan mengurangi risiko banjir. BMKG secara berkala terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan pihak terkait untuk menyampaikan potensi dan perkembangan cuaca terbaru guna antisipasi bencana. Masyarakat dapat memantau informasi perkembangan cuaca terkini melalui platform resmi BMKG.